Inilah Etika Persahabatan Sesuai Syariat

Minggu, 27 September 2020 - 18:16 WIB
(Baca juga : Sebanyak 3,2 Juta Spesimen Diperiksa untuk Temukan Kasus Covid-19 )

Ada seorang yang mencintai orang lain dikarenakan fisiknya yang cantik, ada pula yang dikarenakan saudaranya tersebut adalah sebuah media untuk mendapatkan satu tujuan yang berkaitan dengan kepentingan duniawi , atau karena ia menjadi media untuk mencapai kebhagiaan di akhirat.

Ada pula orang yang mencintai saudaranya hanya karena Allah, tidak bertujuan mengejar keuntungan dunia maupun akhirat, tetapi memang benar-benar mencintainya dikarenakan posisinya sebagai hamba Allah. Barangsiapa yang mencintai sesuatu karena (demi kebaikan) saudaranya, maka inilah yang disebut dengan persaudaraan karena Allah, sebagaimana yang dikatakan Majnun bin 'Amir dalam sya'irnya:

Aku melintasi rumah Laila, lalu aku cium dindingnya yang ini dan yang itu

Bukan rasa cinta kepada rumah itu yang menggelayuti hatiku,

tetapi rasa cinta kepada penghuninyalah yang membuatku berbuat seperti itu

(Baca juga : Menko Airlangga: Batang Bakal Produksi 1 Juta Ton Alumina )

Sebagaimana kita diperintahkan untuk mencintai karena Allah, kita juga diperintahkan untuk membenci karena-Nya. Barangsiapa yang mencintai seseorang karena ia adalah kekasih dari kekasihnya (maksudnya kekasih Allah) dan taat kepada-Nya, maka ia pun harus membenci musuhnya karena mereka durhaka kepada-Nya.

Etika Persahabatan

Dalam persahabatan terdapat etika dan hak yang harus dijaga. Imam al-Ghazali menjelaskan pentingnya etika yang harus diperhatikan dalam menjaga hubungan persahabatan ini, di antaranya:

1. Seyogyanya seseorang memberikan sebagian hartanya kepada temannya

Dalam hal ini, imam al-Ghazali membagi persahabatan dalam tiga tingkatan : tingkatan paling rendah adalah orang yang memposisikan sahabatnya seperti seorang pembantu.

(Baca juga : Respons Kang Emil Saat Keluarga Inggit Garnasih Ungkit Janjinya )

Dia akan memberikan harta kepada sahabatnya bila terdapat kelebihan; tingkatan menengah adalah orang yang memperlakukan sahabatnya seperti dia memperlakukan dirinya sendiri. Mereka tidak membedakan sahabat dengan dirinya sendiri

Sementara tingkatan paling tinggi adalah orang yang memosisikan sahabatnya di atas dirinya sendiri. Dia rela mengorbankan hartanya untuk sahabatnya.

2. Membantu sahabat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sebelum dia meminta bantuan

Seseorang mesti mengetahui bagaimana kondisi temannya, terutama kondisi ekonomi keluarga atau dirinya sendiri. Supaya bila terdapat kesusahan kita dapat membantu mereka tanpa harus diminta terlebih dahulu.

(Baca juga : Pesangon PHK Bakal Diubah dalam Omnibus Law Ciptaker Demi Investor )

3. Tidak melakukan sesuatu yang dibencinya

Tentu tidak semua orang suka dengan perilaku dan karakter kita. Alangkah baiknya pada saat bertemu teman, kita tidak melakukan hal-hal yang tidak disukai teman.
Halaman :
Lihat Juga :
Follow
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Hadits of The Day
Dari Aisyah Ummul Mukminin, bahwa ia berkata:  Sudah biasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa beberapa hari, hingga kami mengira bahwa beliau akan berpuasa terus. Namun beliau juga biasa berbuka (tidak puasa) beberapa hari hingga kami mengira bahwa beliau akan tidak puasa terus. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyempurnakan puasanya sebulan penuh, kecuali Ramadhan.  Dan aku juga tidak pernah melihat beliau puasa sunnah dalam sebulan yang lebih banyak daripada puasanya ketika bulan Sya'ban.

(HR. Muslim No. 1956)
Artikel Terkait
Al-Qur'an, Bacalah!
Rekomendasi
Terpopuler
Artikel Terkini More