Kisah Bani Umayyah: Tragedi Karbala, Ketika Pembunuhan dan Pemerkosaan Nodai Madinah

Sabtu, 19 Februari 2022 - 11:49 WIB
Yazid mengirim pasukan yang dipimpin oleh Muslim bin Uqba untuk mengambil kembali bai’at dari penduduk dua kota suci ini. Pesan Yazid kepada Muslim bin Uqbah dalam misi ini begitu dikenal sejarah, “Berangkatlah menuju Madinah. Jika mereka melakukan perlawanan, perangi! Jika kau menang, izinkan tentaramu berbuat sekehendak hati selama tiga hari. Setelah itu berangkatlah ke Mekkah dan perangilah Abdullah bin Zubair!”.

Ali Audah dalam bukunya berjudul "Ali bin Abi Thalib; Sampai kepada Hasan dan Husain" memaparkan kengerian dan kebejatan yang tak tertanggungkan terjadi. Sejarah mencatat, bahwa apa yang terjadi dalam tiga hari ini adalah sebuah bencana besar dan penodaan terbesar dalam sejarah kota Madinah. Pemerkosaan, penjarahan dan pembunuhan berlangsung tanpa henti. Banyak tabi’in yang wafat dalam peristiwa ini. Di antara mereka ada nama-nama seperti Zubair bin Abdurrahman bin Auf, Fuzail bin Abbas bin Abdul Muthalib, dan Abdullah bin Nufail bin Harist bin Abdul Muthalib.

Peristiwa mengerikan ini terjadi pada tanggal 27 Dzulhijjah 63 H. Sedikit catatan, di hari yang sama juga lahir Muhammad bin Abdullah bin Abbad bin Abdul Muthalib, yang kelak akan menjadi pendiri dan juga khalifah pertama Dinasti Abbasiyah.

Baca juga: Konflik Bani Umayyah dan Bani Hasyim, Berkaca Peristiwa Damaskus Gantikan Madinah

Setelah berhasil menaklukkan Madinah dan pasukannya melakukan ibahat selama tiga hari, Muslim bin Uqbah melanjutkan perjalanan ke Mekkah. Dalam perjalanan inilah ia tiba-tiba menderita sakit yang sangat parah dan akhirnya meninggal di tempat yang bernama Abwa.

Sebelum meninggal, ia mengamanatkan agar pimpinan pasukan diambil alih Al Hushain bin Numair Al Sakuni. Setelah menguburkan Muslim bin Uqbah, pasukan ini melanjutkan misinya untuk menaklukkan kota Mekkah dan memadamkan pemberontakan Abdullah bin Zubair.

Menurut Al Waqidi, Al Hushain bin Numair tiba di Mekkah pada tanggal 24 Muharram 64 H. Ia langsung melakukan pengepungan terhadap kota Mekkah. Pasukan ini sempat mendapat perlawanan yang cukup dari Abdullah bin Zubair, sehingga durasi pengepungan ini berlangsung selama sekitar 60 hari.

Hingga akhirnya, pasukan Damaskus berhasil mengunci pasukan Abdullah bin Zubair di dalam kota Mekkah. Mereka menghujani seisi kota dengan batu api yang dilontarkan dari ketapel. Akibatnya tidak hanya rumah penduduk, tapi juga Kakbah terbakar dan sebagian dindingnya hancur.

Peristiwa terbakarnya Kakbah ini terjadi pada 3 Rabi’ al-Awwal 64 H. Tapi tidak berhenti sampai di situ, pasukan Damaskus ini terus datang bergelombang ke Mekkah. Bahkan di saat-saat akan berakhirnya pertempuran, sebanyak 5000 pasukan masih didatangkan dari Damaskus.

Tidak jelas bagaimana hasil dari pertempuran ini, tapi pengepungan ini baru berakhir setelah berita tentang kematian Yazid datang dari Damaskus pada 2 Rabi’ al-Akhir 64 H. Yazid sendiri wafat di Damaskus pada tanggal 14 Rabi’ al-Awwal 64 H.

Ini artinya dibutuhkan waktu hampir 20 hari bagi kurir untuk menyampaikan berita duka ini pada pasukan Damaskus di Mekkah. Sebuah durasi waktu yang terlalu lama untuk jarak tempuh sejauh 1600 Km (Damaskus-Mekkah).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!