Pertemuan Mengharukan Dua Saudara Sepersusuan

Selasa, 01 Desember 2020 - 19:25 WIB
Puluhan tahun telah berpisah akhirnya beliau kembali dipertemukan dengan saudarinya sepersusuannya Syaima, namun dalam keadaan yang tidak mengenakkan.. Foto ilustrasi/ist
Syaima as-Sa'diyah adalah saudara sepersusuan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Ia merupakan anak kandung Halimah as-Sa'diyah yang tiada lain adalah ibu susu atau ibu asuh Nabi Muhammad saat masih kecil. Rasulullah kecil sempat tinggal beberapa tahun bersama keluarga Halimah Bersama ibunya, Syaima’ juga ikut merawat dan mengasuh Rasulullah saat kecil.

Ketika Rasulullah berusia 5 tahun, beliau memutuskan untuk meninggalkan rumah Halimah dan hidup bersama ibu kandungnya, Aminah. Berhentinya Halimah menjadi ibu susu Rasulullah membuat Syaima’ pun tak lagi berjumpa dengan beliau.

(Baca juga : Perawatan Islami agar Tetap Terlihat Awet Muda )

Setelah puluhan tahun berlalu, Rasulullah akhirnya dipertemukan kembali dengan Syaima dalam sebuah peristiwa . Kisah pertemuan saudara sepersusuan ini dijelaskan dalam e-book karya Gema Insani dengan judul “Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW”. Dikisahkan saat itu, pada tahun ke-8 Hijriah tepatnya sebulan setelah terjadinya Fathu Makkah, pasukan muslimim berhadapan dengan kaum Hawazin dalam pertempuran Hunain.

Pada pertempuran itu kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah hampir mengalami kekalahan lantaran banyaknya pasukan yang melarikan diri karena dahsyatnya serangan maut dari kaum Hawazin dan Tsaqif.

(Baca juga : Istri yang Tak Menikah Lagi untuk Merawat Anak, Mendapat Keutamaan di Akhirat )

Akan tetapi teriakkan ‘Abbas yang mengema hingga ke dinding lembah terdengar oleh kaum muslimin yang sedang terpojok karena gemuruh musuh. Mereka kemudian teringat pada Rasulullah tentang jihad mereka, hingga akhirnya mereka menyadari bahwa kekalahan pertempuran ini akan membawa akibat kehancuran bagi kaum muslim. Akhirnya mereka kembali bergabung dalam pasukan, dan atas pertolongan Allah, perlahan demi perlahan pasukan Rasalullah mampu merangsek ke tengah medan.

Peperangan terasa semakin memanas, hingga membuat kaum Hawazin dan Tsaqif merasa yakin bahwa mereka berada di tengah-tengah kebinasaan. Maka, tanpa membuang waktu, kaum Hawazin dan Tsaqif melarikan diri dalam keadaan kalah dengan meninggalkan harta benda yang kemudian menjadi harta rampasan perang (ghanimah) kaum muslimin. Selain itu, para perempuan kaum Hawazin pun menjadi tawanan pasukan muslimin. Salah satu perempuan yang jatuh sebagai tawanan pasukan muslimin, yakni Syaima.

(Baca juga : Jadikan Sifat Tawadhu sebagai Modal Kebahagiaan )

Nasib tak beruntung menimpa para perempuan yang menjadi tawanan, mereka diperlakukan dengan keras dan kasar oleh para pasukan muslimin. Tak terkecuali Syaima’, saudara sepersusuan Rasulullah pun ikut merasakan hal yang sama ketika diarak menuju ke hadapan Rasulullah. Merasa diperlakukan dengan tidak manusiawi, Syaima’ kemudian memprotes dan mengatakan bahwa dirinya adalah saudara sepersusuan Nabi Muhammad.

“Aku ini saudara perempuan teman kalian (Rasulullah),” ucap Syaima’.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!