Uzair Nabi yang Hafal Taurat, Yahudi Menganggap sebagai Anak Allah

Selasa, 19 Oktober 2021 - 13:38 WIB
Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, ‘Berapa lama engkau tinggal (di sini)?’

Dia (orang itu) menjawab, ‘Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.’ Allah berfirman, ‘Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun.

Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.’ Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, ‘Saya mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.’

Dalam menafsirkannya, Ibnu Katsir menjelaskan, para ulama berselisih pendapat. Ada yang mengatakan, “orang itu” dalam ayat tersebut sebagai Uzair. Namun, ada pula yang menyebut, sosok yang dimaksud adalah Khidir . Sebagian menduga, dialah Armiya bin Khalqiya.

Bagaimanapun, lanjut Ibnu Katsir, pendapat yang masyhur mengatakan, Uzair adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah kepada Bani Israil. Ia hidup pada masa antara Nabi Daud dan Nabi Sulaiman , juga antara Nabi Zakariya dan Nabi Yahya.

Ketika itu, di tengah Bani Israil tak ada seorang pun yang hapal Taurat. Allah pun memberikan ilham kepada Uzair untuk menghapal Taurat dan mengajarkannya pada Bani Israil.

Uzair berasal dari keturunan al-Lawiyin. Ia adalah keturunan Bani Israil. Orang-orang Yahudi menyebutnya dengan nama ‘Izrâ (عزرا). Adapun penduduk Yahudi Madinah menyebutnya dengan ‘Uzair, karena penyebutan seperti itu lebih menunjukkan kecintaan mereka dalam penyebutan namanya atau penyebutan tersebut hanya penyerupaan dalam bahasa Arab.

Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Saya tidak tahu apakah dia adalah seorang nabi atau bukan.”

Keistimewaan yang dimiliki Uzair tidak mungkin hanya dimiliki oleh seorang saleh biasa. Dan terdapat kabar yang masyhur dari Nabi SAW menyebutkan bahwa Bani Israil dipimpin oleh seorang Nabi di setiap zamannya. Ketika meninggal seorang Nabi, maka akan digantikan dengan Nabi yang lain.

إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ تَسُوسُهُمْ أَنْبِيَاؤُهُمْ ، كُلَّمَا ذَهَبَ نَبِيٌّ خَلَفَ نَبِيٌّ


Sesungguhnya Bani Israil dulu dipimpin oleh para Nabi. Jika satu nabi meninggal, maka digantikan dengan nabi yang lain.[HR Abu Ya’lâ dalam Musnad-nya no. 6211 dan Ath-Thahâwi dalam Syarh Musykilil-Âtsâr no. 136. Syaikh Husain Salim Asad]

Uzair hapal seluruh isi Taurat, padahal pada saat itu tidak ada seorang pun yang menghapalnya. Ia mengajarkannya kepada Bani Israil dan membimbing mereka dengan Taurat.

Uzair hidup diperkirakan sekitar tahun 451 SM. Pada saat itu, Kursy (كورش) Raja Persia yang berada di Babil membebaskan para tawanan dari Bani Israil. Di antara tawanan tersebut adalah ‘Uzair. Beliau diizinkan untuk kembali ke Yerusalem dan membangun Haikal (rumah ibadah orang Yahudi).

Baca juga: Dahsyatnya Hari Kiamat (6): Pernyataan Nabi Isa tentang Hari Akhir dan Dajjal

Hafal Taurat

Soal mula-mula Uzair hafal Taurat ada banyak versi kisahnya. Ada yang berkisah, ayah ‘Uzair yang bernama Sarukh, telah mengubur Taurat di zaman penyerangan Bukhtu Nashshar di suatu tempat yang tidak diketahui oleh seorang pun kecuali ‘Uzair. Mereka dan ‘Uzair pun pergi ke tempat tersebut, kemudian mengeluarkan Taurat.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!