Al-Idrisi sang Pemandu Marcopolo, Ibnu Batutta, dan Colombus
Sabtu, 04 Desember 2021 - 09:58 WIB
Tiba-tiba bumi ini terhampar begitu meyakinkan, karena didukung oleh data dan informasi yang tersusun secara ilmiah.
Aktivitas penjelajahan dunia pun menjadi marak setelah karya Al Idrisi ditemukan. Peta inilah yang kemudian menjadi pandu para pencong dan penjelajah seperti Marcopolo dan Ibn Batutta.
Ini juga salah satu acuan Ibn Khaldun dalam membangun karya monumentalnya. Bahkan tidak sedikit yang menyatakan bahwa Colombus, tidak mungkin berhasil menemukan benua Amerika tanpa peta Al Idrisi.
Baca juga: Suku Indian Islam (1): Penjelajah Muslim Temukan Amerika Sebelum Columbus Tiba
Keturunan Nabi Muhammad SAW
Nama dan nasab Al-Idrisi adalah Abu Abdullah Muhammad Ibnu Al-Idrisi Ash-Sharif. Beliau dikenal sebagai seorang kartografer dan geografer.
Ilmuwan kelahiran Ceuta, Maroko, Afrika Utara pada tahun 1100 M ini juga dikenal dengan nama singkat Al-Sharif Al-Idrisi Al-Qurtubi.
Al Idrisi adalah seorang keturunan Arab yang lahir di Ceuta pada sekitar tahun 1100 masehi. Di tempat kelahirannya, keluarga Al-Idrisi merupakan penguasa selama tiga abad.
Al-Idrisi merupakan keturunan para penguasa Idrisiyyah di Maroko, yang merupakan keturunan Hasan bin Ali, putra Ali dan cucu nabi Muhammad.
Awalnya, keluarga Al Idrisi adalah bangsawan di Malaga, ketika kaum Muslimin masih memerintah Andalusia. Namun, keluarga ini kemudian pindah ke Ceuta dan berkuasa di sana.
Al-Idrisi menyelesaikan sebagian besar pendidikannya di Cordoba, Andalusia.
Cordoba memiliki sejarah yang kaya sebagai pusat studi ilmiah di dunia Islam setelah Abdurrahman II, mantan emir Cordoba, membentuk kembali masyarakat Cordoba dengan menanamkan semangat ilmu pengetahuan di abad ke-9 M.
Sebagai salah satu pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan sains Islam pada masa itu, Universitas Cordoba menyimpan banyak sekali literatur dari berbagai tema keilmuan.
Di sinilah Al Idrisi bisa mengakses banyak dokumen tentang wilayah dan kondisi kebudayaan masyarakat di seluruh dunia yang ditulis oleh para pelancong Muslim sebelumnya.
Tapi salah satu kelebihan Al Idrisi, ia tidak hanya sebatas membaca dan mengetahui, tapi juga berjalan dan mengunjungi tempat-tempat menarik yang dibacanya.
Konon, setelah menyelesaikan pendidikan formal di sekitar usia 16, Al-Idrisi memulai perjalanannya. Ia mengunjungi berbagai titik di Eropa (termasuk Inggris dan Prancis), Afrika Utara, dan Anatolia.
Perjalanannya ke Eropa telah menjadikan pengalamannya khas bila dibandingkan dengan banyak ilmuwan Arab kontemporer lainnya.
Melalui perjalanannya, rasa ingin tahunya beralih menjadi antusiasme. Dari sebelumnya hanya sebatas pelancong, Al Idrisi menemukan kegairahan sejati untuk menjadikan geografi sebagai ambisi hidupnya.
Kisah tentang bagaimana akhirnya Al-Idrisi sampai ke Istana Roger II juga masih simpang siur. Ada yang mengatakan, bahwa kedatangannya ke Sicilia adalah sebuah aksi pelarian dari upaya persekusi yang dilakukan oleh Dinasti Abbasiyah kepada para keturunan Rasulullah SAW, termasuk di antaranya Al-Idrisi.
Lepas dari itu, pertemuan Al-Idrisi dan Roger II ini menjadi titik awal lahirnya karya besar yang amat bermanfaat bagi peradaban.
Pada tahun 1154 M, Roger II meninggal dunia. Namun, Al Idrisi sudah berhasil mempersembahkan The Book Of Roger beberapa minggu sebelum kematiannya. Tapi malang, hanya berselang enam tahun, pemberontakan terjadi di dalam istana Roger.
William I, pewaris tahta Roger, tidak sanggup menghadapi turbulensi tersebut, dan akhirnya lari menghilang.
Cakram perak yang begitu berharga tersebut pun hancur, termasuk The Book of Roger pun hilang dalam kekacauan tersebut. Namun, Al Idrisi masih menyimpan versi Bahasa Arab dan dia membawa pergi beberapa hasil kerjanya ke Afrika Utara.
Di tempat inilah peta tersebut kembali ditulis ulang dan dibaca oleh para ilmuan lainnya. Al Idrisi menjalani sisa hidupnya di Afrika Utara (kemungkinan Maroko), dan meninggal pada tahun 1166 M.
