Begini Penilaian Buruk Khalifah Umar Tentang Enam Orang Calon Penggantinya
Jum'at, 01 Januari 2021 - 19:27 WIB
Ilustrasi/Ist
Kata-kata Zubair bin Al-Awwam tampaknya membuat merah telinga Khalifah Umar bin Khattab r.a . yang sabar itu. Sambil memandang tajam ke arah Zubair, Umar berkata: "Tentang dirimu, Zubair…, kau itu adalah orang yang lancang mulut, kasar dan tidak mempunyai pendirian tetap. Yang kausukai hanyalah hal-hal yang menyenangkan dirimu sendiri, dan engkau membenci apa saja yang tidak kausukai. Pada suatu ketika engkau benar-benar seorang manusia, tetapi pada ketika yang lain engkau adalah setan! Bisa jadi kalau kekhalifahan kuserahkan kepadamu, pada suatu ketika engkau akan menampar muka orang hanya gara-gara gandum segantang." (Baca juga: Menjelang Sakaratul Maut, Khalifah Umar Memanggil Calon Penggantinya )
Khalifah Umar menghentikan perkataannya sebentar, seolah-olah mengambil nafas untuk mengumpulkan kekuatan dan mengendalikan emosinya. Kemudian ia meneruskan: "Tahukah engkau, jika kekuasaan kuserahkan kepadamu? Lalu siapa yang akan melindungi orang-orang pada saat engkau sedang menjadi setan ? Yaitu pada saat engkau sedang dirangsang kemarahan?" (Baca juga: Zubair: Orang Pertama yang Menghunuskan Pedang di Jalan Allah )
Tanpa menunggu jawaban Zubair, Khalifah Umar r.a. menoleh ke arah Thalhah bin Ubaidillah , yang segera menundukkan kepala setelah melihat sorot mata pemimpin yang berwibawa itu.
Bukan rahasia lagi di kalangan kaum muslimin pada masa itu, bahwa sudah beberapa waktu lamanya Khalifah Umar r.a. memendam rasa jengkel terhadap tokoh yang satu ini. Peristiwanya bermula pada waktu Khalifah Abu Bakar r.a . masih hidup. Ketika itu Thalhah mengucapkan suatu kata kepada Abu Bakar r.a yang sangat tidak mengenakkan perasaan Umar bin Khattab r.a.
Setelah memandang Thalhah sejenak, Khalifah Umar r.a. bertanya: "Sebaiknya aku bicara atau diam saja?"
"Bicaralah!" sahut Thalhah dengan nada acuh tak acuh. "Toh anda tidak akan berkata baik mengenai diriku!"
"Aku mengenalmu sejak jari-jarimu luka pada waktu perang Uhud," kata Khalifah Umar r.a. kepada Thalhah. "Dan aku juga mengenal kecongkakan yang pernah muncul pada dirimu. Rasulullah wafat dalam keadaan beliau tidak senang kepadamu. Itu akibat kata-kata yang kau ucapkan ketika ayat Al-Hijab turun."
Menurut catatan yang dibuat oleh Syeikh Abu Utsman Al Jahidz, perkataan Thalhah yang dimaksud ialah ucapan kepada salah seorang sahabat. Kata-kata Thalhah itu akhirnya sampai juga ke telinga Rasulullah s.a.w.: "Apa arti larangan itu baginya (yakni bagi Rasulullah s.a.w.) sekarang ini? Dia bakal mati. Lalu kita bakal menikahi perempuan-perempuan itu!" (Baca juga: Thalhah bin Ubaidillah, Berjalan di Muka Bumi Sesudah Kematiannya )
Habis berbicara tentang pribadi Thalhah, Khalifah Umar r.a. melihat kepada Sa'ad bin Abi Waqqash . Kepadanya Umar r.a. berkata: "Engkau seorang yang mempunyai banyak kuda perang. Dengan kuda-kuda itu engkau telah berjuang dan berperang. Banyak sekali senjata yang kau miliki, busur dan anak panahnya. Tetapi kabilah Zuhrah (asal Saad), kurang tepat untuk memangku jabatan Khalifah dan memimpin urusan kaum muslimin." (Baca juga: Doa Sa'ad bin Abi Waqqash Bukan untuk Dirinya Sendiri yang Buta )
Tibalah sekarang giliran Khalifah Umar r.a. menilai pribadi Abdurrahman bin 'Auf , yang rupanya sudah siap mendengarkan penilaiannya. "Jika separoh kaum muslimin imannya ditimbang dengan imanmu," kata Khalifah Umar r.a., "maka imanmulah yang lebih berat. Tetapi kekhalifahan tidak tepat kalau dipegang oleh seorang yang lemah seperti engkau. Kabilah Zuhrah (asal Abdurrahman bin 'Auf juga) kurang kena untuk urusan itu." (Baca juga: Begini Sidang Majelis Syuro Saat Menetapkan Utsman bin Affan Menjadi Khalifah )
Khalifah Umar menghentikan perkataannya sebentar, seolah-olah mengambil nafas untuk mengumpulkan kekuatan dan mengendalikan emosinya. Kemudian ia meneruskan: "Tahukah engkau, jika kekuasaan kuserahkan kepadamu? Lalu siapa yang akan melindungi orang-orang pada saat engkau sedang menjadi setan ? Yaitu pada saat engkau sedang dirangsang kemarahan?" (Baca juga: Zubair: Orang Pertama yang Menghunuskan Pedang di Jalan Allah )
Tanpa menunggu jawaban Zubair, Khalifah Umar r.a. menoleh ke arah Thalhah bin Ubaidillah , yang segera menundukkan kepala setelah melihat sorot mata pemimpin yang berwibawa itu.
