Kisah Sufi: Keperluan yang Kian Mendesak

Selasa, 05 Mei 2020 - 16:30 WIB
Menteri Pertama menjawab, "Panggang dia hidup-hidup, sebagai peringatan."

Menteri Kedua, yang berbicara sesuai urutannya berkata, "Potong-potong tubuhnya, pisah-pisahkan anggota badannya."

Menteri Ketiga berkata, "Sediakan kebutuhan hidup orang itu, agar ia tidak lagi mau menipu demi kelangsungan hidup keluarganya."

Sementara pembicaraan itu berlangsung, seorang bijaksana yang sudah sangat tua memasuki ruang pertemuan. “Segera orang mengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyi dalam dirinya," ujarnya.

"Apa maksudmu?" tanya Raja.

"Maksudku, Menteri Pertama itu aslinya tukang roti, jadi ia berbicara tentang panggang-memanggang. Menteri Kedua dulu tukang daging, jadi ia bicara tentang potong-memotong daging. Menteri Ketiga, yang telah mempelajari ilmu kenegaraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini. Catat dua hal ini. Pertama, Kidir muncul melayani setiap orang sesuai dengan kemampuan orang itu untuk memanfaatkan kedatangannya. Kedua, Bakhtiar, orang ini--yang kuberi nama Baba karena pengorbanannya-telah didesak oleh keputusasaan untuk melakukan tindakan tersebut. Keperluannya semakin mendesak sehingga akupun muncul didepanmu."

Ketika orang-orang itu memperhatikannya, orang tua yang bijaksana itupun lenyap begitu saja. Sesuai dengan yang diperintahkan Kidir. Raja memberikan belanja teratur kepada Bakhtiar.

Menteri Pertama dan kedua dipecat, dan seribu keping uang emas itu dikembalikan ke kas kerajaan oleh Bakhtiar dan istrinya.

Bagaimana Raja bisa bertemu Kidir lagi, dan apa yang terjadi antara keduanya? Itu semua ada dalam dongeng di Dunia Gaib. Konon, Bakhtiar Baba adalah seorang Sufi bijaksana yang hidupnya sangat sederhana dan tak dikenal orang di Korasan, sampai peristiwa yang ada dalam kisah itu terjadi.

Kisah ini, dikatakan juga terjadi atas sejumlah besar Syaih Sufi lain, menggambarkan pengertian tentang terjalinnya keinginan manusia dengan "makhluk" lain.

Kidir merupakan penghubung antara keduanya. Judul ini diambil dari sebuah sajak terkenal karya Jalaludin Rumi: Peralatan baru bagi pemahaman akan ada apabila keperluan menuntutnya. Karenanya, jadikan keperluanmu makin mendesak, sehingga kau bisa mendesakkan pemahamanmu lebih peka lagi. Versi ini diucapkan oleh seorang guru darwis dari Afganistan.
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!