Rabiah Al-Adawiyah Sempat Jual Kecantikannya untuk Biayai Keluarga
Kamis, 28 Oktober 2021 - 21:51 WIB
Orang yang membeli Rabi’ah menyuruhnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Memperlakukannya dengan bengis dan kasar. Namun demikian Rabi’ah tetap tabah menghadapi cobaan tersebut.
Pada siang hari ia melayani tuannya, dan pada malam hari beribadah kepada Allah.
Pada suatu malam, tuannya terjaga dari tidur, dan melalui jendela melihat Rabi’ah sedang sujud dan berdoa “Ya Allah, hasrat hatiku adalah untuk mematuhi perintah-Mu; jika aku dapat mengubah nasibku ini, niscaya aku tidak akan istirahat barang sedikit pun dari mengabdi kepada-Mu”.
Menyaksikan peristiwa itu, ia merasa takut semalaman termenung sampai terbit fajar. Pagi-pagi sekali ia memanggil Rabi’ah, bersikap lunak kepadanya dan membebaskannya.
Rabiah ditawari untuk tinggal bersama tuannya, akan tetapi Rabi’ah menolak. Ia memilih untuk meninggalkan rumah tuannya dan ia ingin hidup sendiri dalam kedekatan dengan Tuhannya.
Dalam kebebasannya, ia selalu giat beribadah, bertaubat dan menjauhi duniawi. Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan kepadanya, bahkan dalam doanya ia tidak mau meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan.
Rabi’ah mengembara dan hidup di padang pasir. Di sinilah ia menemukan tempat dan menghabiskan waktunya untuk beribadah.
Baca juga: Ketika Jatuh Sakit, Rabiah Al-Adawiyah: Tuhanku Mendisiplinkanku
Pada siang hari ia melayani tuannya, dan pada malam hari beribadah kepada Allah.
Pada suatu malam, tuannya terjaga dari tidur, dan melalui jendela melihat Rabi’ah sedang sujud dan berdoa “Ya Allah, hasrat hatiku adalah untuk mematuhi perintah-Mu; jika aku dapat mengubah nasibku ini, niscaya aku tidak akan istirahat barang sedikit pun dari mengabdi kepada-Mu”.
Menyaksikan peristiwa itu, ia merasa takut semalaman termenung sampai terbit fajar. Pagi-pagi sekali ia memanggil Rabi’ah, bersikap lunak kepadanya dan membebaskannya.
Rabiah ditawari untuk tinggal bersama tuannya, akan tetapi Rabi’ah menolak. Ia memilih untuk meninggalkan rumah tuannya dan ia ingin hidup sendiri dalam kedekatan dengan Tuhannya.
Dalam kebebasannya, ia selalu giat beribadah, bertaubat dan menjauhi duniawi. Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan kepadanya, bahkan dalam doanya ia tidak mau meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan.
Rabi’ah mengembara dan hidup di padang pasir. Di sinilah ia menemukan tempat dan menghabiskan waktunya untuk beribadah.
Baca juga: Ketika Jatuh Sakit, Rabiah Al-Adawiyah: Tuhanku Mendisiplinkanku
(mhy)
Lihat Juga :