Perempuan-Perempuan Pemegang Bara Api
Minggu, 25 Oktober 2020 - 19:26 WIB
Dijelaskan dalam kitab 'Tuhfatul Ahwadzi' bahwa orang yang berpegang teguh dengan agama hingga meninggalkan dunianya, ujian dan kesabarannya begitu berat. Ibaratnya seperti seseorang yang memegang bara (nyala) api. (syarh sunahh Al Tirmidzi)
Imam Ath Thibiy rahimahullah menjelaskan bahwa maknanya adalah sebagaimana seseorang tidak mampu menggenggam bara api karena tangannya bisa terbakar sama halnya dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Islam saat ini, ia sampai tak kuat ketika ingin berpegang teguh dengan agamanya. Hal itu lantaran banyaknya maksiat di sekelilingnya, pelaku maksiat pun begitu banyak, kefasikan pun semakin tersebar luas, juga iman pun semakin lemah.
(Baca juga : Luhut Temui Bos Bank Ekspor-Impor AS, Pendanaan USD750 Juta Dikantongin )
Karena itu, seseorang tidaklah mungkin menggenggam bara api melainkan dengan memiliki kesabaran yang ekstra dan kesulitan yang luar biasa. Begitu pula dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman ini butuh kesabaran yang ekstra.
Jadi siapa sebenarnya perempuan-perempuan penggenggam bara api ini? Mereka adalah perempuan-perempuan yang meninggalkan kelezatan hidupnya dan mengemban cinta agama, sehingga Allah melipatgandakan kebaikan mereka, menghapus keburukan mereka, mengangkat derajat mereka. Dialah ratu yang duduk di singgasananya,di atas dipan-dipan yang terbujur dan permadani-permadani, hidup di antara keluarga yang mencintai dan menghormati, dengan pelayan-pelayan yang siap mengabdi.
(Baca juga : Masyarakat Semakin Takut Menyatakan Pendapat dan Berunjuk Rasa )
Bintang yang Sesungguhnya
Muslimah, mungkin kita telah familiar dengan Khadijah binti Khuwailid, Maryam bintu Imran, Hajar istri, atau Asiyah istri Fir'aun. Mereka adalah perempuan-perempuan hebat yang Allah teguhkan di atas keimanan dan kesabaran kala cobaan berat melanda.
Kisah mereka diabadikan dalam al-Qur’an dan diceritakan melalui lisan Rasul-Nya agar menjadi pelajaran bagi manusia setelahnya. Maka, tidakkah kita ingin meneladani mereka? Harus diakui, saat ini atau di zaman ini hanya sekadar menampakkan agama dan menjalankan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun kita malu, dan bahkan mencemooh orang-orang yang teguh di atas sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Padahal kita juga mengharapkan Surga!
(Baca juga : PSBB Transisi Diperpanjang, Pengamat: Pelonggaran Kegiatan Harus Terus Dilakukan )
Imam Ath Thibiy rahimahullah menjelaskan bahwa maknanya adalah sebagaimana seseorang tidak mampu menggenggam bara api karena tangannya bisa terbakar sama halnya dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Islam saat ini, ia sampai tak kuat ketika ingin berpegang teguh dengan agamanya. Hal itu lantaran banyaknya maksiat di sekelilingnya, pelaku maksiat pun begitu banyak, kefasikan pun semakin tersebar luas, juga iman pun semakin lemah.
(Baca juga : Luhut Temui Bos Bank Ekspor-Impor AS, Pendanaan USD750 Juta Dikantongin )
Karena itu, seseorang tidaklah mungkin menggenggam bara api melainkan dengan memiliki kesabaran yang ekstra dan kesulitan yang luar biasa. Begitu pula dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman ini butuh kesabaran yang ekstra.
Jadi siapa sebenarnya perempuan-perempuan penggenggam bara api ini? Mereka adalah perempuan-perempuan yang meninggalkan kelezatan hidupnya dan mengemban cinta agama, sehingga Allah melipatgandakan kebaikan mereka, menghapus keburukan mereka, mengangkat derajat mereka. Dialah ratu yang duduk di singgasananya,di atas dipan-dipan yang terbujur dan permadani-permadani, hidup di antara keluarga yang mencintai dan menghormati, dengan pelayan-pelayan yang siap mengabdi.
(Baca juga : Masyarakat Semakin Takut Menyatakan Pendapat dan Berunjuk Rasa )
Bintang yang Sesungguhnya
Muslimah, mungkin kita telah familiar dengan Khadijah binti Khuwailid, Maryam bintu Imran, Hajar istri, atau Asiyah istri Fir'aun. Mereka adalah perempuan-perempuan hebat yang Allah teguhkan di atas keimanan dan kesabaran kala cobaan berat melanda.
Kisah mereka diabadikan dalam al-Qur’an dan diceritakan melalui lisan Rasul-Nya agar menjadi pelajaran bagi manusia setelahnya. Maka, tidakkah kita ingin meneladani mereka? Harus diakui, saat ini atau di zaman ini hanya sekadar menampakkan agama dan menjalankan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun kita malu, dan bahkan mencemooh orang-orang yang teguh di atas sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Padahal kita juga mengharapkan Surga!
(Baca juga : PSBB Transisi Diperpanjang, Pengamat: Pelonggaran Kegiatan Harus Terus Dilakukan )
Lihat Juga :