Kisah Pakar Tafsir Ulama Al-Azhar Membersihkan Toilet

Minggu, 27 September 2020 - 09:06 WIB
Syeikh Sya'rawi hanya tersenyum. Agar si marbot tak merasa bersalah dengan tindakan yang beliau lakukan Syeikh Sya'rawi mengatakan: "Bukan salah Anda. Anda tidak usah merasa sungkan. Saya melakukan ini untuk menebus kesalahan saya."

Tadi, ketika saya sedang mengajar jamaah yang sedemikian banyaknya, saya terbesit bahwa saya ini tampil sebagai seorang guru bagi mereka, saya merasa lebih berilmu, meski itu hanya sebatas lintasan persekian detik saja, saya langsung beristighfar.

Saya tidak akan membiarkan ada sedikit pun rasa kesombongan boleh terlintas dalam hati saya. Agar menyadarkan nafsu saya bahwa saya ini sesungguhnya bukan siapa-siapa, saya tidak memiliki kemuliaan, maka saya didik nafsu saya agar dia mau melakukan hal yang dianggapnya rendahan dan hina ini. Inilah cara saya mendidik hati saya." Demikian kurang lebih jawaban menggetarkan dari seorang ulama sufi terkemuka abad ini.

Begitulah para ulama menjaga dan mendidik hati mereka. Pantas saja, Allah 'Azza wa Jalla memuliakan kedudukan mereka, Allah harumkan nama mereka, Allah berkahi ilmu mereka dan orang yang mempelajari kitab mereka sesudah mereka wafat. Meski ratusan tahun lamanya, tetapi tetap melimpah keberkahannya.

Di hati dan jiwa mereka terjaga dari sifat kesombongan dan merasa diri berilmu, meski itu hanya sekadar lintasan rasa. Allahu Akbar! Semoga kisah ini menjadi hikmah dan iktibar bagi kita. (Baca Juga: Kisah Karomah Syeikh Sya'rawy dan Peristiwa Unik Jelang Wafatnya )
(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!