Peringatan Allah Terhadap Orang yang Hatinya Keras Seperti Batu
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 23:46 WIB
Salah satu penyebab hati keras adalah jarang mengingat Allah dan sering berbicara tanpa menyebut nama Allah. Foto/Ist
Salah satu tanda orang yang hatinya keras seperti batu yaitu tidak menerima kebenaran. Apabila mendapat nasihat, ia berpaling dan kerap marah. Ini bertolak belakang dengan orang yang hatinya lapang dan terbuka. Ia mendapat cahaya dan petunjuk dari Allah.
Allah memberi peringatan keras terhadap orang-orang yang hatinya keras dalam Al-Qur'an. Berikut firman-Nya:
"Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (QS. Az-Zumar Ayat 22)
Dalam tafsir Kemenag diterangkan, Ayat ini menegaskan bahwa tidaklah sama orang yang telah dibukakan Allah hatinya (sehingga menerima Islam), dengan orang yang sesat hatinya, sehingga ia mengingkari kebenarannya. Hati orang tersebut telah melihat kekuasaan dan kebesaran Allah dalam keindahan dan keajaiban alam ini, lalu terbukalah hatinya menerima pancaran cahaya dari nur Ilahi.
Sebaliknya orang-orang yang sesat hatinya, tidak melihat tanda-tanda kebesaran Allah, mereka menyangka kejadian di alam ini tidak lain dari suatu proses kejadian alam itu sendiri, tanpa ada yang mengaturnya. Mereka menganggap mampu mengubah atau memperbaiki proses kejadian tersebut. Na'udzubillahi min dzalik.
Kerasnya hati mereka disebabkan karena kebodohan dan pandangan mereka yang sempit (picik) sehingga hati mereka tertutup. Kedua macam orang itu tidaklah sama.
Ibnu 'Abbas meriwayatkan, "Di antara orang yang telah dilapangkan Allah dadanya menerima agama Islam, ialah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu. Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud ia berkata:
" Rasulullah membaca ayat ini (Az-Zumar ayat 22), lalu kami bertanya: 'Ya Nabi Allah, bagaimana hati yang terbuka itu?' Beliau menjawab: "Apabila cahaya menerangi hati, maka ia menjadi terbuka dan lapang." Kami bertanya, "Apakah tanda yang demikian itu, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Menghadapkan diri kepada kehidupan negeri yang abadi dan menjauhkan diri dari kehidupan negeri yang penuh tipuan dan mempersiapkan diri untuk mati sebelum kematian itu datang." (Riwayat Ibnu Mardawaih)
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Ibnu 'Umar, ia berkata: Bahwa seseorang berkata: "Ya Rasulullah, orang mukmin yang manakah yang paling baik?" Rasulullah menjawab: "Mereka yang banyak mengingat mati dan paling banyak persiapannya untuk mati itu, dan bilamana cahaya menyinari hatinya, maka hati itu terbuka dan menjadi lapang."
Allah memberi peringatan keras terhadap orang-orang yang hatinya keras dalam Al-Qur'an. Berikut firman-Nya:
اَفَمَنۡ شَرَحَ اللّٰهُ صَدۡرَهٗ لِلۡاِسۡلَامِ فَهُوَ عَلٰى نُوۡرٍ مِّنۡ رَّبِّهٖؕ فَوَيۡلٌ لِّلۡقٰسِيَةِ قُلُوۡبُهُمۡ مِّنۡ ذِكۡرِ اللّٰهِؕ اُولٰٓٮِٕكَ فِىۡ ضَلٰلٍ مُّبِيۡنٍ
"Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (QS. Az-Zumar Ayat 22)
Dalam tafsir Kemenag diterangkan, Ayat ini menegaskan bahwa tidaklah sama orang yang telah dibukakan Allah hatinya (sehingga menerima Islam), dengan orang yang sesat hatinya, sehingga ia mengingkari kebenarannya. Hati orang tersebut telah melihat kekuasaan dan kebesaran Allah dalam keindahan dan keajaiban alam ini, lalu terbukalah hatinya menerima pancaran cahaya dari nur Ilahi.
Sebaliknya orang-orang yang sesat hatinya, tidak melihat tanda-tanda kebesaran Allah, mereka menyangka kejadian di alam ini tidak lain dari suatu proses kejadian alam itu sendiri, tanpa ada yang mengaturnya. Mereka menganggap mampu mengubah atau memperbaiki proses kejadian tersebut. Na'udzubillahi min dzalik.
Kerasnya hati mereka disebabkan karena kebodohan dan pandangan mereka yang sempit (picik) sehingga hati mereka tertutup. Kedua macam orang itu tidaklah sama.
Ibnu 'Abbas meriwayatkan, "Di antara orang yang telah dilapangkan Allah dadanya menerima agama Islam, ialah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu. Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud ia berkata:
" Rasulullah membaca ayat ini (Az-Zumar ayat 22), lalu kami bertanya: 'Ya Nabi Allah, bagaimana hati yang terbuka itu?' Beliau menjawab: "Apabila cahaya menerangi hati, maka ia menjadi terbuka dan lapang." Kami bertanya, "Apakah tanda yang demikian itu, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Menghadapkan diri kepada kehidupan negeri yang abadi dan menjauhkan diri dari kehidupan negeri yang penuh tipuan dan mempersiapkan diri untuk mati sebelum kematian itu datang." (Riwayat Ibnu Mardawaih)
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Ibnu 'Umar, ia berkata: Bahwa seseorang berkata: "Ya Rasulullah, orang mukmin yang manakah yang paling baik?" Rasulullah menjawab: "Mereka yang banyak mengingat mati dan paling banyak persiapannya untuk mati itu, dan bilamana cahaya menyinari hatinya, maka hati itu terbuka dan menjadi lapang."
Lihat Juga :