Happy Beragama, Gus Baha: Agama Harus Membawa Keceriaan Hati
Minggu, 19 April 2020 - 10:25 WIB
Namun demikian, Gus Baha tidak menafikkan adanya potongan hadis selanjutnya. Kalimat wa yabkuna sirran (menangis secara sembunyi), diinterpretasikan Gus Baha agar kita menangis pada malam hari ketika kita sedang ber-munajat pada Allah.
Derai dan linang air mata di kesunyian malam tersebut sebagai bentuk ekspresi rasa takut pada siksa Allah (khaufan min azabihi). Namun anehnya, perilaku orang-orang sekarang justru mempertontonkan sebaliknya.
“Jangan seperti perilaku orang-orang sekarang yang tampil sebaliknya. Mereka menangis di hadapan publik, namun ketika diberi uang, ia akan tertawa di kamar sendirian. Wahh…kalau begitu, orang ini bermasalah secara sanad. Ini tidak menyindir siapa-siapa ya… biasa saja," sindir Gus Baha.
Ketiga, berdasar tradisi sahabat. Menurut Gus Baha, sekalipun pernah terjadi konflik di era Sahabat Ali dengan Mu’awiyah, namun hebatnya tidak membuat para sahabat larut dalam kesedihan yang begitu mendalam. Mereka tetap bercanda ria, tertawa dan goyun.
Realitas ini berdasarkan pernyataan sahabat, “Yang paling aku sukai dari orang alim itu adalah ceria (thaliqin) dan banyak guyon (midlhakin)”. Berdasar tradisi tersebut, maka tugas kiai atau dai, harus tampil ceria dan tidak menakut-nakuti.
Keempat, berdasar tradisi tabi’in. Gus Baha mengutip pendapat Ibnu Hajar al-‘Asqalani, bahwa, “senang itu adalah ibadah dan puncak keimanan adalah mansinya iman (halawatal iman)”.
Syarat menemukan halawatal iman, harus merasa nyaman yang diekspresikan dengan nuansa guyon dan tertawa. Akan tetapi, seringkali, dalam konteks kehidupan nyata, normativitas Islam sebagai agama yang membawa kebahagiaan, direduksi oleh casing religiusitas kita yang tampil dengan kesedihan dan kegundahan.
“Kita seringkali mengeluarkan statemen bahwa Islam itu agama yang top dan hebat. Agama yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Namun statemen tersebut selalu diucapkan dengan nada sedih, gundah, kalut dan kusut. Yaa…akhirnya Malaikat bingung dan tidak berani menghadapi orang yang seperti itu,” demikian Gus Baha.
Derai dan linang air mata di kesunyian malam tersebut sebagai bentuk ekspresi rasa takut pada siksa Allah (khaufan min azabihi). Namun anehnya, perilaku orang-orang sekarang justru mempertontonkan sebaliknya.
“Jangan seperti perilaku orang-orang sekarang yang tampil sebaliknya. Mereka menangis di hadapan publik, namun ketika diberi uang, ia akan tertawa di kamar sendirian. Wahh…kalau begitu, orang ini bermasalah secara sanad. Ini tidak menyindir siapa-siapa ya… biasa saja," sindir Gus Baha.
Ketiga, berdasar tradisi sahabat. Menurut Gus Baha, sekalipun pernah terjadi konflik di era Sahabat Ali dengan Mu’awiyah, namun hebatnya tidak membuat para sahabat larut dalam kesedihan yang begitu mendalam. Mereka tetap bercanda ria, tertawa dan goyun.
Realitas ini berdasarkan pernyataan sahabat, “Yang paling aku sukai dari orang alim itu adalah ceria (thaliqin) dan banyak guyon (midlhakin)”. Berdasar tradisi tersebut, maka tugas kiai atau dai, harus tampil ceria dan tidak menakut-nakuti.
Keempat, berdasar tradisi tabi’in. Gus Baha mengutip pendapat Ibnu Hajar al-‘Asqalani, bahwa, “senang itu adalah ibadah dan puncak keimanan adalah mansinya iman (halawatal iman)”.
Syarat menemukan halawatal iman, harus merasa nyaman yang diekspresikan dengan nuansa guyon dan tertawa. Akan tetapi, seringkali, dalam konteks kehidupan nyata, normativitas Islam sebagai agama yang membawa kebahagiaan, direduksi oleh casing religiusitas kita yang tampil dengan kesedihan dan kegundahan.
“Kita seringkali mengeluarkan statemen bahwa Islam itu agama yang top dan hebat. Agama yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Namun statemen tersebut selalu diucapkan dengan nada sedih, gundah, kalut dan kusut. Yaa…akhirnya Malaikat bingung dan tidak berani menghadapi orang yang seperti itu,” demikian Gus Baha.
(mhy)
Lihat Juga :