Ini Mengapa Ujian Bisa Berubah Menjadi Bencana yang Dahsyat
Rabu, 10 Februari 2021 - 13:53 WIB
Nabi menjawab: “Benar, kemudian bagi mereka berubah menjadi rahmat.” (HR. Ahmad dalam Tafsir Ibnu Katsir 2/ 275).
Sungguh sangat jelas, terjadinya malapetaka merupakan buah akibat dari perbuatan manusia sendiri yang mengundang laknat dan murka Allah yang bukan hanya menimpa pelaku kezaliman saja, melainkan termasuk orang-orang saleh sekali pun akan ikut menanggung derita karenanya.
Baca juga: Kesimpulan Penelitian Dua Intelektual Muslim: Kiamat Terjadi Tahun 2280 M
Orang zalim binasa karena kezalimannya, sedangkan orang saleh dibinasakan karena diamnya, bungkam, diam seribu bahasa dan tidak mencegah kemaksiatan serta kezaliman. (Lihat: As-Syaukani dalam Fathul Oadir 2/ 376 dan As-Shabuni dai Shafwatut Tafaasir 1/ 500).
Maka sangatlah wajar, di antara para Ahli Tafsir menyebutkan, bahwa penyebab malapetaka muncul dikarenakan manusia telah banyak meninggalkan al-amru bil ma'ruuf wan nahyu 'anil munkar. (Khalid “Abdurrahman al-'Akk. Shafwatul Bayaan Lima'aanil Gur'aan, hlm. 52).
Maha benar Allah atas segala firmanNya: “Hendaklah kalian takut akan ujian berupa adzab Allah, di mana Allah tidak akan menimpakannya secara khusus kepada orang-orang zalim semata. Ingatlah sesungguhnya Allah Maha keras siksaannya.”" (OS. Al-Anfaal/8: 25).
Dahsyatnya Bencana
Dalam kenyataannya, terkadang kaum Muslimin mendapatkan ujian, terkadang dengan perkara yang baik (bil khair), juga terkadang dengan perkara yang buruk (bis syarr). Ujian dengan perkara yang baik-baik di antaranya melimpahnya kekayaan alam, pesatnya pembangunan atau majunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin mutakhir. Adapun ujian dengan perkara yang buruk-buruk, di antaranya banyaknya bencana yang menimpa, dari kemarau panjang sampai banjir bandang, dari gempa bumi, gunung meletus sampai tsunami. Singkatnya dari “banjir duit" sampai “banjir lumpur" masuk di dalamnya.
Semua ini terjadi ketika manusia masih di dunia, maka Rasulullah shalallaahu 'alahi wa sallam mengistilahkannya dengan fitnah dunia (fitnatul mahyaa, cobaan selagi hidup). Tentu saja ada cobaan yang lain yang lebih dahsyat ketimbang cobaan dunia, itulah yang dinamakan fitnah negeri akhirat (fitnatul mamaat: cobaan setelah kematian, di antaranya menjawab pertanyaan malaikat di alam barzakh.
Dapat menjawab berarti nikmat, tidak dapat menjawab berarti azab atau mushibah). (Sunan an-Nasaai bis Syarhil Hafizh Jalaluddin as-Suyithi wa Haasyiyatil Imam as-Sindi, 2/ 57).
Baca juga: Kiamat Sudah Dekat: Banyak Kematian Mendadak, Virus Mengganas
Oleh karenanya, Rasulullah mengingatkan, kehidupan dunia selalu diuji dengan kenikmatan, sementara kehidupan akhirat selalu diuji dengan kepahitan. “Kelezatan dunia adalah empedunya akhirat, sedangkan kepahitan dunia adalah madunya akhirat." (HR Al-Hakim dan Ahmad dalam Washayal Ulamaa 'Inda Hudhuuril Maut, tahgieg Musthafa Abdul Gadir Atha', hlm. 102).
Sebagai Renungan
Kembali kepada ujian dunia, yaitu bencana demi bencana yang menimpa umat manusia, seyogianya menjadi bahan renungan dengan pendekatan yang dapat mengantarkan seseorang semakin dekat dan merapat kepada yang mendatangkan ujian, yakni Allah Rabbunaa Taabaaraka wa Ta'ala. Itulah yang disebutkan pendekatan akidah, di mana kembalinya umat manusia kepada akidah yang benar merupakan solusi atas setiap musibah yang menimpa.
Di antara renungan yang dimaksud adalah:
1) Menjadikan semua peristiwa sebagai pembimbing peringatan yang dapat menambahkan keimanan akan kesempurnaan kuasa dan kekuatan Allah azza wa jalla serta menyakini bahwa Allahlah yang mengatur sesuai kehendakNya dan berkehendak mengadzab manusia, baik “adzab dari atas" semisal petir, halilintar yang menghancurkan dan angin topan, serta "adzab dari bawah" semisal gempa dan tanah longsor (Renungan QS Al-An'aam/ 6: 65).
2) Menjadikan semua peristiwa sebagai sesuatu yang dapat mendatangkan rasa takut dikarenakan keagunganNya (Renungan QS. Al-Isra'/ 17: 59).
