Bayazid Al-Bisthami, Uwais al-Qarni, Berhala, dan Uang

Selasa, 01 Desember 2020 - 14:42 WIB
Ilustrasi/Ist
Kisah-kisah berikut dinukil dari Idries Shah dalam bukunya yang berjudul The Way of the Sufi dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha dengan judul "Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat". Baca juga: Kisah Sufi: Ats-Tsauri dalam Perenungan dan Doa untuk Orang Mati

BAYAZID AL-BISTHAMI

Bayazid bertemu seekor anjing, ia menarik jubahnya dari anjing tersebut agar tidak mengotori.

Si anjing, dalam bahasa manusia berkata: "Jika aku kering, tidak perlu lagi menghindariku. Jika aku basah, engkau dapat mencuci jubahmu. Tetapi kebendaanmu padaku tidak pernah dapat dicuci."

Baca juga: Kisah Sufi: Tanggung Jawab Guru dan Permata Dzun-Nun

Bayazid berkata: "Wahai anjing yang mendapat pencerahan, kemarilah dan tinggallah bersamaku sebentar."

Anjing menjawab: "Itu tidak mungkin, karena dunia menggunakan diriku sebagai julukan (ejekan), dan engkau dihormati dunia sebagai suri-teladan."

Bayazid berseru: "Aduh! Aku tidak layak hidup dengan suatu makhluk yang dianggap oleh seluruh dunia sebagai makhluk yang rendah; bagaimana aku dapat mendekati Kebenaran, menghargainya sebagai yang Tertinggi dari semuanya?"

Saat ditanya, "Apakah menjadi Sufi itu?"

Bayazid menjawab, "Melepaskan kenyamanan dan mencoba berusaha. Itulah praktek Sufi."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!