Detik-Detik Jelang Pecah Perang, Penyakit Sa'ad bin Abi Waqqash Kambuh

Sabtu, 17 Oktober 2020 - 06:39 WIB
Harapan Yazdigird bertambah besar setelah ada berita yang disampaikan kepadanya bahwa beberapa kalangan Muslimin yang ada kurang puas terhadap Sa’ad dan mereka mengejek karena penyakitnya itu, sehingga ada yang berkata:

"Kita berperang hingga Allah memberikan pertolongan-Nya.

Dan Sa’ad menahan diri sampai di pintu Kadisiah,

Kami kembali, dan istri-istri pun banyak yang menjanda

Tetapi istri-istri Sa’ad tak ada yang menjadi janda."

Begitu pun ejekan orang, sampai juga kepada Sa’ad dan bahwa sebagian kalangan terkemukanya mencurigainya dan membuatnya sangat terganggu. Mereka menuduhnya lemah dan kurang bersemangat. Hal ini sangat menyinggung perasaannya, dia marah dan berkata kepada mereka yang ada di sekelilingnya: Gotonglah saya dan perlihatkanlah kepada orang-orang itu. Mereka yang di sekelilingnya itu mengangkatnya dan pasukannya menyaksikan sendiri penyakit yang dideritanya. (Baca juga: Alasan Strategis Khalifah Umar Menguasai Persia dan Syam )

Mereka pun dapat mengerti. Tetapi buat Sa’ad itu tidak cukup; dia mengecam mereka yang banyak mengganggunya itu dengan berkata kepada mereka: "Sungguh, kalau tidak karena musuh kita sudah di tengah-tengah kita, niscaya kujatuhkan hukuman yang berat kepada kalian sebagai pelajaran bagi yang lain. Setiap ada orang sesudah itu akan mengulangi lagi dengan merintangi pasukan Muslimin dari musuh dan mengganggu perhatian mereka padahal musuh sudah di depan mereka, hukuman itu kujadikan suatu ketentuan bagi mereka yang kemudian!"

la memerintahkan anak buahnya, di antaranya Abu Mihjan as-Saqafi, untuk menguning dan mengikat mereka di dalam gedung. Menghadapi sikap tegas serupa itu mereka tidak saja menerima alasan Sa’ad, bahkan mereka mengumumkan kesetiaan dan kepatuhan mereka. (Baca juga: Umar bin Khattab: "Akan Kuhantam Raja-Raja Persia itu dengan Raja-Raja Arab" )

Jarir bin Abdullah al-Bajili pemah mengucapkan kata-kata, di antaranya: "Saya sudah menyatakan ikrar setia kepada Rasulullah, bahwa saya akan patuh dan taat kepada siapa saja yang memegang pimpinan, sekalipun ia seorang budak Abisinia (budak kulit hitam)."

Semangat ini yang kemudian kembali menyala dalam jiwa pasukan Muslimin. Dengan demikian bibit-bibit fitnah itu menjadi reda dan dapat diredam.

Ketika itulah Sa’ad menulis kepada komandan-komandan pasukan: "Saya mengangkat Khalid bin Urfatah menggantikan saya memimpin kalian. Kalau tidak karena penyakitku ini kambuh, sayalah yang akan memegang pimpinan. Saya sekarang tertelungkup tetapi hati saya bersama kalian. Ikutilah perintahnya dan patuhilah dia. Segala yang diperintahkannya itu atas perintah saya." (Baca juga: Sang Pembebas Irak Itu Bernama Musanna Bin Harisah )
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!