Al-Qasim: Derita Panjang Cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq Semasa Kecil
Rabu, 23 September 2020 - 13:35 WIB
Di hari raya, bertambahlah kasih sayang dan hadiah-hadiahnya untuk kami. Di setiap senja di hari Arafah, beliau memotong rambutku, memandikan aku dan adik perempuanku. Pagi harinya kami diberi baju baru kemudian aku disuruh ke masjid untuk salat ‘ied. Setelah selesai, aku dikumpulkan bersama adikku kemudian kami makan daging udhiyah. (Baca juga: Dzakhwan bin Kaisan: Si Burung Merak yang Tak Terbeli )
Suatu hari beliau memakaikan baju berwarna putih untuk kami. Kemudian aku didudukkan di pangkuannya yang satu sedangkan adikku di pangkuannya yang lain. Paman Abdurrahman datang atas undangannya. Lalu bibi Aisyah mulai berbicara, mulai dengan pujian kepada Allah, sungguh aku belum pernah mendengar sebelum dan sesudahnya seorangpun baik laki-laki maupun perempuan yang lebih fasih lisannya dan lebih bagus tutur katanya dari beliau. (Baca juga: Kisah Mengharukan Detik-Detik Jelang Wafatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz )
Beliau berkata kepada paman, “Wahai saudaraku, aku melihat sepertinya anda menjauh dari saya sejak saya mengambil dan merawat kedua anak ini. Demi Allah, saya melakukannya bukan karena saya lancang kepada Anda, bukan karena saya menaruh buruksangka kepada Anda dan bukan pula lantaran saya tidak percaya bahwa Anda dapat memenuhi hak keduanya." (Baca juga: Surat Umar bin Abdul Aziz yang Menghebohkan Kalangan Non-Islam )
"Hanya saja Anda memiliki istri lebih dari satu, sedangkan ketika itu kedua anak kecil ini belum bisa mengurus dirinya sendiri. Maka saya khawatir bila keduanya dalam keadaan yang tidak disukai dan tidak sedap dalam pandangan istri-istrimu. Sehingga saya merasa lebih berhak untuk memenuhi hak keduanya ketika itu. Namun sekarang keduanya sudah beranjak remaja dan telah mampu mengurus dirinya sendiri, maka bawalah mereka dan aku serahkan tanggung jawabnya kepada Anda.” (Baca juga: Umar bin Abdul Aziz Berubah Menjadi Kurus Saat Jabat Khalifah )
Begitulah, akhirnya pamanku memboyong kami ke rumahnya.
Hanya saja, menurut Abdurrahman Ra’at Basya, hati anak keturunan Abu Bakar ini masih terpaut dengan rumah bibinya, Aisyah. Rindu terhadap lantai rumah yang bercamput dengan kesejukan nubuwat. Dia berkembang dan terpelihara oleh perawan pemilik rumah itu, dia kenyang dalam kasih sayangnya. Oleh sebab itu, dia membagi waktunya antara rumah bibi dan pamannya. (Baca juga: Kisah Umar Bin Abdul Aziz Ketika Menahan Marah )
Rumah bibinya betul-betul berkesan di hatinya. Ligkungan yang sejuk itu menghidupkan sanubari selama hayatnya. Simaklah kesan-kesan yang melekat di hatinya.
“Suatu hari aku berkata kepada bibiku Aisyah, “Wahai ibu, tunjukkan kepadaku kubur Nabi Muhammad saw. dan kedua sahabatnya, aku ingin sekali melihatnya.”
Baca juga: Pemerintah Harus Segera Keluarkan Perppu Pilkada di Tengah Pandemi
Tiga kubur itu berada di dalam rumahnya, ditutup dengan sesuatu untuk menghalangi pandangan. Beliau memperlihatkan untuk kami tiga buah makam yang tidak digundukkan dan tidak pula dicekungkan. Ketiganya ditaburi krikil merah seperti yang ditaburkan di halaman masjid.
Saya bertanya, “yang mana makam Rasulullah?” Beliau menunjuk salah satu darinya, “Ini.” Bersamaan dengan itu, dua butir air mata bergulir di pipinya, tetapi segera di sekanya agar aku tak melihatnya. Makam Nabi saw. itu agak lebih maju dari makan kedua sahabatnya.
