Diturunkannya 320.000 Bala di Bulan Ini, Mitos atau Nyata?
Kamis, 15 Oktober 2020 - 09:21 WIB
Syaikh as-Suhaili, sebagaimana dinukil dalam Kasyf al-Khafâ’ menjelaskan bahwa kenahasan/kesialannya hanya bagi orang yang meyakini bahwa hal itu membawa sial (tasya’um) dan bagi orang yang meyakini tanda-tanda kesialan (tathayyur) berupa kebiasaannya untuk meyakini adanya kesialan melalui tanda-tanda dan meninggalkan ikut Nabi yang meninggalkan keyakinan seperti itu. (Baca juga: Selamat Datang Shafar, Bulan Peperangan dan Pesimisnya Arab Jahiliyah )
Ini adalah sifat orang yang sedikit tawakalnya, maka orang itulah yang tertimpa kesialannya ketika melakukan sesuatu di hari itu.
Firman Allah dalam hadis qudsi bahwa Allah mengikuti prasangka hamba-Nya tentang Dia. Bila seorang hamba meyakini bahwa Allah akan memberinya kecelakaan atau hal negatif, maka boleh jadi Allah akan menuruti pikiran pesimis itu. Sebaliknya bila seorang hamba yakin bahwa Allah akan memberinya kesuksesan dan keselamatan, maka besar kemungkinan Allah akan menuruti harapan positif itu.
Bermasalah
Imam al-Munawi berkata bahwa orang yang menjaga diri di hari Rabu dengan alasan thiyarah (menjadikannya sebagai tanda kesialan) dan meyakini aqidah ahli nujum adalah tindakan yang sangat haram. Sebab, seluruh hari adalah milik Allah Ta'ala, tak bisa memberikan celaka atau manfaat secara independen dan tanpa hal itu maka tak ada kecelakaan atau pun larangan. (Baca juga: Bertambah di Kuwait dan Korsel, Total WNI Positif Covid-19 1.636 )
Siapa yang meyakini adanya tanda-tanda sial (tathayyur), maka kesialan akan mengepungnya. Siapa yang meyakini bahwa tak ada yang dapat memberi kecelakaan atau manfaat kecuali Allah, maka semua hal itu tak berpengaruh baginya.” (al-Ajluni, Kasy al-Khafâ’, Juz I, halaman 19-20)
Jadi, menurut Imam pakar hadis terkemuka itu, hari sial pada dasarnya tak ada. Adanya anggapan bahkan hari tertentu atau kejadian tertentu adalah tanda akan terjadinya kesialan justru akan membuat orang yang meyakininya tertimpa kesialan. Adapun orang yang yakin bahwa hal seperti itu sama sekali tak berpengaruh, maka tak ada sama sekali hari sial atau hal-hal pembawa sial baginya. Dengan kata lain, yang menerima efek kesialan hanya mereka yang percaya tathayyur saja.
Ini menjelaskan kenapa masyarakat perkotaan yang kebanyakan tak mengenal konsep seperti ini menjalani hidupnya dengan normal tanpa terpengaruh hari sial, sedangkan di kalangan masyarakat pedesaan yang masih lekat dengan kepercayaan seperti ini justru banyak ditemukan testimoni kesialan akibat melakukan pantangan di hari sial. (Baca juga: Perintah Tawakkal dalam Ayat-Ayat Al-Qur'an )
Tiga Hal
Rasulullah memang pernah bersabda tentang adanya kesialan pada tiga hal. Hanya, hadis itu harus ditempatkan pada konteksnya. "Tidak ada penularan penyakit dan tidak ada ramalan sial, tapi terdapat kesialan pada tiga: kuda, perempuan, dan rumah." (Muttafaq alaih).
Ini adalah sifat orang yang sedikit tawakalnya, maka orang itulah yang tertimpa kesialannya ketika melakukan sesuatu di hari itu.
Firman Allah dalam hadis qudsi bahwa Allah mengikuti prasangka hamba-Nya tentang Dia. Bila seorang hamba meyakini bahwa Allah akan memberinya kecelakaan atau hal negatif, maka boleh jadi Allah akan menuruti pikiran pesimis itu. Sebaliknya bila seorang hamba yakin bahwa Allah akan memberinya kesuksesan dan keselamatan, maka besar kemungkinan Allah akan menuruti harapan positif itu.
Bermasalah
Imam al-Munawi berkata bahwa orang yang menjaga diri di hari Rabu dengan alasan thiyarah (menjadikannya sebagai tanda kesialan) dan meyakini aqidah ahli nujum adalah tindakan yang sangat haram. Sebab, seluruh hari adalah milik Allah Ta'ala, tak bisa memberikan celaka atau manfaat secara independen dan tanpa hal itu maka tak ada kecelakaan atau pun larangan. (Baca juga: Bertambah di Kuwait dan Korsel, Total WNI Positif Covid-19 1.636 )
Siapa yang meyakini adanya tanda-tanda sial (tathayyur), maka kesialan akan mengepungnya. Siapa yang meyakini bahwa tak ada yang dapat memberi kecelakaan atau manfaat kecuali Allah, maka semua hal itu tak berpengaruh baginya.” (al-Ajluni, Kasy al-Khafâ’, Juz I, halaman 19-20)
Jadi, menurut Imam pakar hadis terkemuka itu, hari sial pada dasarnya tak ada. Adanya anggapan bahkan hari tertentu atau kejadian tertentu adalah tanda akan terjadinya kesialan justru akan membuat orang yang meyakininya tertimpa kesialan. Adapun orang yang yakin bahwa hal seperti itu sama sekali tak berpengaruh, maka tak ada sama sekali hari sial atau hal-hal pembawa sial baginya. Dengan kata lain, yang menerima efek kesialan hanya mereka yang percaya tathayyur saja.
Ini menjelaskan kenapa masyarakat perkotaan yang kebanyakan tak mengenal konsep seperti ini menjalani hidupnya dengan normal tanpa terpengaruh hari sial, sedangkan di kalangan masyarakat pedesaan yang masih lekat dengan kepercayaan seperti ini justru banyak ditemukan testimoni kesialan akibat melakukan pantangan di hari sial. (Baca juga: Perintah Tawakkal dalam Ayat-Ayat Al-Qur'an )
Tiga Hal
Rasulullah memang pernah bersabda tentang adanya kesialan pada tiga hal. Hanya, hadis itu harus ditempatkan pada konteksnya. "Tidak ada penularan penyakit dan tidak ada ramalan sial, tapi terdapat kesialan pada tiga: kuda, perempuan, dan rumah." (Muttafaq alaih).
Lihat Juga :