Kisah Faishal bin Turki, Khalifah Saudi yang Sempat Dipenjara
Rabu, 24 November 2021 - 05:15 WIB
Faishal bin Turki berkuasa dalam Dinasti Saudi II setelah Mesir tak lagi dipimpinan Muhammad Ali Pasha.
Kisah Faishal bin Turki , Khalifah Dinasti Saud II , pengganti Turki bin Abdullah memang unik. Ia sukses merebut tahta dari lawan politiknya yang mengkudeta ayahnya.
Pada saat menjabat khalifah, ia ditangkap dan dimasukkan ke penjara oleh penguasa Mesir. Lolos dari penjara, ia kembali menduduki tahtanya dan membawa Dinasti Saud II mencapai masa pertumbuhan.
Baca juga: Kisah Turki Bin Abdullah Membangun Dinasti Saudi dari Puing-Puing
Prof Dr Hamka dalam bukunya berjudul "Fakta dan Khayal Tuanku Rao" menuturkan pada saat terjadi kudeta atas tahta Khalifah Turki bin Abdullah, Faishal sedang memerintah atas nama ayahnya di Qathif. Begitu ia menerima berita bahwa ayahnya terbunuh dalam kudeta itu, Faishal buru-buru pulang ke Riyadh.
Faishal bin Turki kembali merebut haknya sebagai Khalifah pada Dinasti Saudi II yang sempat jatuh ke tangan pembunuh ayahnya. Dalam hal ini Faishal dibantu Ibnu Rasyid, Amir di Haail.
Menurut Buya Hamka, sejak itu dengan sendirinya telah tumbuh kasam-kasumat di antara cabang keluarga. "Dan Faishal bin Turki berutang budi kepada Ibnu Rasyid yang menyokongnya," tulis Buya Hamka.
Salah Satu Tawanan
Masa lalu Faishal bin Turki bin Abdullah cukup berliku. Ia adalah salah satu tawanan yang diarak ke Mesir pada waktu penguasa Mesir, Ibrahim Pasha, menaklukan Dinasti Saud I.
Setelah Abdullah bin Saud dieskekusi di Istambul, maka sebagian dari anggota klan Saud ada yang dibiarkan hidup dan hanya ditahan di Mesir, salah satunya adalah Faisal bin Turki bin Abdullah.
Ia naik tahta setelah pada 1834, Turki bin Abdullah -- ayahnya-- dibunuh oleh sepupunya sendiri dengan alasan kekuasaan.
Pada saat menjabat khalifah, ia ditangkap dan dimasukkan ke penjara oleh penguasa Mesir. Lolos dari penjara, ia kembali menduduki tahtanya dan membawa Dinasti Saud II mencapai masa pertumbuhan.
Baca juga: Kisah Turki Bin Abdullah Membangun Dinasti Saudi dari Puing-Puing
Prof Dr Hamka dalam bukunya berjudul "Fakta dan Khayal Tuanku Rao" menuturkan pada saat terjadi kudeta atas tahta Khalifah Turki bin Abdullah, Faishal sedang memerintah atas nama ayahnya di Qathif. Begitu ia menerima berita bahwa ayahnya terbunuh dalam kudeta itu, Faishal buru-buru pulang ke Riyadh.
Faishal bin Turki kembali merebut haknya sebagai Khalifah pada Dinasti Saudi II yang sempat jatuh ke tangan pembunuh ayahnya. Dalam hal ini Faishal dibantu Ibnu Rasyid, Amir di Haail.
Menurut Buya Hamka, sejak itu dengan sendirinya telah tumbuh kasam-kasumat di antara cabang keluarga. "Dan Faishal bin Turki berutang budi kepada Ibnu Rasyid yang menyokongnya," tulis Buya Hamka.
Salah Satu Tawanan
Masa lalu Faishal bin Turki bin Abdullah cukup berliku. Ia adalah salah satu tawanan yang diarak ke Mesir pada waktu penguasa Mesir, Ibrahim Pasha, menaklukan Dinasti Saud I.
Setelah Abdullah bin Saud dieskekusi di Istambul, maka sebagian dari anggota klan Saud ada yang dibiarkan hidup dan hanya ditahan di Mesir, salah satunya adalah Faisal bin Turki bin Abdullah.
Ia naik tahta setelah pada 1834, Turki bin Abdullah -- ayahnya-- dibunuh oleh sepupunya sendiri dengan alasan kekuasaan.
Lihat Juga :