Baca juga: Ngotot Lanjutkan Pilkada 2020, Pemerintah dan KPU Dinilai Tutup Mata
Saya bertanya lagi, “Lalu yang mana makam kakekku, Abu Bakar?” Sambil menunjuk satu kubur beliau berkata, “Yang ini.” Kulihat makam kakekku sejajar dengan letak bahu Rasulullah saw. aku berkata, “Yang ini makam Umar?” beliau menjawab, “Benar.”
Suatu hari beliau memakaikan baju berwarna putih untuk kami. Kemudian aku didudukkan di pangkuannya yang satu sedangkan adikku di pangkuannya yang lain. Paman Abdurrahman datang atas undangannya. Lalu bibi Aisyah mulai berbicara, mulai dengan pujian kepada Allah, sungguh aku belum pernah mendengar sebelum dan sesudahnya seorangpun baik laki-laki maupun perempuan yang lebih fasih lisannya dan lebih bagus tutur katanya dari beliau. (Baca juga: Kisah Mengharukan Detik-Detik Jelang Wafatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz )
Beliau berkata kepada paman, “Wahai saudaraku, aku melihat sepertinya anda menjauh dari saya sejak saya mengambil dan merawat kedua anak ini. Demi Allah, saya melakukannya bukan karena saya lancang kepada Anda, bukan karena saya menaruh buruksangka kepada Anda dan bukan pula lantaran saya tidak percaya bahwa Anda dapat memenuhi hak keduanya." (Baca juga: Surat Umar bin Abdul Aziz yang Menghebohkan Kalangan Non-Islam )
"Hanya saja Anda memiliki istri lebih dari satu, sedangkan ketika itu kedua anak kecil ini belum bisa mengurus dirinya sendiri. Maka saya khawatir bila keduanya dalam keadaan yang tidak disukai dan tidak sedap dalam pandangan istri-istrimu. Sehingga saya merasa lebih berhak untuk memenuhi hak keduanya ketika itu. Namun sekarang keduanya sudah beranjak remaja dan telah mampu mengurus dirinya sendiri, maka bawalah mereka dan aku serahkan tanggung jawabnya kepada Anda.” (Baca juga: Umar bin Abdul Aziz Berubah Menjadi Kurus Saat Jabat Khalifah )
Begitulah, akhirnya pamanku memboyong kami ke rumahnya.
Hanya saja, menurut Abdurrahman Ra’at Basya, hati anak keturunan Abu Bakar ini masih terpaut dengan rumah bibinya, Aisyah. Rindu terhadap lantai rumah yang bercamput dengan kesejukan nubuwat. Dia berkembang dan terpelihara oleh perawan pemilik rumah itu, dia kenyang dalam kasih sayangnya. Oleh sebab itu, dia membagi waktunya antara rumah bibi dan pamannya. (Baca juga: Kisah Umar Bin Abdul Aziz Ketika Menahan Marah )
Rumah bibinya betul-betul berkesan di hatinya. Ligkungan yang sejuk itu menghidupkan sanubari selama hayatnya. Simaklah kesan-kesan yang melekat di hatinya.
“Suatu hari aku berkata kepada bibiku Aisyah, “Wahai ibu, tunjukkan kepadaku kubur Nabi Muhammad saw. dan kedua sahabatnya, aku ingin sekali melihatnya.”
Baca juga: Pemerintah Harus Segera Keluarkan Perppu Pilkada di Tengah Pandemi
Tiga kubur itu berada di dalam rumahnya, ditutup dengan sesuatu untuk menghalangi pandangan. Beliau memperlihatkan untuk kami tiga buah makam yang tidak digundukkan dan tidak pula dicekungkan. Ketiganya ditaburi krikil merah seperti yang ditaburkan di halaman masjid.
Saya bertanya, “yang mana makam Rasulullah?” Beliau menunjuk salah satu darinya, “Ini.” Bersamaan dengan itu, dua butir air mata bergulir di pipinya, tetapi segera di sekanya agar aku tak melihatnya. Makam Nabi saw. itu agak lebih maju dari makan kedua sahabatnya.
Baca juga: Ngotot Lanjutkan Pilkada 2020, Pemerintah dan KPU Dinilai Tutup Mata
Saya bertanya lagi, “Lalu yang mana makam kakekku, Abu Bakar?” Sambil menunjuk satu kubur beliau berkata, “Yang ini.” Kulihat makam kakekku sejajar dengan letak bahu Rasulullah saw. aku berkata, “Yang ini makam Umar?” beliau menjawab, “Benar.”
Lihat Juga :