Ibadah Senang, Gus Baha Bilang Tertawa Kencang Itu Juga Ibadah
Selasa, 16 Februari 2021 - 17:41 WIB
Kemudian Rais Syuriyah PBNU ini juga teringat sewaktu kecil diajak sowan Kiai Hamid Baidlowi. Ketika itu ada Mbah Ali Maksum yang ceramah dengan guyon.
“Setahu saya orang saleh-saleh juga guyon terus. Itu bukan guyon – mohon maaf – arogan, tidak. Tapi supaya farah bi-a’laillah wa bina’ma’i, supaya senang (bahwa) di dunia itu masih banyak nikmatnya daripada masalahnya,” ungkap kiai yang hafal Al-Qur'an 30 juz ini.
Gus Baha pun meminta kepada putra-putri KH Attabi’ Ali, menantu, cucu dan semuanya untuk tetap senang; bahwa KH Atabik Ali senang guyon itu bukan hal yang adat, tetapi ibadah dan ada ilmunya.
Baca juga: Arab Saudi Dilaporkan Tangkap Ulama Perempuan karena Mengajar Al-Qur'an di Rumah
Dalam kesempatan itu beliau juga mengungkapkan, bahwa Imam Ghazali yang terkenal khusyu’ dan sufi, di antara yang diriwayatkan adalah: Inna min khiyari ummati fimaa nabbaanil mala-ul a’la qauman yadhakuuna jahran min sa’ati rahmatillah, wa yabquuna sirran min khaufi ‘adzaabih. Umatku pilihan, sesuai yang saya dapatkan dari mala’il a’la, katanya, itu kaum-kaum yang kalau tertawa itu keras.
“Jadi tertawa kencang itu juga ibadah. Alhamdulillah itu mudah,” kata Gus Baha.
Beliau pun meminta untuk tidak usah berkecil hati, karena memang ma qaddarahullah.
Gus Baha meminta “fiqih senang” ini difiqihkan secara permanen.
“Sudahlah, percaya saya: tidak ada ibadah sehebat senang. Karena setan itu, innama najwa minasy syaithan liyahzunalladziina aamanu. Jadi setan itu targetnya biar orang mukmin susah. Kalau sudah susah, terus lama-lama kecewa dengan keadaan. Kalau kecewa, mungkin – mohon maaf – jadi orang yang sangat keras, atau tidak rida (rela) dengan Qada – Qadar. Sekali tidak rida dengan Qada – Qadar itu ancamannya berat,” terangnya.
Man lam yardla bi qadla-i, walam yashbir ‘alaa bala-i, falyatlub rabban siwa-i, wal yakhruj min tahtil ardli was-sama-i.
“Setahu saya orang saleh-saleh juga guyon terus. Itu bukan guyon – mohon maaf – arogan, tidak. Tapi supaya farah bi-a’laillah wa bina’ma’i, supaya senang (bahwa) di dunia itu masih banyak nikmatnya daripada masalahnya,” ungkap kiai yang hafal Al-Qur'an 30 juz ini.
Gus Baha pun meminta kepada putra-putri KH Attabi’ Ali, menantu, cucu dan semuanya untuk tetap senang; bahwa KH Atabik Ali senang guyon itu bukan hal yang adat, tetapi ibadah dan ada ilmunya.
Baca juga: Arab Saudi Dilaporkan Tangkap Ulama Perempuan karena Mengajar Al-Qur'an di Rumah
Dalam kesempatan itu beliau juga mengungkapkan, bahwa Imam Ghazali yang terkenal khusyu’ dan sufi, di antara yang diriwayatkan adalah: Inna min khiyari ummati fimaa nabbaanil mala-ul a’la qauman yadhakuuna jahran min sa’ati rahmatillah, wa yabquuna sirran min khaufi ‘adzaabih. Umatku pilihan, sesuai yang saya dapatkan dari mala’il a’la, katanya, itu kaum-kaum yang kalau tertawa itu keras.
“Jadi tertawa kencang itu juga ibadah. Alhamdulillah itu mudah,” kata Gus Baha.
Beliau pun meminta untuk tidak usah berkecil hati, karena memang ma qaddarahullah.
Gus Baha meminta “fiqih senang” ini difiqihkan secara permanen.
“Sudahlah, percaya saya: tidak ada ibadah sehebat senang. Karena setan itu, innama najwa minasy syaithan liyahzunalladziina aamanu. Jadi setan itu targetnya biar orang mukmin susah. Kalau sudah susah, terus lama-lama kecewa dengan keadaan. Kalau kecewa, mungkin – mohon maaf – jadi orang yang sangat keras, atau tidak rida (rela) dengan Qada – Qadar. Sekali tidak rida dengan Qada – Qadar itu ancamannya berat,” terangnya.
Man lam yardla bi qadla-i, walam yashbir ‘alaa bala-i, falyatlub rabban siwa-i, wal yakhruj min tahtil ardli was-sama-i.
Lihat Juga :