3) Setelah terjadinya bencana, merenungkan betapa bijaknya Allah meletakkan manusia di bumi yang tidak bergoncang ini (Renungan QS. Ghaafir/ 40: 64).
Sungguh sangat jelas, terjadinya malapetaka merupakan buah akibat dari perbuatan manusia sendiri yang mengundang laknat dan murka Allah yang bukan hanya menimpa pelaku kezaliman saja, melainkan termasuk orang-orang saleh sekali pun akan ikut menanggung derita karenanya.
Baca juga: Kesimpulan Penelitian Dua Intelektual Muslim: Kiamat Terjadi Tahun 2280 M
Orang zalim binasa karena kezalimannya, sedangkan orang saleh dibinasakan karena diamnya, bungkam, diam seribu bahasa dan tidak mencegah kemaksiatan serta kezaliman. (Lihat: As-Syaukani dalam Fathul Oadir 2/ 376 dan As-Shabuni dai Shafwatut Tafaasir 1/ 500).
Maka sangatlah wajar, di antara para Ahli Tafsir menyebutkan, bahwa penyebab malapetaka muncul dikarenakan manusia telah banyak meninggalkan al-amru bil ma'ruuf wan nahyu 'anil munkar. (Khalid “Abdurrahman al-'Akk. Shafwatul Bayaan Lima'aanil Gur'aan, hlm. 52).
Maha benar Allah atas segala firmanNya: “Hendaklah kalian takut akan ujian berupa adzab Allah, di mana Allah tidak akan menimpakannya secara khusus kepada orang-orang zalim semata. Ingatlah sesungguhnya Allah Maha keras siksaannya.”" (OS. Al-Anfaal/8: 25).
Dahsyatnya Bencana
Dalam kenyataannya, terkadang kaum Muslimin mendapatkan ujian, terkadang dengan perkara yang baik (bil khair), juga terkadang dengan perkara yang buruk (bis syarr). Ujian dengan perkara yang baik-baik di antaranya melimpahnya kekayaan alam, pesatnya pembangunan atau majunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin mutakhir. Adapun ujian dengan perkara yang buruk-buruk, di antaranya banyaknya bencana yang menimpa, dari kemarau panjang sampai banjir bandang, dari gempa bumi, gunung meletus sampai tsunami. Singkatnya dari “banjir duit" sampai “banjir lumpur" masuk di dalamnya.
Semua ini terjadi ketika manusia masih di dunia, maka Rasulullah shalallaahu 'alahi wa sallam mengistilahkannya dengan fitnah dunia (fitnatul mahyaa, cobaan selagi hidup). Tentu saja ada cobaan yang lain yang lebih dahsyat ketimbang cobaan dunia, itulah yang dinamakan fitnah negeri akhirat (fitnatul mamaat: cobaan setelah kematian, di antaranya menjawab pertanyaan malaikat di alam barzakh.
Dapat menjawab berarti nikmat, tidak dapat menjawab berarti azab atau mushibah). (Sunan an-Nasaai bis Syarhil Hafizh Jalaluddin as-Suyithi wa Haasyiyatil Imam as-Sindi, 2/ 57).
Baca juga: Kiamat Sudah Dekat: Banyak Kematian Mendadak, Virus Mengganas
Oleh karenanya, Rasulullah mengingatkan, kehidupan dunia selalu diuji dengan kenikmatan, sementara kehidupan akhirat selalu diuji dengan kepahitan. “Kelezatan dunia adalah empedunya akhirat, sedangkan kepahitan dunia adalah madunya akhirat." (HR Al-Hakim dan Ahmad dalam Washayal Ulamaa 'Inda Hudhuuril Maut, tahgieg Musthafa Abdul Gadir Atha', hlm. 102).
Sebagai Renungan
Kembali kepada ujian dunia, yaitu bencana demi bencana yang menimpa umat manusia, seyogianya menjadi bahan renungan dengan pendekatan yang dapat mengantarkan seseorang semakin dekat dan merapat kepada yang mendatangkan ujian, yakni Allah Rabbunaa Taabaaraka wa Ta'ala. Itulah yang disebutkan pendekatan akidah, di mana kembalinya umat manusia kepada akidah yang benar merupakan solusi atas setiap musibah yang menimpa.
Di antara renungan yang dimaksud adalah:
1) Menjadikan semua peristiwa sebagai pembimbing peringatan yang dapat menambahkan keimanan akan kesempurnaan kuasa dan kekuatan Allah azza wa jalla serta menyakini bahwa Allahlah yang mengatur sesuai kehendakNya dan berkehendak mengadzab manusia, baik “adzab dari atas" semisal petir, halilintar yang menghancurkan dan angin topan, serta "adzab dari bawah" semisal gempa dan tanah longsor (Renungan QS Al-An'aam/ 6: 65).
2) Menjadikan semua peristiwa sebagai sesuatu yang dapat mendatangkan rasa takut dikarenakan keagunganNya (Renungan QS. Al-Isra'/ 17: 59).
3) Setelah terjadinya bencana, merenungkan betapa bijaknya Allah meletakkan manusia di bumi yang tidak bergoncang ini (Renungan QS. Ghaafir/ 40: 64).
Lihat Juga :