alexametrics

Kisah Nabi dan Rasul

Membakar Masjid Kaum Munafik, Matinya Abdullah Bin Ubayy

loading...
Membakar Masjid Kaum Munafik, Matinya Abdullah Bin Ubayy
Kaum munafik enggan turut berperang melawan kaum kafir. Ilustrasi/Ist
Bagian ketiga dari Seruan Nabi Melawan Romawi. Kisah ini dinukil dari Buku sejarah hidup Muhammad karangan Muhammad Husain Haekal dan diterjemahkan dari Bahasa Arab oleh Ali Audah. (Baca sebelumnya: Ketakutan Dengan Pasukan Muslim, Pihak Romawi Menarik Diri)

RASULULLAH Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW) kembali dengan memimpin ribuan anggota Pasukan 'Usra ini dari perbatasan Syam ke Madinah, bukanlah soal yang ringan. Mereka itu kebanyakan tidak mengerti makna persetujuan yang telah diadakan dengan amir Aila dan negeri-negeri tetangganya, Juga mereka tidak menganggap begitu penting persetujuan-persetujuan yang telah dibuat oleh Rasulullah guna menjamin keamanan di perbatasan seluruh jazirah itu serta dibangunnya benteng-benteng di tempat-tempat itu sebagai perbatasan dengan pihak Romawi.

Sebaliknya yang dapat mereka lihat hanyalah, bahwa mereka menempuh jalan yang sulit dan panjang ini, dengan mengalami gangguan-gangguan, kemudian kembali tanpa membawa rampasan, tanpa membawa tawanan perang, bahkan berperang juga tidak. Segala yang dapat mereka lakukan hanyalah tinggal di Tabuk selama hampir duapuluh hari.



(Baca juga: Kaum Munafik Menghindari Seruan Nabi Melawan Romawi)

Jadi, hanya untuk inikah mereka mengarungi padang sahara di bawah tekanan panas musim yang dahsyat, sementara buah-buahan di Madinah sudah mulai masak, dan orang sudah pula dapat menikmatinya? Ada segolongan orang yang lalu mengejek apa yang telah dilakukan Rasulullah itu.

Orang yang memang sudah teguh imannya, menyampaikan kabar ini kepada Rasulullah. Beliau mengambil tindakan terhadap orang-orang yang mengejeknya itu, kadang dengan kekerasan, kadang dengan cara lemah-lembut, sementara pasukan tentara meneruskan perjalanan pulang ke Madinah sambil selalu Rasulullah menjaga dan mengatur barisan itu.

Tatkala beliau sudah sampai di kota, Khalid bin'l-Walid pun menyusul pula sampai. Ia datang bersama dengan Ukaidir yang dibawanya dari Duma, berikut unta, kambing, gandum dan baju-baju besi. Ketika itu Ukaidir mengenakan pakaian lengkap dari sutera berat dengan berumbaikan emas. Penduduk Madinah sangat terpesona melihatnya. (Baca juga: Khalifah Umar Pecat Khalid bin Walid demi Selamatkan Tauhid Umat)

Mereka yang tinggal di belakang tidak mengikutinya merasa gelisah sekali. Mereka yang tadinya mengejek kini mulai sadar sendiri. Mereka datang sekarang sambil membawa dalih minta maaf. Tetapi kebanyakan mereka minta maaf itu disertai kebohongan.

Sikap mereka ini oleh Rasulullah ditolak, diserahkan kepada kebijaksanaan Tuhan. Tetapi ada tiga orang yang sudah beriman kepada Allah dan kepada Rasul, mereka ini mengakui akan tindakan mereka tinggal di belakang dan mengakui pula dosa mereka.

(Baca juga: Perang Badar (1): Menguji Kesetiaan Kaum Anshar)

Mereka itu ialah Ka'b bin Malik, Murara bin'r-Rabi' dan Hilal bin Umayya. Karena larangan yang pernah dikeluarkan oleh Rasulullah, mereka bertiga itu selama limapuluh hari tidak diajak bicara oleh kaum Muslimin, juga tidak seorang Muslim pun mengadakan hubungan dagang dengan mereka. Tetapi Tuhan kemudian mengampuni mereka bertiga, dan firman Tuhan ini turun:

لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِىِّ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِى سَاعَةِ ٱلْعُسْرَةِ مِنۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُۥ بِهِمْ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
وَعَلَى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُوا۟ حَتَّىٰٓ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّوٓا۟ أَن لَّا مَلْجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

"Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang telah mengikuti Nabi pada masa kesulitan ('usra) setelah ada sebagian mereka yang hampir menyimpang hatinya. Tetapi kemudian Tuhan menerima taubat mereka. Allah Maha Pengasih dan Penyayang kepada mereka. Juga terhadap tiga orang yang tinggal di belakang, sehingga bumi yang seluas ini terasa sempit oleh mereka, napas mereka pun terasa sesak, dan mereka sudah mengerti, bahwa tak ada tempat berlindung dari siksa Tuhan selain kepada Tuhan juga. Kemudian Allah menerima taubat mereka supaya mereka selalu bertaubat. Dan Allah Maha Penerima segala taubat dan Maha Pengasih." (Qur'an, 9:117-118)

Sejak itu Rasulullah bersikap tegas terhadap orang-orang munafik, suatu sikap yang tidak biasa mereka alami sebelumnya. Soalnya ialah karena jumlah kaum Muslimin sudah bertambah banyak. Tingkah-laku kaum munafik terhadap mereka akan berbahaya sekali dan sangat dikhawatirkan. Oleh karena itu perlu diatasi.