Bukan rahasia lagi di kalangan kaum muslimin pada masa itu, bahwa sudah beberapa waktu lamanya Khalifah Umar r.a. memendam rasa jengkel terhadap tokoh yang satu ini. Peristiwanya bermula pada waktu Khalifah Abu Bakar r.a . masih hidup. Ketika itu Thalhah mengucapkan suatu kata kepada Abu Bakar r.a yang sangat tidak mengenakkan perasaan Umar bin Khattab r.a.
Setelah memandang Thalhah sejenak, Khalifah Umar r.a. bertanya: "Sebaiknya aku bicara atau diam saja?"
"Bicaralah!" sahut Thalhah dengan nada acuh tak acuh. "Toh anda tidak akan berkata baik mengenai diriku!"
"Aku mengenalmu sejak jari-jarimu luka pada waktu perang Uhud," kata Khalifah Umar r.a. kepada Thalhah. "Dan aku juga mengenal kecongkakan yang pernah muncul pada dirimu. Rasulullah wafat dalam keadaan beliau tidak senang kepadamu. Itu akibat kata-kata yang kau ucapkan ketika ayat Al-Hijab turun."
Menurut catatan yang dibuat oleh Syeikh Abu Utsman Al Jahidz, perkataan Thalhah yang dimaksud ialah ucapan kepada salah seorang sahabat. Kata-kata Thalhah itu akhirnya sampai juga ke telinga Rasulullah s.a.w.: "Apa arti larangan itu baginya (yakni bagi Rasulullah s.a.w.) sekarang ini? Dia bakal mati. Lalu kita bakal menikahi perempuan-perempuan itu!" (Baca juga: Thalhah bin Ubaidillah, Berjalan di Muka Bumi Sesudah Kematiannya )
Habis berbicara tentang pribadi Thalhah, Khalifah Umar r.a. melihat kepada Sa'ad bin Abi Waqqash . Kepadanya Umar r.a. berkata: "Engkau seorang yang mempunyai banyak kuda perang. Dengan kuda-kuda itu engkau telah berjuang dan berperang. Banyak sekali senjata yang kau miliki, busur dan anak panahnya. Tetapi kabilah Zuhrah (asal Saad), kurang tepat untuk memangku jabatan Khalifah dan memimpin urusan kaum muslimin." (Baca juga: Doa Sa'ad bin Abi Waqqash Bukan untuk Dirinya Sendiri yang Buta )
Tibalah sekarang giliran Khalifah Umar r.a. menilai pribadi Abdurrahman bin 'Auf , yang rupanya sudah siap mendengarkan penilaiannya. "Jika separoh kaum muslimin imannya ditimbang dengan imanmu," kata Khalifah Umar r.a., "maka imanmulah yang lebih berat. Tetapi kekhalifahan tidak tepat kalau dipegang oleh seorang yang lemah seperti engkau. Kabilah Zuhrah (asal Abdurrahman bin 'Auf juga) kurang kena untuk urusan itu." (Baca juga: Begini Sidang Majelis Syuro Saat Menetapkan Utsman bin Affan Menjadi Khalifah )
Lihat Juga :