Surat Yasin Ayat 15-17: Dialog Utusan dengan Kaum Antokiah
Jum'at, 19 November 2021 - 16:09 WIB
Laman Tafsir Al-Qur'an menjelaskan bahwa predikat nabi dan rasul atau utusan Allah SWT merupakan murni anugerah yang tiada campur tangan manusia di dalamnya. Ketika Allah SWT memuliakan seorang hamba, maka sungguh ia akan menjadi mulia, meski seluruh manusia merendahkan dan menghinanya.
Penyebutan kata ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih) oleh penduduk Antokiah menunjukkan kepercayaan mereka pada adanya Allah SWT. Akan tetapi mereka mengingkari risalah dan kerasulan serta lebih memilih menyekutukan Allah Swt dengan berhala-berhala yang mereka anggap sebagai wasilah.
At-Tabataba’i dalam Kitab Tafsirnya Al Mizan fi Tafsir Al Qur'an berpendapat diksi ini bisa juga berasal dari Allah, bukan ucapan asli penduduk Antokiah. Menunjukkan bagaimana kasih dan murahnya Allah SWT kepada penduduk Antokiah dengan masih memberi mereka nikmat hidup dan lain sebagainya, meskipun mereka mendustakan kebenaran.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 11-12: Jangan Mudah Mengatakan Kafir meski kepada Orang Kafir
Selanjutnya para utusan itu menjawab tuduhan tersebut dengan meyakinkan kaum Antokiah bahwa mereka benar-benar utusan dari Allah SWT dan bahwa tugas mereka hanyalah menyampaikan peringatan.
Pola ungkapan mereka pada ayat ke-16 itu menurut Ibn Asyur merupakan salah satu bentuk sumpah dalam tradisi Arab terdahulu.
Bila diperhatikan, kalimat inna ilaikum lamursalun di ayat ke-16 mirip dengan potongan ayat ke-14 yang berbunyi inna ilaikum mursalun. Perbedaan keduanya terletak pada jumlah huruf taukid (penguat).
Pada ayat ke-14 hanya ada satu taukid yaitu inna, sementara pada ayat ke-16 selain inna juga ditambahkan lam taukid. Ini menurut az-Zuhaili bertujuan memberikan penekanan lebih pada ungkapan, sebab munculnya penolakan dan penyangkalan dari lawan bicara, yaitu kaum Antokiah.
Az-Zuhaili juga menilai ungkapan ini mengandung pesan tawakal. Seakan-akan mereka mengatakan, “Allah SWT mengetahui kami sebagai utusannya. Andaikan kami berbohong dengan mengatasnamakannya, maka Ia akan mengazab kami dengan pedih.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 9-10: Kerabat Nabi Saja Ada yang Kafir Sampai Mati
Penyebutan kata ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih) oleh penduduk Antokiah menunjukkan kepercayaan mereka pada adanya Allah SWT. Akan tetapi mereka mengingkari risalah dan kerasulan serta lebih memilih menyekutukan Allah Swt dengan berhala-berhala yang mereka anggap sebagai wasilah.
At-Tabataba’i dalam Kitab Tafsirnya Al Mizan fi Tafsir Al Qur'an berpendapat diksi ini bisa juga berasal dari Allah, bukan ucapan asli penduduk Antokiah. Menunjukkan bagaimana kasih dan murahnya Allah SWT kepada penduduk Antokiah dengan masih memberi mereka nikmat hidup dan lain sebagainya, meskipun mereka mendustakan kebenaran.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 11-12: Jangan Mudah Mengatakan Kafir meski kepada Orang Kafir
Selanjutnya para utusan itu menjawab tuduhan tersebut dengan meyakinkan kaum Antokiah bahwa mereka benar-benar utusan dari Allah SWT dan bahwa tugas mereka hanyalah menyampaikan peringatan.
Pola ungkapan mereka pada ayat ke-16 itu menurut Ibn Asyur merupakan salah satu bentuk sumpah dalam tradisi Arab terdahulu.
Bila diperhatikan, kalimat inna ilaikum lamursalun di ayat ke-16 mirip dengan potongan ayat ke-14 yang berbunyi inna ilaikum mursalun. Perbedaan keduanya terletak pada jumlah huruf taukid (penguat).
Pada ayat ke-14 hanya ada satu taukid yaitu inna, sementara pada ayat ke-16 selain inna juga ditambahkan lam taukid. Ini menurut az-Zuhaili bertujuan memberikan penekanan lebih pada ungkapan, sebab munculnya penolakan dan penyangkalan dari lawan bicara, yaitu kaum Antokiah.
Az-Zuhaili juga menilai ungkapan ini mengandung pesan tawakal. Seakan-akan mereka mengatakan, “Allah SWT mengetahui kami sebagai utusannya. Andaikan kami berbohong dengan mengatasnamakannya, maka Ia akan mengazab kami dengan pedih.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 9-10: Kerabat Nabi Saja Ada yang Kafir Sampai Mati
Lihat Juga :