Begini Kondisi Maju Pesatnya Dinasti Abbasiyah di Era Abu Nawas
Selasa, 01 Juni 2021 - 14:07 WIB
Pada periode itu pula muncul tokoh-tokoh besar dan ulama kenamaan serta buku-buku yang tidak ternilai harganya, yang semuanya telah mengantarkan kemuliaan bahasa Al-Qur'an itu sendiri.
Abu Hanifah dan murid-muridnya muncul sebagai tokoh dalam ilmu Syari'at, Imam Sibawaih terkenal dengan bidang pembukuan gramatika (nahwu), Ibnul Muqaffa' di bidang prosa, dan Bisyar serta tentu saja—Abu Nawas di bidang syair.
Dari sini pula berkembang ilmu ilmu yang lain, seperti filsafat, kedokteran, metafisika, fisika, dan lain-lain sehingga menjadi sebuah warisan adiluhung yang berlangsung sampai beberapa abad selanjutnya.
Kegiatan Edukatif
Termasuk penggerak utama pesatnya perkembangan ilmu dan kebudayaan di masa khilafah Abbasiyah adalah menjamurnya berbagai tempat belajar, baik berupa sekolah formal maupun nonformal, dan berbagai universitas yang biasanya berhimpitan di samping masjid ataupun di dalam masjid itu sendiri.
Gerakan ini dimulai oleh beberapa tokoh semisal al Jahidh, Ibnu Qutaibah, dan Ibnu Khalikan, dengan memberdayakan anak-anak untuk belajar menulis dan membaca, di samping mempelajari Al-Qur'an, syair Arab, prosa, maupun berhitung. Sementara itu, sebagian lagi dikonsentrasikan untuk mempelajari fardhu, sunnah, nahwu, ataupun 'arudh.
Baca juga: Benarkah Kisah Harun A-Rasyid dan Abu Nawas Bohong Belaka?
Berkembangnya Syair
Setelah adanya perkembangan yang lebih moderat dalam berbagai sektor, bidang syair juga mengalami perkembangan yang begitu menakjubkan. Namun, perkembangan syair ini seakan lepas kendali sehingga mendobrak banyak kaidah yang mengungkung para pujangga di masa lampau.
Dalam buku Ijinkan Kalbumu Berbisik Lagi karya Ahmad Ibnu Nizal (2011) disebutkanAbu Nawas dan Bisyar merupakan tokoh yang acapkali menyimpang dari garis para pendahulunya, sehingga boleh dikatakan termasuk angkatan pembaharu yang syair-syairnya tidak lagi mengikuti ketentuan uslub ahli agama ataupun filsafat.
Abu Hanifah dan murid-muridnya muncul sebagai tokoh dalam ilmu Syari'at, Imam Sibawaih terkenal dengan bidang pembukuan gramatika (nahwu), Ibnul Muqaffa' di bidang prosa, dan Bisyar serta tentu saja—Abu Nawas di bidang syair.
Dari sini pula berkembang ilmu ilmu yang lain, seperti filsafat, kedokteran, metafisika, fisika, dan lain-lain sehingga menjadi sebuah warisan adiluhung yang berlangsung sampai beberapa abad selanjutnya.
Kegiatan Edukatif
Termasuk penggerak utama pesatnya perkembangan ilmu dan kebudayaan di masa khilafah Abbasiyah adalah menjamurnya berbagai tempat belajar, baik berupa sekolah formal maupun nonformal, dan berbagai universitas yang biasanya berhimpitan di samping masjid ataupun di dalam masjid itu sendiri.
Gerakan ini dimulai oleh beberapa tokoh semisal al Jahidh, Ibnu Qutaibah, dan Ibnu Khalikan, dengan memberdayakan anak-anak untuk belajar menulis dan membaca, di samping mempelajari Al-Qur'an, syair Arab, prosa, maupun berhitung. Sementara itu, sebagian lagi dikonsentrasikan untuk mempelajari fardhu, sunnah, nahwu, ataupun 'arudh.
Baca juga: Benarkah Kisah Harun A-Rasyid dan Abu Nawas Bohong Belaka?
Berkembangnya Syair
Setelah adanya perkembangan yang lebih moderat dalam berbagai sektor, bidang syair juga mengalami perkembangan yang begitu menakjubkan. Namun, perkembangan syair ini seakan lepas kendali sehingga mendobrak banyak kaidah yang mengungkung para pujangga di masa lampau.
Dalam buku Ijinkan Kalbumu Berbisik Lagi karya Ahmad Ibnu Nizal (2011) disebutkanAbu Nawas dan Bisyar merupakan tokoh yang acapkali menyimpang dari garis para pendahulunya, sehingga boleh dikatakan termasuk angkatan pembaharu yang syair-syairnya tidak lagi mengikuti ketentuan uslub ahli agama ataupun filsafat.
Lihat Juga :