Berbangga dengan Dosa, Kok Bisa?

Kamis, 01 Juli 2021 - 16:04 WIB
Tindakan “mujaaharah” atau berterang-terangan dan berbangga dengan dosa ini memberikan makna bahwa si pelaku belum benar-benar tertancap iman dihatinya. Mengapa? Karena iman yang jujur akan menimbulkan rasa “muraaqabah” atau rasa terus diawasi oleh Allah Ta’ala, dan tentu akan ada malaikat yang selalu mencatat segala tindak tanduknya.

Baca juga: Terapkan PPKM Darurat, Bansos Akan Disalurkan Lagi

Sedangkan, seseorang yang tindakan berbangga dengan dosa tersebut justru menunjukkan bahwa si pelaku kurang mengenal tuhannya, Allah Ta’ala, yang salah satu namanya adalah As Sittir (Yang Maha Menutupi) yaitu menutupi dosa seorang hamba dan mengampuninya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اجتنبوا هذه القاذورات التي نهى الله تعالى عنها فمن ألم بشيء منها فليستتر بستر الله و ليتب إلى الله فإنه من يبد لنا صفحته نقم عليه كتاب الله

Baca juga: Sanksi Pelanggaran PPKM Darurat Diatur lewat Instruksi Mendagri

“Jauhilah perkara-perkara keji (maksiat) yang telah dilarang oleh Allah, maka barangsiapa yang telah melakukannya, hendaklah dia menyembunyikannya dengan tutupan (yang diberikan) Allah dan bertaubat kepada Allah Ta’ala. Maka barangsiapa menampakkan perkara keji (yang dilakukannya) kepada kami, kami akan menjatuhkan hukuman yang telah diperintahkan oleh Allah ‘Azzawa Jalla.” (HR Hakim dan Baihaqi)

Untuk itu, Ustadz Hadrami mengingatkan agar kita perbaiki medsos kita agar menjadi sarana berbagi kebaikan, bukan menjadi sumber malapetaka bagi akhirat. Berapa banyak dosa yang terluput dari kita untuk meminta ampun kepadanya, maka sebagai insan yang berfikir, tentu kita tidak ingin semakin terhalang dari ampunan sebab mujaharah/ berbangga dengan dosa ini.

Baca juga: Xi Jinping Sebut China Akan Jadi Kekuatan Dunia dalam 30 Tahun

Wallahu A'lam
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!