Prostitusi di Masa Nabi Muhammad dan Asbabun Nuzul Surat An-Nur Ayat 33

Kamis, 22 Oktober 2020 - 05:00 WIB

Maka turunlah ayat tersebut (QS Al-Nur: 33). Setelah Islam datang, seluruh anak-anak, putera maupun puteri diangkat dari perbuatan yang hina itu.

Ibnu Abbas meriwayatkan, sesungguhnya Abdullah bin Ubay kepala munafiqin , datang kepada Nabi sambil membawa seorang hamba perempuan yang cantik jelita, namanya Mu'adzah, kemudian ia berkata: Ya Rasulullah! Ini adalah hamba milik anak yatim, apakah tidak tepat kalau kau suruh dia untuk melacur supaya anak-anak yatim itu dapat mengambil upahnya? Maka jawab Nabi: "tidak" (Lihat Tafsir Razi 23:220).

Selain tokoh menafikun, ‘Abdullah bin Ubay adalah seorang mucikari. Ia juga memaksa budak perempuannya untuk melacur. Cara ini ditempuh tidak lain adalah agar ia memeroleh keuntungan dari hasil prostitusi tersebut. (Baca juga: Setan Berjalan di Aliran Darah, Menyelinap di Sela-sela Shaf Orang Salat )

Selain Mu’adzah, dia juga punya budak bernama Masikah. Dan ketika keduanya menolak untuk bekerja lagi sebagai pelacur, ‘Abdullah bin Ubay bertanya:

“Mengapa kalian tidak lagi melacur?”

“Tidak kami tidak akan lagi mau melacurkan diri!” jawab keduanya.

Kemudian ‘Abdullah bin Ubay memukul keduanya. Dan turunlah ayat tersebut.

Si Cantik Mu‘adzah

Alkisah, selama hidupnya, Mu‘adzah senantiasa merealisasikan butir-butir dalam perjanjian dan pembaiatan meskipun ia adalah seorang budak.

Ketika Mu‘adzah masuk Islam dan membaiat Nabi Muḥammad SAW, dia masih menjadi budak ‘Abdullāh bin Ubay yang ketika itu mempunyai seorang tawanan laki-laki.

‘Abdullāh selalu memukul Mu‘adzah agar tawanan itu bisa melacurnya sampai ia hamil lalu mengambil anak hasil pelacuran tersebut sebagai barang dagangan. Dan perdagangan tersebut, ‘Abdullāh bin Ubay bisa mengeruk keuntungan. (Baca juga: Membakar Masjid Kaum Munafik, Matinya Abdullah Bin Ubayy )


Sementara itu, Mu‘ādzah, sebagai seorang muslimah yang harus menjaga kesuciannya tentunya tidak mau menjerumuskan dirinya ke dalam dunia hitam tersebut.

Al-Qardhawi mengatakan Nabi melarang mencari matapencaharian dengan usaha yang kotor ini, betapapun tingginya bayaran yang diperoleh. Beliau pun tetap tidak memperkenankan setiap apa yang dikatakan karena terpaksa, karena kepentingan atau untuk mencapai sesuatu tujuan. Motifnya supaya masyarakat Islam tetap bersih dari kotoran-kotoran yang sangat membahayakan ini.

Mu‘adzah adalah seorang wanita muslimah yang menjaga kesucian dan kemuliannya, sehingga sejarah mengenangnya dengan penyucian diri dan kemuliaan, meskipun dia hanya seorang hamba sahaya, bukan wanita merdeka. (Baca juga: Bahaya Nifak, Lubang Tikus yang Membuat Sahabat Nabi Takut )
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!