Baca juga: Suku Indian Islam (1): Penjelajah Muslim Temukan Amerika Sebelum Columbus Tiba
Aktivitas penjelajahan dunia pun menjadi marak setelah karya Al Idrisi ditemukan. Peta inilah yang kemudian menjadi pandu para pencong dan penjelajah seperti Marcopolo dan Ibn Batutta.
Ini juga salah satu acuan Ibn Khaldun dalam membangun karya monumentalnya. Bahkan tidak sedikit yang menyatakan bahwa Colombus, tidak mungkin berhasil menemukan benua Amerika tanpa peta Al Idrisi.
Baca juga: Suku Indian Islam (1): Penjelajah Muslim Temukan Amerika Sebelum Columbus Tiba
Keturunan Nabi Muhammad SAW
Nama dan nasab Al-Idrisi adalah Abu Abdullah Muhammad Ibnu Al-Idrisi Ash-Sharif. Beliau dikenal sebagai seorang kartografer dan geografer.
Ilmuwan kelahiran Ceuta, Maroko, Afrika Utara pada tahun 1100 M ini juga dikenal dengan nama singkat Al-Sharif Al-Idrisi Al-Qurtubi.
Al Idrisi adalah seorang keturunan Arab yang lahir di Ceuta pada sekitar tahun 1100 masehi. Di tempat kelahirannya, keluarga Al-Idrisi merupakan penguasa selama tiga abad.
Al-Idrisi merupakan keturunan para penguasa Idrisiyyah di Maroko, yang merupakan keturunan Hasan bin Ali, putra Ali dan cucu nabi Muhammad.
Awalnya, keluarga Al Idrisi adalah bangsawan di Malaga, ketika kaum Muslimin masih memerintah Andalusia. Namun, keluarga ini kemudian pindah ke Ceuta dan berkuasa di sana.
Al-Idrisi menyelesaikan sebagian besar pendidikannya di Cordoba, Andalusia.
Cordoba memiliki sejarah yang kaya sebagai pusat studi ilmiah di dunia Islam setelah Abdurrahman II, mantan emir Cordoba, membentuk kembali masyarakat Cordoba dengan menanamkan semangat ilmu pengetahuan di abad ke-9 M.
Sebagai salah satu pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan sains Islam pada masa itu, Universitas Cordoba menyimpan banyak sekali literatur dari berbagai tema keilmuan.
Di sinilah Al Idrisi bisa mengakses banyak dokumen tentang wilayah dan kondisi kebudayaan masyarakat di seluruh dunia yang ditulis oleh para pelancong Muslim sebelumnya.
Tapi salah satu kelebihan Al Idrisi, ia tidak hanya sebatas membaca dan mengetahui, tapi juga berjalan dan mengunjungi tempat-tempat menarik yang dibacanya.
Konon, setelah menyelesaikan pendidikan formal di sekitar usia 16, Al-Idrisi memulai perjalanannya. Ia mengunjungi berbagai titik di Eropa (termasuk Inggris dan Prancis), Afrika Utara, dan Anatolia.
Perjalanannya ke Eropa telah menjadikan pengalamannya khas bila dibandingkan dengan banyak ilmuwan Arab kontemporer lainnya.
Melalui perjalanannya, rasa ingin tahunya beralih menjadi antusiasme. Dari sebelumnya hanya sebatas pelancong, Al Idrisi menemukan kegairahan sejati untuk menjadikan geografi sebagai ambisi hidupnya.
Kisah tentang bagaimana akhirnya Al-Idrisi sampai ke Istana Roger II juga masih simpang siur. Ada yang mengatakan, bahwa kedatangannya ke Sicilia adalah sebuah aksi pelarian dari upaya persekusi yang dilakukan oleh Dinasti Abbasiyah kepada para keturunan Rasulullah SAW, termasuk di antaranya Al-Idrisi.
Lepas dari itu, pertemuan Al-Idrisi dan Roger II ini menjadi titik awal lahirnya karya besar yang amat bermanfaat bagi peradaban.
Pada tahun 1154 M, Roger II meninggal dunia. Namun, Al Idrisi sudah berhasil mempersembahkan The Book Of Roger beberapa minggu sebelum kematiannya. Tapi malang, hanya berselang enam tahun, pemberontakan terjadi di dalam istana Roger.
William I, pewaris tahta Roger, tidak sanggup menghadapi turbulensi tersebut, dan akhirnya lari menghilang.
Cakram perak yang begitu berharga tersebut pun hancur, termasuk The Book of Roger pun hilang dalam kekacauan tersebut. Namun, Al Idrisi masih menyimpan versi Bahasa Arab dan dia membawa pergi beberapa hasil kerjanya ke Afrika Utara.
Di tempat inilah peta tersebut kembali ditulis ulang dan dibaca oleh para ilmuan lainnya. Al Idrisi menjalani sisa hidupnya di Afrika Utara (kemungkinan Maroko), dan meninggal pada tahun 1166 M.
Baca juga: Suku Indian Islam (1): Penjelajah Muslim Temukan Amerika Sebelum Columbus Tiba
(mhy)
Lihat Juga :