Peringatan Maulid Nabi SAW, Diambil dari Tradisi Syiah?
Sabtu, 09 Oktober 2021 - 17:02 WIB
Menurut catatan sejarah, tradisi-tradisi yang dilahirkan oleh Dinasti Ubaid tetap melekat dalam kehidupan masyarakat Mesir, bahkan sampai hari ini. Sebagai penguasa baru pada waktu itu, Shalahuddin Al-Ayyubi tidak sepenuhnya membuat aturan yang benar-benar baru. Untuk menjaga popularitasnya, beliau mengadaptasikan tradisi-tradisi yang sudah berkembang di masyarakat ke dalam aturan pemerintahannya.
Lalu bagaimana keterkaitannya dengan Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri yang juga menyelenggarakan Maulid Nabi? Waskito menjelaskan Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri dan Shalahuddin Al-Ayyubi hidup di masa yang sama, dan ternyata mereka berdua memiliki hubungan kekerabatan, mereka adalah saudara ipar.
Shalahuddin Al-Ayyubi memiliki saudara perempuan yang bernama Rabiah Khatun binti Ayyub, yang dinikahkan dengan saudara laki-laki dari Malik Al-Muzhaffar Abu Sa’id. Melihat efektifitas peringatan Maulid bagi semangat jihad masyarakat Mesir, besar kemungkinannya Malik Al-Muzhaffar Abu Sa’id ingin mengadaptasikan kegiatan tersebut di daerahnya.
Namun, sekarang mari kita lihat fakta sejarah lainnya, Ali bin Abu Thalib, khalifah ke-empat Sunni dan sekaligus Imam pertama bagi Syiah, beserta keluarga dan pengikutnya pindah ke Kufah pada tahun 36 Hijriyah, dan kemudian menjadikan kota tersebut sebagai pusat pemerintahannya yang sebelumnya berada di Madinah.
Baca juga: Sejarah Maulid Nabi dan Orang Pertama yang Merayakannya
Dalam banyak kisah, keberadaan Imam Ali di Kufah sangat membekas bagi penduduknya, di mana mereka melihat langsung keluhuran ilmu dan akhlak dari sang Imam beserta keturunannya, yakni Hasan dan Husain, yang kelak akan menjadi Imam selanjutnya bagi Syiah.
Syed Husain M. Jafri dalam bukunya berjudul The Origins and Early Development of Shi’a Islam menjelaskan Kufah adalah tempat pertama di mana Syiah menancapkan fondasi keyakinan dan pergerakannya ke dalam level baru yang lebih massif dan sistematis, yakni setelah kedatangan Khalifah ke-empat, Imam Ali bin Abi Thalib.
Kufah, yang kini menjadi bagian dari negara Irak yang mayoritas penduduknya adalah Syiah, besar kemungkinannya memiliki banyak kesamaan tradisi dengan Dinasti Syiah di Mesir pada masa Ubaid.
Mengingat pengaruh Syiah yang menyebar luas di Irak, bisa jadi, sebelum Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri naik ke tampuk kekuasaan, tradisi Maulid Nabi memang sudah pernah berlangsung di sana. Wallahua’lam.
Baca juga: MUI Tak Persoalkan Libur Tahun Baru Islam dan Maulid Nabi SAW Digeser
Lalu bagaimana keterkaitannya dengan Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri yang juga menyelenggarakan Maulid Nabi? Waskito menjelaskan Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri dan Shalahuddin Al-Ayyubi hidup di masa yang sama, dan ternyata mereka berdua memiliki hubungan kekerabatan, mereka adalah saudara ipar.
Shalahuddin Al-Ayyubi memiliki saudara perempuan yang bernama Rabiah Khatun binti Ayyub, yang dinikahkan dengan saudara laki-laki dari Malik Al-Muzhaffar Abu Sa’id. Melihat efektifitas peringatan Maulid bagi semangat jihad masyarakat Mesir, besar kemungkinannya Malik Al-Muzhaffar Abu Sa’id ingin mengadaptasikan kegiatan tersebut di daerahnya.
Namun, sekarang mari kita lihat fakta sejarah lainnya, Ali bin Abu Thalib, khalifah ke-empat Sunni dan sekaligus Imam pertama bagi Syiah, beserta keluarga dan pengikutnya pindah ke Kufah pada tahun 36 Hijriyah, dan kemudian menjadikan kota tersebut sebagai pusat pemerintahannya yang sebelumnya berada di Madinah.
Baca juga: Sejarah Maulid Nabi dan Orang Pertama yang Merayakannya
Dalam banyak kisah, keberadaan Imam Ali di Kufah sangat membekas bagi penduduknya, di mana mereka melihat langsung keluhuran ilmu dan akhlak dari sang Imam beserta keturunannya, yakni Hasan dan Husain, yang kelak akan menjadi Imam selanjutnya bagi Syiah.
Syed Husain M. Jafri dalam bukunya berjudul The Origins and Early Development of Shi’a Islam menjelaskan Kufah adalah tempat pertama di mana Syiah menancapkan fondasi keyakinan dan pergerakannya ke dalam level baru yang lebih massif dan sistematis, yakni setelah kedatangan Khalifah ke-empat, Imam Ali bin Abi Thalib.
Kufah, yang kini menjadi bagian dari negara Irak yang mayoritas penduduknya adalah Syiah, besar kemungkinannya memiliki banyak kesamaan tradisi dengan Dinasti Syiah di Mesir pada masa Ubaid.
Mengingat pengaruh Syiah yang menyebar luas di Irak, bisa jadi, sebelum Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri naik ke tampuk kekuasaan, tradisi Maulid Nabi memang sudah pernah berlangsung di sana. Wallahua’lam.
Baca juga: MUI Tak Persoalkan Libur Tahun Baru Islam dan Maulid Nabi SAW Digeser
(mhy)
Lihat Juga :