Kisah Mansa Musa Orang dengan Kekayaan Rp5.897 triliun Setelah Haji

Senin, 11 Oktober 2021 - 05:15 WIB
Baca juga: Kekayaan Elon Musk Orang Terkaya di Dunia, Cuma Setengah Harta Mansa Musa

Gencar Membangun

Eamonn Gearon, dalam bukunya Turning Points in Middle Eastern History, mengatakan begitu sampai di tanah airnya, Mansa Musa mengatur karyawan barunya untuk tugas konstruksi dalam skala yang belum pernah dilihat oleh Kekaisaran Mali.

Perpustakaan, sekolah, universitas, masjid dan istana bermunculan. Mali tumbuh menjadi kota dan pusat pembelajaran abad pertengahan, dan Universitas Timbuktu, yang didirikan oleh Mansa Musa pada tahun 1327, menjadi tenar dan menarik perhatian calon ilmuwan belajar di sana.

Tapi, puncak masa keemasan Mali tersebut hanya berlangsung sekejap. Mansa Musa meninggal pada 1337 setelah 25 tahun memerintah Mali.

Sepanjang sejarah Mali, tak ada raja pengganti yang mampu menandingi kualitas Mansa Musa. Bahkan, ketika sejarawan Muslim yang terkenal, Ibn Khaldun menulis karya magnum opus-nya, Muqaddimah, pada tahun 1377 – atau hanya 50 tahun setelah perjalanan haji Mansa Musa ke Mekkah – Kekaisaran Mali telah mulai mengalami kemunduran yang signifikan.

Akhirnya, Kekaisaran Songhai yang berbasis di Afrika Barat, dengan ibu kotanya Goa (Sekarang Nigeria), muncul dan mengalahkan Kekaisaran Mali yang kian memudar pengaruhnya pada akhir abad ke-14, 15, dan 16.

Kekayaan dan kemasyuran emas Mansa Musa juga tidak selalu berujung baik. Pada tahun 1591, tentara Maroko menyerang dan menaklukkan Kekaisaran Mali, yang pada waktu itu sudah nyaris tidak ada. Sayangnya, pasukan yang menyerang sangat kecewa saat mengetahui bahwa jalan-jalan Timbuktu tidak diaspal dengan emas.

Sedang dari utara, rasa ingin tau menyeruak di pikiran bangsa Eropa. French Geographical Society menawarkan hadiah uang 10.000 franc kepada orang pertama yang mencapai Timbuktu dan kembali dengan informasi tentang kota tersebut. Hadiah tersebut akhirnya diklaim pada tahun 1820 oleh penjelajah Prancis René Caillié. Caillié melaporkan bahwa tidak ada yang menarik atau emas dari kota legendaris tersebut.

Setelah kematiannya, legenda Mansa Musa hilang begitu saja, berikut emas dan segenap kekayaan alamnya yang luar biasa. Timbuktu yang dulu marak sebagai pusat produksi emas, segera menyusut pamornya sedemikian rupa, seiring dengan “menghilangnya” emas dari tanah Mali.

Tapi bagaimanapun, legenda Mansa Musa sudah menarik perhatian dunia, memunculkan rasa ingin tahu, dan bahkan – secara tidak langsung – memicu lahirnya kolonialisme bangsa-bangsa Eropa ke benua Afrika.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!