Keluhan Pemuda yang Mudah Terangsang: Beda Mani, Madzi, dan Wadi

Jum'at, 16 Oktober 2020 - 05:00 WIB
Meskipun jumhur ulama mengatakan suci, hanya saja umat Islam dianjurkan untuk membasuhnya apabila ia lembab dan menggaruknya apabila ia kering.

Mengenai cara membersihkan mani, Rasulullah SAW bersabda: “Ia (mani) sama seperti ingus dan ludah. Sesungguhnya cukup bagimu untuk mengusapnya dengan sesobek kain”. Hadis ini merupakan riwayat dari Daraquthni, Imam Baihaqi, dan Thahawi.

Adapun wadi, dihukumi para ulama berupa najis. Berdasarkan hadis riwayat Ibnu Mundzir, Aisyah berkata: “Adapun wadi, ia keluar setelah kencing. Laki-laki yang mengeluarkannya harus membasuh zakar dan kedua biji kemaluannya lalu berwudhu. Dia tidak perlu mandi,”. (Baca juga: Hati-hati, Ternyata Panca Indera pun Bisa Melakukan Zina )

Sedangkan Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang wadi dan madzi, yang artinya: “Basuhlah zakarmu dan berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk salat,”.

Mudah Terangsang

Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya Fatwa-Fatwa Kontemporer memuat pertanyaan seorang pelajar yang tekun beribadah namun mudah terangsang bila melihat pemandangan yang membangkitkan syahwat.

Al-Qardhawi menasihati penanya agar memeriksakan diri kepada dokter spesialis. "Barangkali problema yang dihadapi itu semata-mata berkaitan dengan suatu organ tubuh tertentu, dan para dokter ahli tentunya memiliki obat untuk penyakit seperti ini," lanjutnya. (Baca juga: Rasulullah SAW Peringatkan Murka Allah Ta'ala kepada Kaum Homoseksual )

Allah SWT berfirman: "... maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (An Nahl: 43)

Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan Ia juga menurunkan obat untuknya." (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Selanjutnya Al-Qardhawi juga menasihati agar penanya menjauhi -sekuat mungkin - segala hal yang dapat membangkitkan syahwatnya dan menjadikannya menanggung beban serta kesulitan (mandi dan sebagainya).

Adalah suatu kewajiban bagi setiap mukmin untuk tidak menempatkan dirinya di tempat-tempat yang dapat menimbulkan kesukaran bagi dirinya dan menutup semua pintu tempat berhembusnya angin fitnah atas diri dan agamanya.

Baca juga: Gatot Nurmantyo dan Din Syamsuddin Tak Diizinkan Jenguk Syahganda Nainggolan dkk


Simaklah kata-kata hikmah berikut: "Orang berakal itu bukanlah orang yang pandai mencari-cari alasan untuk membenarkan kejelekannya setelah terjatuh ke dalamnya, tetapi orang berakal ialah orang yang pandai menyiasati kejelekan agar tidak terjatuh ke dalamnya."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!