Isyarat Al-Qur'an Perihal Misteri Waktu dan Tempat Gua Ashabul Kahfi
Rabu, 03 November 2021 - 16:13 WIB
Dari penuturan sejarah ini didapati kesimpulan yang sama bahwa para pemuda itu adalah penganut ajaran Yahudi. Tempat tinggal mereka bisa jadi berada di kawasan Timur Kuno atau di Yerusalem sendiri.
Masih mengikuti alur sejarah ini, mereka diperkirakan bangun dari tidur panjang itu kurang lebih pada tahun 435 M atau 30 tahun menjelang kelahiran Rasulullah SAW .
Tampaknya peristiwa pertama lebih mempunyai kaitan dengan kisah Ashāba Al-Kahfi karena penindasan mereka lebih sadis. Adapun penindasan umat Kristiani tidak sesuai dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Demikian dalam tafsir al-Muntakhab yang dikutip oleh Quraish Shihab.
Baca juga: Surat Al Kahfi 9-26: Sosok Tanpa Nama Ashaba Al-Kahfi
Kota Tua di Turki
Setelah ditemukan di mana locus pementasan peristiwanya, maka tersebutlah beberapa gua di sekitar kawasan tersebut yang memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan Al-Qur'an.
Quraish Shibab mengutip Alamah Thabathaba’I yang menyebut lima tempat di mana terdapat gua yang diduga orang sebagai Gua Ashaba Al-Kahfi.
Pertama, di Episus atau Epsus, satu kota tua di Turki, sekitar 73 km dari kota Izmir dan berada di suatu gunung di desa Ayasuluk. Gua ini berukuran sekitar satu kilometer.
Sumber tertua yang berkaitan dengan hal ini adalah penelitian yang dilakukan seorang pendeta asal Syria bernama James dari Saruc (lahir 452 M). Ahli sejarah terkemuka, Gibbon, telah banyak mengutip dari penelitian James dalam bukunya yang berjudul The Decline and Fall of the Roman Empire.
Berdasarkan buku ini, kaisar yang memerintah dan berusaha melakukan penyiksaan terhadap orang-orang yang tidak mau menyembah berhala adalah Kaisar Decius.
Menurut Gibbon, nama dari tempat ini adalah Ephesus. Terletak di pantai barat Anatolia, kota ini adalah salah satu pelabuhan dan kota terbesar dari Kekaisaran Romawi. Saat ini, reruntuhan kota ini dikenal sebagai ‘Kota Antik Ephesus.’
Lokasi ini populer sebagai Gua Ashaba Al-Kahfi di kalangan umat Nasrani dan sebagian umat Islam. Tetapi tidak ada bekas masjid atau rumah peribadatan sekitarnya, padahal Al-Qur’an menjelaskan bahwa sebuah masjid dibangun di lokasi itu.
Arahnya pun tidak sesuai dengan apa yang dilukiskan oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an melukiskan bahwa matahari bersinar pada saat terbitnya di arah kanan gua dan ketika terbenam di arah kirinya, dan ini berarti pintu goa harus berada di arah selatan, padahal pintu goa tersebut tidak demikian.
Kedua, gua di Qasium dekat kota ash-Shalihiyyah di Damaskus.
Ketiga, gua al-Batra’ di Palestina.
Keempat, gua yang katanya ditemukan di salah satu wilayah di Skandinavia. Konon di sana ditemukan tujuh mayat manusia yang tidak rusak bercirikan orang-orang Romawi dan diduga merekalah Ashāba Al-Kahfi.
Kelima, Gua Rajib, yang berlokasi sekitar delapan kilometer dari kota Amman, ibukota Kerajaan Jordania, di satu desa bernama Rajib.
Masih mengikuti alur sejarah ini, mereka diperkirakan bangun dari tidur panjang itu kurang lebih pada tahun 435 M atau 30 tahun menjelang kelahiran Rasulullah SAW .
Tampaknya peristiwa pertama lebih mempunyai kaitan dengan kisah Ashāba Al-Kahfi karena penindasan mereka lebih sadis. Adapun penindasan umat Kristiani tidak sesuai dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Demikian dalam tafsir al-Muntakhab yang dikutip oleh Quraish Shihab.
Baca juga: Surat Al Kahfi 9-26: Sosok Tanpa Nama Ashaba Al-Kahfi
Kota Tua di Turki
Setelah ditemukan di mana locus pementasan peristiwanya, maka tersebutlah beberapa gua di sekitar kawasan tersebut yang memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan Al-Qur'an.
Quraish Shibab mengutip Alamah Thabathaba’I yang menyebut lima tempat di mana terdapat gua yang diduga orang sebagai Gua Ashaba Al-Kahfi.
Pertama, di Episus atau Epsus, satu kota tua di Turki, sekitar 73 km dari kota Izmir dan berada di suatu gunung di desa Ayasuluk. Gua ini berukuran sekitar satu kilometer.
Sumber tertua yang berkaitan dengan hal ini adalah penelitian yang dilakukan seorang pendeta asal Syria bernama James dari Saruc (lahir 452 M). Ahli sejarah terkemuka, Gibbon, telah banyak mengutip dari penelitian James dalam bukunya yang berjudul The Decline and Fall of the Roman Empire.
Berdasarkan buku ini, kaisar yang memerintah dan berusaha melakukan penyiksaan terhadap orang-orang yang tidak mau menyembah berhala adalah Kaisar Decius.
Menurut Gibbon, nama dari tempat ini adalah Ephesus. Terletak di pantai barat Anatolia, kota ini adalah salah satu pelabuhan dan kota terbesar dari Kekaisaran Romawi. Saat ini, reruntuhan kota ini dikenal sebagai ‘Kota Antik Ephesus.’
Lokasi ini populer sebagai Gua Ashaba Al-Kahfi di kalangan umat Nasrani dan sebagian umat Islam. Tetapi tidak ada bekas masjid atau rumah peribadatan sekitarnya, padahal Al-Qur’an menjelaskan bahwa sebuah masjid dibangun di lokasi itu.
Arahnya pun tidak sesuai dengan apa yang dilukiskan oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an melukiskan bahwa matahari bersinar pada saat terbitnya di arah kanan gua dan ketika terbenam di arah kirinya, dan ini berarti pintu goa harus berada di arah selatan, padahal pintu goa tersebut tidak demikian.
Kedua, gua di Qasium dekat kota ash-Shalihiyyah di Damaskus.
Ketiga, gua al-Batra’ di Palestina.
Keempat, gua yang katanya ditemukan di salah satu wilayah di Skandinavia. Konon di sana ditemukan tujuh mayat manusia yang tidak rusak bercirikan orang-orang Romawi dan diduga merekalah Ashāba Al-Kahfi.
Kelima, Gua Rajib, yang berlokasi sekitar delapan kilometer dari kota Amman, ibukota Kerajaan Jordania, di satu desa bernama Rajib.
Lihat Juga :