Surat Yasin Ayat 62: Nasihat bagi Manusia supaya Gunakan Akal untuk Melawan Tipu Daya Setan
Jum'at, 21 Januari 2022 - 10:17 WIB
Menurut Hamka dalam tafsir Al-Azhar, melalui ayat ini Allah seakan-akan hendak mengatakan, “Pernahkan kamu pikirkan bahwa perbuatanmu itu salah? Allah yang memberimu makan lalu setan yang kamu sembah? Allah yang menunjukimu jalan yang lurus, lengkap dengan beratus-ratus rasul dan beribu-ribu nabi, lalu kamu tinggalkan jalan itu dan pergi ke jalan yang masuk semak, rimba, gelap-gulita dan tidak tentu arah?”
Hamka melanjutkan, “Tidakkah kamu pikirkan seruan Allah adalah untuk keselamatanmu, sedangkan ajakan setan semata-mata adalah untuk menyesatkanmu? Tidakkah kamu merenungkan bahwa Allah menyediakan dua tempat; surga dan neraka, lalu Ia memanggilmu supaya masuk ke dalam surga, sementara setan menggeretmu ke dalam neraka? La haula wala quwwata illa billah.”
Setan dalam sejarahnya memang mahir dalam menyesatkan manusia. Sejak ia berhasil menyesatkan manusia pertama, yaitu Nabi Adam dan istrinya, ia bersumpah untuk menghabiskan masa hidupnya hanya demi tujuan menjadikan manusia sesat sebagaimana dirinya. Setan hendak mengumpulkan sebanyak mungkin orang yang akan menemaninya kelak di neraka. Nau’zu billah min dzalik.
Oleh karena itu Allah SWT mengajak manusia untuk berpikir dan merenung di ayat ini sebagaimana yang Dia firmankan di banyak ayat dengan beragam diksi. Antara lain, أَفَلَا يَنْظُرُونَ (apakah tidak melihat?), أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ (apakah tidak bertadabbur?), أَفَلَا تَعْقِلُونَ (apakah tidak menggunakan akalnya?), أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ (apakah tidak berpikir?), أَفَلَا تُبْصِرُونَ (apakah tidak melihat?), لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ (supaya mereka paham) dan فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ (adakah yang mau mengambil pelajaran?).
Baca juga: Surat Yasin Ayat 58-59: Salam Perpisahan Penghuni Surga dengan Para Pendosa
Tiga Varian
Kata jibillan bermakna khalqan yang artinya makhluk, demikian Imam Ibnu Jarir al-Thabari menukil penafsiran dari Muhammad bin ‘Amr dari Abu ‘Ashim dari ‘Isa dari al-Harits dari al-Hasan dari Waraqa dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid. Penafsiran ini mengisyaratkan bahwa bahwa setan tidak hanya menggoda manusia saja, tetapi juga menggoda golongan jin untuk sama-sama durhaka kepada Allah SWT.
Kata jibillan di sini memiliki tiga varian bacaan. Mayoritas ulama qiraat Madinah dan sebagian ulama Kufah membaca kasrah jim dan ba’ (jibillan).
Adapun sebagian ulama Mekkah dan mayoritas qari Kufah men-dammah-kan jim dan mematikan ba’ (jublan). Sementara sebagian qari Basrah men-dammah-kan jim dan ba’ tanpa tasydid pada huruf lam (jubulan). Ath-Thabari sendiri lebih condong pada dua bacaan pertama karena yang paling populer.
Sedangkan At-Tabataba’i menafsirkan kata jibillan dengan jamaah atau sekumpulan orang yang banyak. Sementara menurut Quraish Shihab , jibillan seakar dengan kata jabal yang berarti gunung. Ini mengesankan makna kasar, keras, agung dan mantap. Kata jibillan sendiri di sini menurutnya berarti sekelompok orang yang kuat.
Hamka melanjutkan, “Tidakkah kamu pikirkan seruan Allah adalah untuk keselamatanmu, sedangkan ajakan setan semata-mata adalah untuk menyesatkanmu? Tidakkah kamu merenungkan bahwa Allah menyediakan dua tempat; surga dan neraka, lalu Ia memanggilmu supaya masuk ke dalam surga, sementara setan menggeretmu ke dalam neraka? La haula wala quwwata illa billah.”
Setan dalam sejarahnya memang mahir dalam menyesatkan manusia. Sejak ia berhasil menyesatkan manusia pertama, yaitu Nabi Adam dan istrinya, ia bersumpah untuk menghabiskan masa hidupnya hanya demi tujuan menjadikan manusia sesat sebagaimana dirinya. Setan hendak mengumpulkan sebanyak mungkin orang yang akan menemaninya kelak di neraka. Nau’zu billah min dzalik.
Oleh karena itu Allah SWT mengajak manusia untuk berpikir dan merenung di ayat ini sebagaimana yang Dia firmankan di banyak ayat dengan beragam diksi. Antara lain, أَفَلَا يَنْظُرُونَ (apakah tidak melihat?), أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ (apakah tidak bertadabbur?), أَفَلَا تَعْقِلُونَ (apakah tidak menggunakan akalnya?), أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ (apakah tidak berpikir?), أَفَلَا تُبْصِرُونَ (apakah tidak melihat?), لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ (supaya mereka paham) dan فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ (adakah yang mau mengambil pelajaran?).
Baca juga: Surat Yasin Ayat 58-59: Salam Perpisahan Penghuni Surga dengan Para Pendosa
Tiga Varian
Kata jibillan bermakna khalqan yang artinya makhluk, demikian Imam Ibnu Jarir al-Thabari menukil penafsiran dari Muhammad bin ‘Amr dari Abu ‘Ashim dari ‘Isa dari al-Harits dari al-Hasan dari Waraqa dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid. Penafsiran ini mengisyaratkan bahwa bahwa setan tidak hanya menggoda manusia saja, tetapi juga menggoda golongan jin untuk sama-sama durhaka kepada Allah SWT.
Kata jibillan di sini memiliki tiga varian bacaan. Mayoritas ulama qiraat Madinah dan sebagian ulama Kufah membaca kasrah jim dan ba’ (jibillan).
Adapun sebagian ulama Mekkah dan mayoritas qari Kufah men-dammah-kan jim dan mematikan ba’ (jublan). Sementara sebagian qari Basrah men-dammah-kan jim dan ba’ tanpa tasydid pada huruf lam (jubulan). Ath-Thabari sendiri lebih condong pada dua bacaan pertama karena yang paling populer.
Sedangkan At-Tabataba’i menafsirkan kata jibillan dengan jamaah atau sekumpulan orang yang banyak. Sementara menurut Quraish Shihab , jibillan seakar dengan kata jabal yang berarti gunung. Ini mengesankan makna kasar, keras, agung dan mantap. Kata jibillan sendiri di sini menurutnya berarti sekelompok orang yang kuat.
Lihat Juga :