Kisah Sufi Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani: Orang yang Waktunya Keliru
Kamis, 02 Desember 2021 - 18:26 WIB
Saudagar itu tak dapat menahan diri dan berseru, "Tetapi, kenapa yang Mulia tidak menjadikan hamba, raja, sejak pertama kali hamba datang menghadap?. Apakah Yang Mulia bermaksud menguji kesabaran hamba? Atau, hal itu untuk mengajari hamba sesuatu?"
Raja itu tertawa, "Coba saja bayangkan, pada hari ketika kau membawa seratus ekor domba ke gunung dan kehilangan semuanya dalam sekejap, apabila saat itu kau berkuasa atas Kerajaan Sevilla, tentu tak akan ada lagi satu batu tersusun di atas batu lainnya di sana pada hari ini."
Baca juga: Kisah Sufi Hatim al-Tha'i dan Raja yang Ingin Menjadi Dermawan
Abdul Qadir Al-Jilani dilahirkan pada abad kesebelas di dekat pantai selatan Laut Kaspia. Karena ia keturunan Hasan, cucu Muhammad, maka ia dikenal sebagai Sayedna (Pangeran Kami).
Tarekat Qadiri yang berpengaruh itu diambil dari namanya. Ia dianggap mempunyai kemampuan 'penglihatan' sejak kanak-kanak, belajar di Baghdad dan mempergunakan banyak waktunya untuk mencoba mengembangkan pendidikan gratis bagi khalayak.
Shahabudin Suhrawardi, salah seorang pengarang Sufi terbesar, yang menulis "Kemampuan Pengetahuan Dalam" (the Gifts of Deep Knowledge), adalah pengikutnya. Berbagai keajaiban yang tak terhitung dikaitkan dengan kedua orang ini.
Abdul-Qadir memiliki sejumlah besar pengikut Yahudi dan Kristen, sama seperti pengikut Muslim. Ia meninggal tahun 1166.
Ketika ia terbaring di tempat tidur menjelang kematiannya, sesosok orang Arab misterius muncul membawa sepucuk surat. Di dalamnya tertulis: "Ini adalah sebuah surat dari Sang Pengasih kepada kekasihnya. Semua manusia dan binatang niscaya mengalami kematian." Makamnya di Baghdad.
Semenjak Abdul Qadir secara luas diagungkan sebagai orang suci, sejumlah riwayat mengenai kehidupannya beredar di Timur. Semuanya penuh dengan kisah-kisah keajaiban dan gagasan tak biasa.
Hiyat i Hazrat (Kehidupan Kehadiran), yang termasuk salah satu buku semacam itu, diawali paragraf seperti ini:
"Penampilannya hebat. Suatu hari, hanya seorang murid yang berani mengajukan sebuah pertanyaan. Pertanyaannya adalah, "Bisakah Guru memberi kami kuasa untuk memperbaiki bumi dan banyak orang di bumi?"
Alisnya menebal, dan ia berkata, 'Aku akan berbuat yang lebih baik kuasa ini akan kuberikan kepada keturunanmu. Sebab, masih belum ada harapan untuk peningkatan semacam itu yang bisa dibuat dalam derajat yang cukup besar. Peralatannya belum ada. Kalian akan memperoleh imbalan; dan mereka akan mendapat balasan atas usaha mereka dan karena cita-cita kalian.'"
Makna urutan waktu yang hampir sama terdapat dalam 'Orang yang Waktunya Keliru'.
Kisah ini juga telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam buku berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.
Baca juga: Kisah Sufi Imam Hasan Al-Basri: Perumpamaan tentang Orang yang Rakus
Raja itu tertawa, "Coba saja bayangkan, pada hari ketika kau membawa seratus ekor domba ke gunung dan kehilangan semuanya dalam sekejap, apabila saat itu kau berkuasa atas Kerajaan Sevilla, tentu tak akan ada lagi satu batu tersusun di atas batu lainnya di sana pada hari ini."
Baca juga: Kisah Sufi Hatim al-Tha'i dan Raja yang Ingin Menjadi Dermawan
Abdul Qadir Al-Jilani dilahirkan pada abad kesebelas di dekat pantai selatan Laut Kaspia. Karena ia keturunan Hasan, cucu Muhammad, maka ia dikenal sebagai Sayedna (Pangeran Kami).
Tarekat Qadiri yang berpengaruh itu diambil dari namanya. Ia dianggap mempunyai kemampuan 'penglihatan' sejak kanak-kanak, belajar di Baghdad dan mempergunakan banyak waktunya untuk mencoba mengembangkan pendidikan gratis bagi khalayak.
Shahabudin Suhrawardi, salah seorang pengarang Sufi terbesar, yang menulis "Kemampuan Pengetahuan Dalam" (the Gifts of Deep Knowledge), adalah pengikutnya. Berbagai keajaiban yang tak terhitung dikaitkan dengan kedua orang ini.
Abdul-Qadir memiliki sejumlah besar pengikut Yahudi dan Kristen, sama seperti pengikut Muslim. Ia meninggal tahun 1166.
Ketika ia terbaring di tempat tidur menjelang kematiannya, sesosok orang Arab misterius muncul membawa sepucuk surat. Di dalamnya tertulis: "Ini adalah sebuah surat dari Sang Pengasih kepada kekasihnya. Semua manusia dan binatang niscaya mengalami kematian." Makamnya di Baghdad.
Semenjak Abdul Qadir secara luas diagungkan sebagai orang suci, sejumlah riwayat mengenai kehidupannya beredar di Timur. Semuanya penuh dengan kisah-kisah keajaiban dan gagasan tak biasa.
Hiyat i Hazrat (Kehidupan Kehadiran), yang termasuk salah satu buku semacam itu, diawali paragraf seperti ini:
"Penampilannya hebat. Suatu hari, hanya seorang murid yang berani mengajukan sebuah pertanyaan. Pertanyaannya adalah, "Bisakah Guru memberi kami kuasa untuk memperbaiki bumi dan banyak orang di bumi?"
Alisnya menebal, dan ia berkata, 'Aku akan berbuat yang lebih baik kuasa ini akan kuberikan kepada keturunanmu. Sebab, masih belum ada harapan untuk peningkatan semacam itu yang bisa dibuat dalam derajat yang cukup besar. Peralatannya belum ada. Kalian akan memperoleh imbalan; dan mereka akan mendapat balasan atas usaha mereka dan karena cita-cita kalian.'"
Makna urutan waktu yang hampir sama terdapat dalam 'Orang yang Waktunya Keliru'.
Kisah ini juga telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam buku berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.
Baca juga: Kisah Sufi Imam Hasan Al-Basri: Perumpamaan tentang Orang yang Rakus
(mhy)
Lihat Juga :