Sejarah Singkat Perkembangan Ilmu Tafsir Al-Qur'an (1)
Minggu, 11 April 2021 - 09:02 WIB
Tercatat paling tidak di masa ini terdapat 3 corak aliran tafsir yang masing-masing berkembang di Makkah, Madinah dan Irak.
1. Aliran Makkah yang berkiblat pada Ibn Abbas. Di antara murid-murid Ibn Abbas, yaitu Sa’id Ibn Jabr, Mujahid Ibn Jabir al-Makky, Atha Ibn Abi Rab’ah, Ikrimah dll.
2. Aliran Madinah yang berkiblat pada Ubay bin Ka’ab. Di antara murid-muridnya, Anas bin Malik, Abdurrahman bin Zayd, dll.
3. Aliran Irak yang berkiblat pada Ibn Mas’ud. Di antara murid-murid Ibn Mas’ud, yaitu: Qatadah dan Imam Hasan al-Bashri, dll.
Pada masa ini tafsir masih merupakan bagian dari hadis namun masingmasing madrasah meriwayatkan dari guru mereka sendiri-sendiri. Ketika datang masa kodifikasi hadis, riwayat yang berisi tafsir sudah menjadi bab tersendiri. Namun belum sistematis sampai masa sesudahnya ketika pertama kali dipisahkan antara kandungan hadits dan tafsir sehingga menjadi kitab tersendiri.
Usaha ini dilakukan oleh para ulama sesudahnya seperti Ibnu Majah, Ibnu Jarir ath-Thabari, Abu Bakr ibn al-Munzir an-Naisaburi dan lainnya. Metode pengumpulan inilah yang disebut Tafsir bil Ma`tsur. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah menuntut pengembangan metodologi tafsir dengan memasukan unsur ijtihad yang lebih besar. Meskipun begitu mereka tetap berpegangan pada tafsir bi al-Ma'tsur dan metode lama dengan pengembangan ijtihad berdasarkan perkembangan masa tersebut.
Hal ini melahirkan apa yang disebut sebagai Tafsir bi ar-Ra'yi yang memperluas ijtihad dibandingkan masa sebelumnya. Lebih lanjut perkembangan ajaran tasawuf melahirkan pula sebuah tafsir yang biasa disebut sebagai Tafsir Isyari.
Perkembangan selanjutnya, ilmu tafsir terus menerus menjadi perhatian khusus bagi kaum muslimin berabad-abad lamanya dari generasi ke generasi hingga hari ini. Terkait periodesasi sejarah perkembangan ilmu tafsir Al-Qur'an, dapatlah kita bagi menjadi tiga periode, yaitu periode awal, periode pertengahan dan periode masa modern saat ini.
(Bersambung)
Baca Juga: Cara Rasulullah Membaca Al-Qur'an Memukau Sahabat
1. Aliran Makkah yang berkiblat pada Ibn Abbas. Di antara murid-murid Ibn Abbas, yaitu Sa’id Ibn Jabr, Mujahid Ibn Jabir al-Makky, Atha Ibn Abi Rab’ah, Ikrimah dll.
2. Aliran Madinah yang berkiblat pada Ubay bin Ka’ab. Di antara murid-muridnya, Anas bin Malik, Abdurrahman bin Zayd, dll.
3. Aliran Irak yang berkiblat pada Ibn Mas’ud. Di antara murid-murid Ibn Mas’ud, yaitu: Qatadah dan Imam Hasan al-Bashri, dll.
Pada masa ini tafsir masih merupakan bagian dari hadis namun masingmasing madrasah meriwayatkan dari guru mereka sendiri-sendiri. Ketika datang masa kodifikasi hadis, riwayat yang berisi tafsir sudah menjadi bab tersendiri. Namun belum sistematis sampai masa sesudahnya ketika pertama kali dipisahkan antara kandungan hadits dan tafsir sehingga menjadi kitab tersendiri.
Usaha ini dilakukan oleh para ulama sesudahnya seperti Ibnu Majah, Ibnu Jarir ath-Thabari, Abu Bakr ibn al-Munzir an-Naisaburi dan lainnya. Metode pengumpulan inilah yang disebut Tafsir bil Ma`tsur. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah menuntut pengembangan metodologi tafsir dengan memasukan unsur ijtihad yang lebih besar. Meskipun begitu mereka tetap berpegangan pada tafsir bi al-Ma'tsur dan metode lama dengan pengembangan ijtihad berdasarkan perkembangan masa tersebut.
Hal ini melahirkan apa yang disebut sebagai Tafsir bi ar-Ra'yi yang memperluas ijtihad dibandingkan masa sebelumnya. Lebih lanjut perkembangan ajaran tasawuf melahirkan pula sebuah tafsir yang biasa disebut sebagai Tafsir Isyari.
Perkembangan selanjutnya, ilmu tafsir terus menerus menjadi perhatian khusus bagi kaum muslimin berabad-abad lamanya dari generasi ke generasi hingga hari ini. Terkait periodesasi sejarah perkembangan ilmu tafsir Al-Qur'an, dapatlah kita bagi menjadi tiga periode, yaitu periode awal, periode pertengahan dan periode masa modern saat ini.
(Bersambung)
Baca Juga: Cara Rasulullah Membaca Al-Qur'an Memukau Sahabat
(rhs)
Lihat Juga :