Kisah Nabi Ibrahim Mengajarkan Agama Tauhid
Minggu, 19 Desember 2021 - 21:44 WIB
Maka timbullah pertanyaan dalam hatinya. "Inikah Tuhanku?" Pertanyaan ini adalah merupakan pengingkaran terhadap anggapan kaumnya, agar mereka tersentak untuk memperhatikan alasan-alasan pengingkaran yang akan dikemukakan.
Tetapi, setelah bintang itu tenggelam dari pandangannya, timbul keyakinan bahwa yang tenggelam dan menghilang tidak bisa dianggap sebagai Tuhan.
Di ayat berikutnya: "Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, "Inilah Tuhanku." Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, "Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat." (Al-An'am Ayat 77)
"Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, "Inilah Tuhanku, ini lebih besar." Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, "Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan." (Al-An'am Ayat 78)
Nabi Ibrahim pun mengajarkan akidah dan tauhid yang murni, yaitu hanya menyembah kepada Allah yang Esa.
"Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik." (QS. Al-An'am Ayat 79)
Ibrahim menyatakan bahwa agama-agama lainnya adalah batil, dan beliau adalah seorang yang berserah diri kepada Allah semata. Ketika kaumnya membantah, Nabi Ibrahim berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) apa yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?"
Demikian firman Allah dalam Surat Al-An'am Ayat 80. Nabi Ibrahim membuktikan bahwa keteguhan iman dan keyakinan kepada Allah merupakan pokok agama Tauhid.
Baca Juga: Nabi Ibrahim Ditanya Tentang Sakaratul Maut, Begini Kata Beliau
Tetapi, setelah bintang itu tenggelam dari pandangannya, timbul keyakinan bahwa yang tenggelam dan menghilang tidak bisa dianggap sebagai Tuhan.
Di ayat berikutnya: "Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, "Inilah Tuhanku." Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, "Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat." (Al-An'am Ayat 77)
"Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, "Inilah Tuhanku, ini lebih besar." Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, "Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan." (Al-An'am Ayat 78)
Nabi Ibrahim pun mengajarkan akidah dan tauhid yang murni, yaitu hanya menyembah kepada Allah yang Esa.
اِنِّىۡ وَجَّهۡتُ وَجۡهِىَ لِلَّذِىۡ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ حَنِيۡفًا وَّمَاۤ اَنَا مِنَ الۡمُشۡرِكِيۡنَۚ
"Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik." (QS. Al-An'am Ayat 79)
Ibrahim menyatakan bahwa agama-agama lainnya adalah batil, dan beliau adalah seorang yang berserah diri kepada Allah semata. Ketika kaumnya membantah, Nabi Ibrahim berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) apa yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?"
Demikian firman Allah dalam Surat Al-An'am Ayat 80. Nabi Ibrahim membuktikan bahwa keteguhan iman dan keyakinan kepada Allah merupakan pokok agama Tauhid.
Baca Juga: Nabi Ibrahim Ditanya Tentang Sakaratul Maut, Begini Kata Beliau
(rhs)
Lihat Juga :