Jalan Sufi dan Para Pencari Stabilitas Sosial

Rabu, 30 Desember 2020 - 10:15 WIB
Komposisi kelompoklah yang akan memutuskan hal-hal tersebut. Jika anggotanya sudah siap memiliki keseimbangan sosial yang kuat, mereka tidak perlu mengubah atmosfir studi mereka menjadi sumber stabilitas dan kepastian. Bila anggota sudah memperoleh kepuasan fisik dan intelektual, mereka tidak perlu berusaha menyaringnya dari kelompok sufi mereka. (Baca juga: Cerita Ajaran: Orang Paling Bahagia di Dunia )

Mereka ini para pencari stabilitas sosial, intelektual dan emosional yang merupakan kandidat yang gagal untuk ajaran sufi dalam aliran-aliran asli. Aliran-aliran tiruan (diketahui atau sebaliknya) menggunakan bagian luar Sufi --termasuk tulisan dan ceramah berikut-- dan beroperasi sebagai kelompok-kelompok sosio-psikologis tersamar. Aktivitas Sufi yang sangat bernilai ini bukan persyaratan untuk 'pengetahuan tentang manusia yang lebih tinggi'.

Namun ini bukan berarti bahwa pengelompokan-pengelompokan otomimetis yang dianggap banyak orang sebagai sufi, secara tiba-tiba dapat dikenal oleh seorang kandidat sebagai pengelompokan sosial semata. "Sebaliknya, jika murid bersungguh-sungguh membutuhkan kepastian, petualangan, katarsis, keseimbangan sosial dan psikologis, ia akan sangat berterima kasih dan tidak mempertanyakan lagi bila ditarik ke aktivitas tingkat rendah ini," jelas Idries Shah.

Ini karena ia akan menjawab untuk apa kelompok-kelompok yang ditawarkan dalam praktik, bukan apa yang dapat ditawarkan sufisme.

Lagi, secara tradisional kelompok-kelompok para Pencari bergabung bersama dalam usaha memperingati praktik-praktik dan teori-teori sufisme, dengan harapan bahwa hasrat mereka dapat terwujud atau menjadi sempurna dengan kehadiran guru yang asli.

Dasar studi ini lebih berbahaya daripada diusulkan secara umum, karena ketika keanggotaan dari suatu kelompok secara luas mengkomposisikan orang-orang yang menggunakannya untuk tujuan psikologis lebih rendah, kelompok sebagai keseluruhan akan cenderung kehilangan kapasitas dan hasrat untuk mengenal sumber-sumber di level lebih tinggi.

Dalam kasus demikian, perkembangan alamiah kepekaan sosial dalam pengelompokan, menghalangi aspirasi. Hanya pengenalan perbedaan tipe orang kepada kelompok, dalam usaha setidaknya memperbaikinya untuk suatu contoh masyarakat normal, kemungkinan akan menghidupkan kembali posibilitas kelompok.

"Tetapi suatu kelompok sosial jenis ini hampir secara definitif bermusuhan dengan pengenalan-pengenalan semacam; orang-orang yang tampak berpikir dengan cara berbeda dianggap bermusuhan atau tidak dapat dipilih," demikian Idries Shah. (Baca juga: Cerita Ajaran: Domba dan Dompet )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!