Kisah Hikmah : Perempuan Pemintal Benang
Senin, 23 November 2020 - 19:31 WIB
(Baca juga : Pengangguran Naik, Pemulihan Didorong lewat UU Cipta Kerja )
Rithah tak masalah jika suaminya seorang penjahat, asalkan ia tak hidup seorang diri. Ia pun mencari dan terus mencari. Setelah sekian lama mencari, ia pun bertemu dengan Sukhr. Namun betapa menyakitkan hati, ternyata Sukhr justru menolak dengan alasan Rithah terlalu tua untuk dirinya. Si pemuda jahat mengaku menikahi Rithah hanya karena ingin mengambil hartanya.
Betapa hancur hati Rithah. Ia pulang ke rumahnya untuk kembali menjadi seorang perempuan yang kesepian. Hari demi hari berlalu, Rithah menyendiri di rumahnya yang megah dengan harta yang tak kunjung habis meski sudah dicuri oleh suaminya. Setiap hari ia hanya bisa meratapi jalan hidupnya. Ia menangis siang dan malam tanpa henti.
(Baca juga : Hadapi Pandemi dan Resesi, PKS Minta Pemerintah Gandeng Tokoh dan Ulama )
Hingga suatu hari, Rithah memegang alat pintal milik ibunda. Ia kemudian memintal benang dengan alat tersebut. Keesokan harinya, Rithah nampak tak lagi berduka. Ia pergi ke pasar membeli banyak benang dan memanggil beberapa gadis ke rumahnya untuk memintal benang bersama. Para gadis dibayarnya sekian dirham untuk memintal benang di rumahnya. Demikian hari demi hari para gadis bekerja memintal benang untuk Rithah. Mereka selalu datang ke rumah Rithah dan menemaninya.
Namun siapa sangka, ternyata setiap malam, Rithah selalu mengurai benang yang telah dipintal kencang. Hasil pintalan itu tak pernah ia jual ataupun ia kenakan pribadi. Keesokan harinya, ia bersama para gadis memintalnya kembali. Namun malam hari Rithah akan menguraikan benang itu lagi dan lagi. Demikianlah aktivitas Rithah sehari-hari. Ia telah kehilangan akalnya. Kedukaan dan kesepiannya membuat Rithah menjadi perempuan bodoh lagi gila. Ia pun kemudian dikenal sebagai Rithah Al Hamqa yang berarti si bodoh Rithah.
Keshahihan kisah Rithah masih diperdebatkan para ahli tafsir. Mereka berbeda pendapat mengenai kisah wanita pemintal benang yang disebut dalam Al Qur’an sebagai sebuah perumpamaan yang sangat indah. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi tercerai berai kembali.” (QS. An Nahl: 92).
(Baca juga : Viral Jenazah Dibawa Pakai Motor di Bogor, Netizen: Ya Allah, Masih Ada Kayak Gini )
Si wanita pemintal benang menjadi perumpamaan bagi dua perkara. Pertama yakni tentang kaum yang melakukan perjanjian dengan Rasulullah agar tak melanggarnya. Lalu kedua yakni umat Islam yang telah beribadah dan melakukan banyak amalan di siang hari, hendaknya jangan merusaknya dan menyiakannya dengan melakukan maksiat di malam hari. Sebagaimana Rithah si wanita bodoh yang mengurai benang yang telah dipintalnya kuat-kuat.
Berserah Diri kepada Allah Semata
Rithah tak masalah jika suaminya seorang penjahat, asalkan ia tak hidup seorang diri. Ia pun mencari dan terus mencari. Setelah sekian lama mencari, ia pun bertemu dengan Sukhr. Namun betapa menyakitkan hati, ternyata Sukhr justru menolak dengan alasan Rithah terlalu tua untuk dirinya. Si pemuda jahat mengaku menikahi Rithah hanya karena ingin mengambil hartanya.
Betapa hancur hati Rithah. Ia pulang ke rumahnya untuk kembali menjadi seorang perempuan yang kesepian. Hari demi hari berlalu, Rithah menyendiri di rumahnya yang megah dengan harta yang tak kunjung habis meski sudah dicuri oleh suaminya. Setiap hari ia hanya bisa meratapi jalan hidupnya. Ia menangis siang dan malam tanpa henti.
(Baca juga : Hadapi Pandemi dan Resesi, PKS Minta Pemerintah Gandeng Tokoh dan Ulama )
Hingga suatu hari, Rithah memegang alat pintal milik ibunda. Ia kemudian memintal benang dengan alat tersebut. Keesokan harinya, Rithah nampak tak lagi berduka. Ia pergi ke pasar membeli banyak benang dan memanggil beberapa gadis ke rumahnya untuk memintal benang bersama. Para gadis dibayarnya sekian dirham untuk memintal benang di rumahnya. Demikian hari demi hari para gadis bekerja memintal benang untuk Rithah. Mereka selalu datang ke rumah Rithah dan menemaninya.
Namun siapa sangka, ternyata setiap malam, Rithah selalu mengurai benang yang telah dipintal kencang. Hasil pintalan itu tak pernah ia jual ataupun ia kenakan pribadi. Keesokan harinya, ia bersama para gadis memintalnya kembali. Namun malam hari Rithah akan menguraikan benang itu lagi dan lagi. Demikianlah aktivitas Rithah sehari-hari. Ia telah kehilangan akalnya. Kedukaan dan kesepiannya membuat Rithah menjadi perempuan bodoh lagi gila. Ia pun kemudian dikenal sebagai Rithah Al Hamqa yang berarti si bodoh Rithah.
Keshahihan kisah Rithah masih diperdebatkan para ahli tafsir. Mereka berbeda pendapat mengenai kisah wanita pemintal benang yang disebut dalam Al Qur’an sebagai sebuah perumpamaan yang sangat indah. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi tercerai berai kembali.” (QS. An Nahl: 92).
(Baca juga : Viral Jenazah Dibawa Pakai Motor di Bogor, Netizen: Ya Allah, Masih Ada Kayak Gini )
Si wanita pemintal benang menjadi perumpamaan bagi dua perkara. Pertama yakni tentang kaum yang melakukan perjanjian dengan Rasulullah agar tak melanggarnya. Lalu kedua yakni umat Islam yang telah beribadah dan melakukan banyak amalan di siang hari, hendaknya jangan merusaknya dan menyiakannya dengan melakukan maksiat di malam hari. Sebagaimana Rithah si wanita bodoh yang mengurai benang yang telah dipintalnya kuat-kuat.
Berserah Diri kepada Allah Semata
Lihat Juga :