Kisah Sufi Syaikh Ali Farmadhi: Orang yang Hidupnya Tak Terpahami
Jum'at, 24 Desember 2021 - 12:54 WIB
Baca juga: Kisah Sufi Pir-i-do-Sara: Si Tolol, si Bijak, dan Kendi
Ketika nelayan itu mengetahui bahwa Mojud halus budi bahasanya, ia pun belajar membaca dan menulis darinya. Sebagai gantinya, Mojud diberi makan dan bisa membantu nelayan itu melaut. Setelah beberapa bulan, Khidr pun muncul, kali ini di tepi tempat tidur Mojud, katanya, "Bangun sekarang juga dan tinggalkan Si Nelayan. Kau akan dibekali untuk perjalananmu."
Mojud pun buru-buru meninggalkan pondok itu, berpakaian seperti seorang nelayan, dan terus bertanya-tanya dalam hati hingga ia sampai di jalan besar. Ketika fajar, dilihatnya seorang petani di atas seekor keledai sedang bergerak menuju pasar. "Apa Saudara mencari pekerjaan?' tanya petani itu, "saya butuh seseorang untuk menolongku membawakan belanjaan."
Mojud pun mengikutinya. Ia bekerja pada petani itu hampir dua tahun lamanya, dan belajar banyak hal tentang pertanian, selain itu, tidak.
Pada suatu sore, katika ia sedang membungkus wol, Khidr muncul dan berkata, "Tinggalkan pekerjaan itu, pergilah ke Kota Mosul, dan gunakan tabunganmu untuk menjadi seorang pedagang kulit."
Mojud pun patuh.
Di Mosul, ia menjadi terkenal sebagai seorang saudagar kulit. Ia berdagang dan tak pernah melihat Khidr tiga tahun lamanya. Ia telah mendapatkan sejumlah uang yang cukup banyak, dan sedang berpikir membeli sebuah rumah ketika Khidr muncul lagi dan berkata, "Sini uangmu; pergilah dari kota ini ke Samarkand yang jauh, dan di sana bekerjalah sebagai seorang penjual bahan makanan." Mojud melakukannya.
Baca juga: Kisah Sufi Sayid Ghaos Ali Shah: Warisan untuk Arif Si Rendah Hati
Kini, ia mulai menunjukkan tanda-tanda pasti adanya pencerahan. Ia menyembuhkan yang sakit, melayani sesama manusia di toko dan sepanjang waktu senggangnya, dan pengetahuannya mengenai berbagai hal gaib semakin mendalam.
Para pendeta, filsuf, dan yang lain, menemuinya dan bertanya, "Siapa gerangan gurumu?"
"Hal itu sulit dikatakan," kata Mojud.
Para pengikutya bertanya, "Bagaimana Tuan memulai pengabdian?"
Katanya, "Sebagai seorang pegawai rendahan."
"Lalu, Tuan berhenti agar bisa bertekun dalam penyangkalan diri?"
Ketika nelayan itu mengetahui bahwa Mojud halus budi bahasanya, ia pun belajar membaca dan menulis darinya. Sebagai gantinya, Mojud diberi makan dan bisa membantu nelayan itu melaut. Setelah beberapa bulan, Khidr pun muncul, kali ini di tepi tempat tidur Mojud, katanya, "Bangun sekarang juga dan tinggalkan Si Nelayan. Kau akan dibekali untuk perjalananmu."
Mojud pun buru-buru meninggalkan pondok itu, berpakaian seperti seorang nelayan, dan terus bertanya-tanya dalam hati hingga ia sampai di jalan besar. Ketika fajar, dilihatnya seorang petani di atas seekor keledai sedang bergerak menuju pasar. "Apa Saudara mencari pekerjaan?' tanya petani itu, "saya butuh seseorang untuk menolongku membawakan belanjaan."
Mojud pun mengikutinya. Ia bekerja pada petani itu hampir dua tahun lamanya, dan belajar banyak hal tentang pertanian, selain itu, tidak.
Pada suatu sore, katika ia sedang membungkus wol, Khidr muncul dan berkata, "Tinggalkan pekerjaan itu, pergilah ke Kota Mosul, dan gunakan tabunganmu untuk menjadi seorang pedagang kulit."
Mojud pun patuh.
Di Mosul, ia menjadi terkenal sebagai seorang saudagar kulit. Ia berdagang dan tak pernah melihat Khidr tiga tahun lamanya. Ia telah mendapatkan sejumlah uang yang cukup banyak, dan sedang berpikir membeli sebuah rumah ketika Khidr muncul lagi dan berkata, "Sini uangmu; pergilah dari kota ini ke Samarkand yang jauh, dan di sana bekerjalah sebagai seorang penjual bahan makanan." Mojud melakukannya.
Baca juga: Kisah Sufi Sayid Ghaos Ali Shah: Warisan untuk Arif Si Rendah Hati
Kini, ia mulai menunjukkan tanda-tanda pasti adanya pencerahan. Ia menyembuhkan yang sakit, melayani sesama manusia di toko dan sepanjang waktu senggangnya, dan pengetahuannya mengenai berbagai hal gaib semakin mendalam.
Para pendeta, filsuf, dan yang lain, menemuinya dan bertanya, "Siapa gerangan gurumu?"
"Hal itu sulit dikatakan," kata Mojud.
Para pengikutya bertanya, "Bagaimana Tuan memulai pengabdian?"
Katanya, "Sebagai seorang pegawai rendahan."
"Lalu, Tuan berhenti agar bisa bertekun dalam penyangkalan diri?"
Lihat Juga :