Lebanon: Negara Sektarianistik Tanpa Tedeng Aling-aling

Sabtu, 27 Maret 2021 - 09:50 WIB
Para sarjana pelopor Bahasa Arab modern tersebut sebagian besar adalah pemeluk agama Kristen/Nasrani. Hasil perbaikan yang dilakukan oleh mereka menyebabkan bahasa Arab modern lebih dekat dengan bahasa Arab Formal (Fusha). Gerakan modernisasi Arab, termasuk modernisasi bahasa Arab terjadi pada akhir tahun 1900-an sampai tahun 2000-an.

“Pelopornya banyak yang beragama Kristen, maka kalau kamus-kamus bahasa Arab misalnya Al Munjid itu ditulis oleh ahli bahasa Arab Nasrani,” katanya dalam acara bincang buku Antropology of The Arabs yang diadakan MPI PWM Jabar pada Kamis (24/3).

Baca juga: PP Muhammadiyah Resmi Putuskan Waktu Salat Subuh Mundur 8 Menit

Bahkan kamus besar yang berjudul Muhith Al Muhith juga ditulis oleh seorang Kristen yang bernama Butsur Al Bustani. Yang unik dari kamus ini, kata Hadjri, adalah rujukannya, yakni merujuk kepada Kitab Suci Al Qur’an. Meskipun beragama Kristen, Butsur Al Bustani seringkali merujuk dan mengutip kalimat dari Al Qur’an.

“Bahasa itu pengaruhnya besar dalam kebudayaan,” imbuhnya, sebagaimana disiarkan laman resmi Muhammadiyah.

Menceritakan isi buku yang ditulisnya “Antropology of The Arab”, dengan renyah Hadjri menjelaskan, dalam pendekatan antropologi dirinya banyak menemukan keunikan yang dimiliki oleh bangsa Arab. Di antaranya adalah terkait dengan budaya makannya, dalam penelusurannya, Hadjri menemukan makan dalam budaya bangsa Arab memiliki posisi tersendiri.

Kuat Makan

Di Arab, katanya, orang tua yang mencari menantu laki-laki untuk anak perempuannya, kriteria salah satunya ditandai dengan kekuatan makannya. Jika semakin banyak dan kuat makan si laki-laki, maka potensi diterima sebagai menantu semakin besar. Orang Arab, kata Hadjri, volume makannya 2 setengah atau 3 kali lebih banyak dari orang Indonesia.

Selain makanan, dirinya juga membahas tentang antropologi pakaian. Ia menjelaskan, bangsa Arab yang terkenal konservatif/tradisional dalam cara berpakaian, namun mereka mengalami kemajuan yang luar biasa, terlebih dalam bidang ekonomi dan pendidikan yang mulai bergerak naik. Bangsa Arab begitu cinta kepada pakaian tradisionalnya, mereka dengan bangga memakai gamis dalam pertemuan-pertemuan internasional dan menjamu tamu internasional.

“Negaranya sangat maju, padahal mereka tradisionil-konservatif, negara sistem politiknya juga tradisionil-konservatif. Tapi negara Arab yang sok Barat, tampil modern. Yang pakai jas, berdasi, namanya presiden, perdana mentri itu pendapatan perkapitanya rendah, seperti Mesir, Suriah, Aljazair, Lebanon, dan lain sebagainya,” seloroh Hadjri.

Baca juga: Paus Fransiskus: Kunjungan Selanjutnya ke Lebanon yang Menderita
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!