Kisah Sufi Hatim al-Tha'i dan Raja yang Ingin Menjadi Dermawan

loading...
Kisah Sufi Hatim al-Thai dan Raja yang Ingin Menjadi Dermawan
Kisah Sufi: Kedermawanan tidak mungkin ada tanpa tiga hal. Pertama, memberi tanpa perasaan ingin menjadi dermawan kedua, kesabaran ketiga, tidak menaruh prasangka. (Ilustrasi : humanjourney.us)
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" menyampaikan kisah klasik Urdu, Kisah Empat Darwis, yang menggambarkan ajaran-ajaran penting Sufi. Berikut kisahnya:

Baca juga: Kisah Sufi Imam Hasan Al-Basri: Perumpamaan tentang Orang yang Rakus

Konon, seorang Raja Iran berkata kepada seorang darwis, "Ceritakan padaku sebuah kisah."

Darwis itu berkata, "Yang Mulia, saya akan ceritakan kisah Hatim al-Tha'i, Raja Arab dan manusia paling murah hati sepanjang masa; bila paduka dapat menyamai kemurahan hatinya, niscaya paduka akan menjadi raja teragung yang pernah ada."

"Ceritakanlah," kata sang raja. "Tetapi kalau kau tidak menghiburku dan merendahkan kemurahan hatiku, kau akan kehilangan kepalamu."

Raja itu berkata demikian sebab di Persia sudah biasa bahwa orang-orang di istana akan menyanjung-nyanjung raja sebagai orang paling agung di antara semua manusia; dulu, sekarang, atau besok.

"Saya lanjutkan," kata darwis itu dengan tenang (sebab para darwis tak mudah dibuat gentar). "Kemurahan hati Hatim al-Tha'i, dalam karakter maupun jiwa, melampaui semua manusia." Dan inilah kisah yang dituturkan darwis itu.

Seorang Raja Arab yang lain merasa iri atas kekayaan, desa dan oase, onta, serta prajurit yang dimiliki Hatim al-Tha'i. Orang ini pun menyatakan perang terhadap Hatim, mengutus suruhan dengan pesan: "Tunduklah padaku. Kalau tidak, aku akan melumat kau dan negerimu, dan merampas semua kepunyaanmu."

Ketika pesan itu sampai ke istana Hatim, para penasihatnya serta-merta menyarankan agar raja mengerahkan seluruh prajurit untuk mempertahankan kerajaan itu. Kata mereka, "Tak diragukan lagi bahwa lelaki dan perempuan bertubuh sehat di negeri ini akan dengan senang hati menyerahkan nyawa untuk membela raja yang mereka cintai."

Tetapi, Hatim, diluar dugaan para penasihat itu, berkata, "Tidak, dari pada kalian bertempur dan menumpahkan darahmu bagiku, lebih baik aku pergi meninggalkan negeri ini. Kiranya jauh dari jalan kemurahan hati bila aku menjadi sebab pengorbanan hidup seorang lelah atau perempuan."
halaman ke-1
cover top ayah
وَلَيۡسَتِ التَّوۡبَةُ لِلَّذِيۡنَ يَعۡمَلُوۡنَ السَّيِّاٰتِ‌ ۚ حَتّٰۤى اِذَا حَضَرَ اَحَدَهُمُ الۡمَوۡتُ قَالَ اِنِّىۡ تُبۡتُ الۡـــٰٔنَ وَلَا الَّذِيۡنَ يَمُوۡتُوۡنَ وَهُمۡ كُفَّارٌ ‌ؕ اُولٰٓٮِٕكَ اَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ عَذَابًا اَ لِيۡمًا
Dan tobat itu tidaklah diterima Allah dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, barulah mengatakan, “Saya benar-benar bertobat sekarang.” Dan tidak pula diterima tobat dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih.

(QS. An-Nisa:18)
cover bottom ayah
preload video