Dahsyatnya Kesabaran Nabi Muhammad dan Kaum Muslimin Ketika Diboikot 3 Tahun

Selasa, 09 Februari 2021 - 15:43 WIB
1. Mereka tidak menikah dengan wanita-wanita dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.

2. Mereka tidak minikahkan putri-putri mereka dengan orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.

3. Mereka tidak menjual sesuatu apa pun kepada Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.

4. Mereka tidak membeli sesuatu apa pun dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib. (Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al Muafiri, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam I, Darul Falah, 2004)

3 Tahun di Kediaman Abu Thalib

Pemboikotan semakin diperketat sehingga makanan dan stok pun habis. Sementara kaum musyrikin tidak membiarkan makanan apapun yang masuk ke Makkah atau dijual kecuali mereka segera memborongnya. Tindakan ini membuat kondisi Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib semakin kepayahan dan memprihatinkan.

Mereka terpaksa memakan dedaunan dan kulit-kulit. Selain itu, jeritan kaum wanita dan tangis bayi-bayi yang mengerang kelaparan pun terdengar di balik kediaman tersebut. Tidak ada yang sampai ke tangan mereka kecuali secara sembunyi-sembunyi, dan merekapun tidak keluar rumah untuk membeli keperluan keseharian kecuali pada Asyhur al-Hurum (bulan-bulan yang diharamkan berperang).

Mereka membelinya dari rombongan yang datang dari luar Makkah, akan tetapi penduduk Makkah menaikkan harga barang-barang kepada mereka beberapa kali lipat agar mereka tidak mampu membelinya. Benar-benar derita yang sulit bagi Nabi dan para sahabat.

Hakim bin Hizam pernah membawa gandum untuk diberikan kepada bibinya, Sayyidah Khadijah radhiallaahu 'anha (istri Nabi Muhammad), namun suatu ketika dia dihadang oleh Abu Jahal dan diinterogasi olehnya guna mencegah upayanya. Untung saja, ada Abu al-Bukhturiy menengahi dan membiarkannya lolos membawa gandum itu kepada bibinya.

Di lain pihak, Abu Thalib merasa khawatir atas keselamatan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Untuk itu, dia biasanya memerintahkan beliau untuk berbaring di tempat tidurnya bila orang-orang beranjak ke tempat tidur mereka. Hal ini agar memudahkannya untuk mengetahui siapa yang hendak membunuh beliau. Dan manakala orang-orang sudah benar-benar tidur, dia memerintahkan salah satu dari putera-putera, saudara-saudara atau keponakan-keponakannya untuk tidur di tempat tidur Rasulullah sementara beliau diperintahkan tidur di tempat tidur mereka.

Baca Juga: 11 Ramadhan, Hari Kesedihan Nabi Saat Ditinggal Wafat Istri Tercinta
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!