(Baca juga: Perang Badar (2): Bukti Dahsyatnya Kekuatan Doa dan Keyakinan)

Matinya Abdullah Bin Ubayy

Rasulullah SAW memang sudah yakin sekali -setelah janji Allah akan memberikan kemenangan kepada agama dan perintah-Nya - bahwa jumlah mereka akan bertambah, akan berlipat-ganda banyaknya dari yang sekarang. Maka ketika itulah orang-orang munafik akan merupakan bahaya besar.

Keadaan sebelum itu, tatkala Islam masih terbatas dalam kota Madinah dan sekitarnya, segala yang terjadi terhadap kaum Muslimin dia sendiri yang mengawasinya. Tetapi, sesudah agama meluas tersebar ke seluruh jazirah Arab, bahkan sudah hampir meluas keluar, maka setiap kelalaian terhadap orang-orang munafik itu, berarti akan merupakan suatu bencana yang sangat dikhawatirkan akibatnya, akan merupakan bahaya yang cepat sekali akan menjalar jika tidak lekas-lekas pula kuman-kuman itu diberantas.

(Baca juga: Sahabat Nabi Si Kocak Nu’aiman, Bisa Jadi Inspirator Abu Nawas)

Ada beberapa orang membuat sebuahmasjid di Dhu Awan sejauh satu jam perjalanan dari Madinah. Ke dalam mesjid inilah kelompok orang-orang munafik itu selalu datang. Mereka berusaha hendak mengubah ajaran Tuhan dari yang sebenarnya. Dengan itu mereka hendak memecah-belah kaum Muslimin dengan menimbulkan bencana dan kekufuran.

Kelompok ini meminta kepada Nabi supaya membuka masjid dan sekalian sembahyang di tempat itu. Permintaan mereka diajukan sebelum peristiwa Tabuk. Oleh Nabi mereka diminta menunggu sampai ia kembali. Tetapi setelah kembali dan mengetahui persoalan masjid itu serta untuk apa pula tujuan sebenarnya dibangun, oleh Nabi diperintahkan supaya masjid itu dibakar.

Dengan demikian hal itu telah menjadi contoh, yang membuat orang-orang munafik itu jadi ketakutan. Mereka surut dan menyisihkan diri. Yang akan melindungi mereka pun sudah tak ada lagi selain Abdullah bin Ubayy, ketua dan pemimpin mereka itu. (Baca juga: Mengenal 313 Pejuang Terbaik Ahlul Badar, Siapa Saja Mereka?)

Hanya saja sesudah Tabuk, Abdullah bin Ubayy ini tidak lama lagi hidupnya. Setelah dua bulan menderita sakit ia mati.
Meskipun rasa dengki terhadap Muslimin sudah menggerogoti hatinya sejak Nabi tinggal di Madinah, namun Rasulullah lebih suka kaum Muslimin jangan menggangu Ibn Ubayy.

Ketika orang ini meninggal dan Nabi diminta menyembahyangkannya, dengan segera pula Nabi pun menyembahyangkan dan mendoakan ketika dikuburkan sampai upacara itu selesai. Dengan matinya Ibn Ubayy sendi kaum munafik itu juga runtuh. Mereka yang masih ada, sekarang dengan sungguh-sungguh mereka bertaubat kepada Allah SWT.

Dengan ekspedisi Tabuk ini maka selesailah amanat Allah SWT diajarkan ke seluruh jazirah Arab, dan Rasulullah sudah merasa aman dari setiap permusuhan yang akan ditujukan kepada agama. Utusan-utusan dari pelbagai daerah sekarang datang menghadap kepadanya dengan menyatakan sekali kesetiaannya serta mengumumkan pula keislamannya. (Bersambung) (Baca juga: Rasulullah Tak Diamkan Kesalahan Akidah Umat yang Baru Peluk Islam)
(mhy)
cover top ayah
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغۡفِرُ اَنۡ يُّشۡرَكَ بِهٖ وَيَغۡفِرُ مَا دُوۡنَ ذٰ لِكَ لِمَنۡ يَّشَآءُ‌ ۚ وَمَنۡ يُّشۡرِكۡ بِاللّٰهِ فَقَدِ افۡتَـرٰۤى اِثۡمًا عَظِيۡمًا‏
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.

(QS. An-Nisa:48)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak