Tipe Manusia dalam Mengekspresikan Rasa Syukur Menurut Imam Al Ghazali
Senin, 29 Maret 2021 - 08:42 WIB
Ekspresi kebahagiaan tumbuh atas nikmat Allah subhanahu wata’ala, dan inilah salah satu bentuk ekspresi syukur nikmat bahwa nikmat itu adalah pemberian-Nya dan membuat semakin dekat dengan Allah Taala. Foto ilustrasi/ist
Banyak nikmat di dunia yang telah kita dapatkan. Maka, sudah selayaknya kita patut untuk bersyukur dan berterima kasih pada Allah Subhanahu wa ta'ala. Dalam bersyukur manusia memiliki ekspresi sendiri-sendiri, dan Imam Al-Ghazali menjelaskan tipe-tipe manusia dalam mengekspresikan syukur nikmat ini.
Allah Ta'ala berfirman :
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Baca juga: Hati-hati, Banyak Pintu 'Zina' Terbuka di Dunia Maya
Ayat ini menjelaskan betapa pentingnya syukur nikmat dan selalu bersyukur kepada Allah Ta'ala. Dalam kitab 'Ihya Ulumudin', Imam Al Ghazali menjelaskan tentang hakikat syukur. Ia menyebutkan bahwa keadaan (haal) yang diekspresikan seseorang bisa mengungkapkan apakah syukurnya tersebut hakiki atau hanya sebuah kepalsuan belaka .
Imam Al Ghazali menerangkan definisi mengekspresikan syukur yang hakiki adalah sebagai berikut,
الفَرَحُ بِالْمُنْعِمِ مَعَ هَيْئَةِ الْخُضُوْعِ وَالتَّوَاضُعِ
“Eskpresi kebahagiaan terhadap sang pemberi nikmat dengan penuh ketundukan dan kerendahan diri.”
Baca juga: Sahur dan Keutamaannya, Inilah Pembeda Puasa Umat Muslim
Jadi, ekspresi syukur yang benar bukanlah terhadap nikmat yang diberi akan tetapi karena siapa yang memberi.
Imam al-Ghazali kemudian menjelaskan lebih detail terkait ekspresi kebahagiaan atas nikmat Allah. Beliau membagi manusia menjadi tiga tipe dalam mengekspresikan kebahagiaan ketika mendapatkan nikmat.
Tiga tipe ini, beliau ilustrasikan dengan seorang raja yang ingin mengadakan sebuah perjalanan, lantas raja tersebut menghadiahkan seekor kuda kepada seseorang dengan tujuan agar ia mau menemani perjalannya.
Allah Ta'ala berfirman :
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Baca juga: Hati-hati, Banyak Pintu 'Zina' Terbuka di Dunia Maya
Ayat ini menjelaskan betapa pentingnya syukur nikmat dan selalu bersyukur kepada Allah Ta'ala. Dalam kitab 'Ihya Ulumudin', Imam Al Ghazali menjelaskan tentang hakikat syukur. Ia menyebutkan bahwa keadaan (haal) yang diekspresikan seseorang bisa mengungkapkan apakah syukurnya tersebut hakiki atau hanya sebuah kepalsuan belaka .
Imam Al Ghazali menerangkan definisi mengekspresikan syukur yang hakiki adalah sebagai berikut,
الفَرَحُ بِالْمُنْعِمِ مَعَ هَيْئَةِ الْخُضُوْعِ وَالتَّوَاضُعِ
“Eskpresi kebahagiaan terhadap sang pemberi nikmat dengan penuh ketundukan dan kerendahan diri.”
Baca juga: Sahur dan Keutamaannya, Inilah Pembeda Puasa Umat Muslim
Jadi, ekspresi syukur yang benar bukanlah terhadap nikmat yang diberi akan tetapi karena siapa yang memberi.
Imam al-Ghazali kemudian menjelaskan lebih detail terkait ekspresi kebahagiaan atas nikmat Allah. Beliau membagi manusia menjadi tiga tipe dalam mengekspresikan kebahagiaan ketika mendapatkan nikmat.
Tiga tipe ini, beliau ilustrasikan dengan seorang raja yang ingin mengadakan sebuah perjalanan, lantas raja tersebut menghadiahkan seekor kuda kepada seseorang dengan tujuan agar ia mau menemani perjalannya.
Lihat Juga :