Ini Si Pemalu yang Dicintai Allah Ta'ala

Senin, 15 Juni 2020 - 05:00 WIB
Allah Ta’ala menyuruh manusia agar menutup semua aurat dan tubuh, karena Dia menyukai tertutup dan membenci telanjang. Foto/Ilustrasi/Ist
Banyak riwayat hadis tentang fadhail amal yang menjelaskan tentang amalan yang paling dicintai Allah. Namun para ulama hadis berkata bahwa jawaban Rasulullah dalam hadis-hadis tersebut disesuaikan dengan sang penanya.

Asma` binti Rasyid ar-Ruwaisyid dalam "Ibadah Yang Paling Dicintai Allah" menyebut ada belasan ibadah yang sangat dicintai Allah. Dari yang belasan itu, di antaranya adalah sikap malu dan menutupi.

Malu dalam bahasa Indonesia artinya merasa sangat tidak enak hati karena berbuat sesuatu yang kurang baik atau segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut, dan sebagainya. Dalam agama Islam malu adalah bagian dari agama, orang yang memiliki rasa malu pasti akan menuai banyak kebaikan. (Baca juga: Jadi Hamba yang Mudah, Pemaaf, dan Lembut untuk Meraih Cinta Allah )

Allah subhanahu wa ta’ala menyukai sikap malu dan menutupi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( إن الله عز وجل حليم حيي ستير يحب الحياء والستر فإذا اغتسل أحدكم فليستتر )) [أخرجه النسائي].

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Maha Santun, Malu, lagi menutupi, menyukai sikap malu dan menutupi. Apabila salah seorang darimu mandi maka hendaklah ia menutupi.” (HR An-Nasa`i)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( الإيمان بضع وسبعون شعبة والحياء شعبة من الإيمان )) [أخرجه مسلم].

“Iman terbagi lebih dari tujuh puluh cabang, dan sikap malu satu cabang dari iman.” (HR Muslim)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pemalu dari pada wanita perawan dalam pingitannya.

Baca juga: Amalan Yang Bisa Menjadi Dosa Bagi Seorang Istri

Asma' menjelaskan haya` (malu) secara bahasa (etimologi) berasa dari kata hayah (hidup). Dan istihyar rajul (seseorang merasa malu): karena kekuatan rasa malu padanya, karena ia sangat mengetahui posisi memalukan, maka haya` dari kekuatan perasaan dan kelembutannya serta kekuatan hidup. Dan menurut kadar hidupnya hati ada padanya kekuatan akhlak malu.

Malu pada manusia terdiri dari tiga macam:

Pertama, malu kepada Allah. Jika seseorang malu kepada Allah, ia akan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Rasulullah bersabda,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( استحيوا من الله حق الحياء قال: قلنا: يا رسول الله إنا نستحيي والحمد لله! قال: ليس ذاك ولكن الاستحياء من الله حق الحياء أن تحفظ الرأس وما وعى والبطن وما حوى ولتذكر الموت والبلى ومن أراد الآخرة ترك زينة الدنيا فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله حق الحياء )) [أخرجه الترمذي].

“Malulah kalian kepada Allah dengan sungguh-sungguh rasa malu. Kemudian nabi ditanya, “Bagaimana caranya malu kepada Allah?” Dijawab, “Siapa yang menjaga kepala dan isinya, perut dan makanannya, meninggalkan kesenangan dunia, dan mengingat mati, maka dia sungguh telah memiliki rasa malu kepada Allah Ta'ala.”

Malu seperti inilah yang akan melahirkan buah keimanan dan ketakwaan. Menurut Asma', malu ini bersumber dari kekuatan agama dan kebenaran keyakinan.

Kedua, malu kepada manusia. Sikap malunya dari manusia itu maka dengan tidak mengganggu dan tidak terang terangan melakukan keburukan. Jenis malu ini termasuk kesempurnaan muru'ah dan berhati-hati dari celaan.

Jika seseorang memiliki rasa malu kepada manusia, maka ia akan menjaga pandangan yang tidak halal untuk dilihat.

Seorang ahli hikmah pernah ditanya tentang orang fasik. Beliau menjawab, “Yaitu orang yang tidak menjaga pandangannya, suka mengintip aurat tetangganya dari balik pintu rumahnya.”

Baca juga: 4 Perkara Syarat Diterimanya Amal Saleh dan Digandakan Pahalanya

Orang yang punya rasa malu kepada manusia tidak akan berani melakukan dosa di hadapan orang lain. Jangankan dosa, melakukan kebiasaan jeleknya saja dia malu jika ada orang yang melihatnya.

Termasuk bagian dari malu kepada manusia adalah mengutamakan orang yang lebih mulia darinya. Menghargai ulama dan orang saleh. Memuliakan orangtua dan gurunya. Merendahkan diri di hadapan mereka.

Orang yang masih punya rasa malu kepada orang lain akan dihargai dan disegani. Masyarakat mau mendengarkan pendapat dan nasihatnya.

Ketiga, malu kepada diri sendiri. Ketika orang punya malu kepada dirinya sendiri, dia tidak akan melakukan perbuatan dosa ketika sendirian. Ia malu jika ada orang yang melihat perbuatannya.

Baca juga: Ibadah Paling Dicintai Allah: Silaturahim, Amar Ma'ruf, dan N ahi Munkar

Maka adalah dengan sifat iffah (menahan diri dari yang dilarang) dan menjaga diri dalam kesendirian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( الحياء لا يأتي إلا بخير ))

‘Sifat malu tidak datang kecuali dengan kebaikan.”

Dan beliau juga bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( الحياء خير كله )) . أو قال: ((الحياء كله خير ))
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!