Kisah Tragis Utsman bin Affan (2): Ketika Rasulullah Bicara dengan Gunung Uhud dan Hira
Rabu, 18 November 2020 - 13:11 WIB
Dan yang nampak dari sabda beliau ini, bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan kepada beliau sikap yang benar ketika terjadi fitnah. Yang demikian itu, dalam rangka mengambil sikap dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika terjadi fitnah.
Di dalam sebagian riwayat, ada tambahan yang lebih menyingkap akan rahasia di balik ini yaitu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada Utsman : ”Jika mereka memintamu untuk melepas pakaian (kekhalifahan) yang Allah berikan kepadamu, maka jangan engkau lakukan”. (HR Tirmidzi)
Dan hal tersebut, tidak menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberikan wasiat tentang kekhalifahan atau yang lainnya, seperti yang diyakini oleh orang-orang Rafidhah terhadap Aliz.
Tapi isi dari wasiat beliau yang disebutkan oleh Utsman Radhiyallahu ‘anhu hanyalah berkaitan dengan fitnah dan wasiat untuk bersabar serta tidak bolehnya beliau melepaskan (kekhalifahannya).
Sesungguhnya beliau akan terbunuh dalam keadaan terzalimi ketika terjadinya fitnah pada saat kekhalifahannya. Beliau bersama para sahabatnya di atas kebenaran pada saat itu dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mewasiatkan untuk mengikuti beliau ketika terjadinya fitnah ini.
Baca juga: Seuntai Kalung Cantik Rasulullah untuk Umamah binti Abu Al 'Ash
Sesungguhnya ini adalah kabar berita yang khusus bagi Utsman Radhiyallahu‘anhu dan yang menggembirakan beliau, sekaligus membuat beliau guncang, kapan dan bagaimana kejadian itu?
Utsman adalah seorang yang berakal, - pemalu bahkan sangat pemalu – tidak pernah beliau merebut kekuasaan, baik dikala Jahiliyah ataupun di waktu Islam. Beliau tidak pernah merebut kekuasaan para pembesar kota Makkah dan tidak pernah rakus akan kepemimpinan. Karena sesungguhnya perangai dan tabiat beliau tidak menyukai hal tersebut.
Meskipun demikian, beliau akan menjadi pemimpin – meski beliau tidak menyukainya. Tidaklah kabar berita (dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tersebut) mendorong beliau untuk mengejar kekhalifahan. Beliau tidak merebutnya sepeninggal Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan tidak mengajukan diri dengan membawa dalil-dalil tersebut bahwa beliau berhak menjadi khalifah – dengan rekomendasi dari Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam.
Di dalam sebagian riwayat, ada tambahan yang lebih menyingkap akan rahasia di balik ini yaitu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada Utsman : ”Jika mereka memintamu untuk melepas pakaian (kekhalifahan) yang Allah berikan kepadamu, maka jangan engkau lakukan”. (HR Tirmidzi)
Dan hal tersebut, tidak menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberikan wasiat tentang kekhalifahan atau yang lainnya, seperti yang diyakini oleh orang-orang Rafidhah terhadap Aliz.
Tapi isi dari wasiat beliau yang disebutkan oleh Utsman Radhiyallahu ‘anhu hanyalah berkaitan dengan fitnah dan wasiat untuk bersabar serta tidak bolehnya beliau melepaskan (kekhalifahannya).
Sesungguhnya beliau akan terbunuh dalam keadaan terzalimi ketika terjadinya fitnah pada saat kekhalifahannya. Beliau bersama para sahabatnya di atas kebenaran pada saat itu dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mewasiatkan untuk mengikuti beliau ketika terjadinya fitnah ini.
Baca juga: Seuntai Kalung Cantik Rasulullah untuk Umamah binti Abu Al 'Ash
Sesungguhnya ini adalah kabar berita yang khusus bagi Utsman Radhiyallahu‘anhu dan yang menggembirakan beliau, sekaligus membuat beliau guncang, kapan dan bagaimana kejadian itu?
Utsman adalah seorang yang berakal, - pemalu bahkan sangat pemalu – tidak pernah beliau merebut kekuasaan, baik dikala Jahiliyah ataupun di waktu Islam. Beliau tidak pernah merebut kekuasaan para pembesar kota Makkah dan tidak pernah rakus akan kepemimpinan. Karena sesungguhnya perangai dan tabiat beliau tidak menyukai hal tersebut.
Meskipun demikian, beliau akan menjadi pemimpin – meski beliau tidak menyukainya. Tidaklah kabar berita (dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tersebut) mendorong beliau untuk mengejar kekhalifahan. Beliau tidak merebutnya sepeninggal Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan tidak mengajukan diri dengan membawa dalil-dalil tersebut bahwa beliau berhak menjadi khalifah – dengan rekomendasi dari Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam.
Lihat Juga :