Kisah Muawiyah bin Yazid Menolak Menjadi Khalifah karena Trauma
Rabu, 23 Februari 2022 - 14:56 WIB
Buku The History of al-Tabari menyebut Muawiyah II akhirnya memutuskan agar urusan kekhalifahan ini dikembalikan pada kaum Muslimin seluruhnya. Setelah itu iapun masuk ke dalam Istananya dan tidak pernah lagi muncul ke publik hingga ia akhirnya dikabarkan wafat.
Baca juga: Konflik Bani Umayyah dan Bani Hasyim, Berkaca Peristiwa Damaskus Gantikan Madinah
Imam Suyuthi mengatakan bahwa Khalifah Muawiyah II bahkan tidak pernah sempat mengimami sholat di masjid. Adapun orang yang bertugas mengimami umat saat itu adalah Adh-Dhahhak bin Qais. Ia jugalah yang mewakili Muawiyah II dalam berbagai urusan keumatan. Keadaan ini berlanjut hingga Muawiyah II menemui ajalnya.
Imam Thabari menambahkan mengenai sebab kematiannya ada laporan bahwa Muawiyah II diracun. Ada juga yang berkata dia ditikam dari belakang, yang lain mengabarkan bahwa memang sejak awal beliau ini sakit-sakitan. Belakangan Syekh Ibn Arabi mengatakan Muawiyah II ini seorang Wali Quthb pada masanya.
Usia kekuasaannya hanya berlangsung 40 hari. Soal ini sejarawan Muslim berselisih pendapat. Ada yang mengatakan bahwa ia memerintah kurang lebih 20 hari atau 40 hari. Ada juga yang mengatakan tiga bulan. Menurut DR Muhammad Ali Ash-Shallabi yang paling kuat adalah pendapat tiga bulan.
Setelah kematian Muawiyah II, krisis kekuasaan terjadi di dalam tubuh Dinasti Umayyah. Di berbagai wilayah kaum Muslimin, Dinasti Umayyah mengalami kemerosotan legitimasi yang parah.
Sistem Khilafah
Sebenarnya Muawiyah II dalam khutbahnya menginginkan agar ia menyerahkan perkara kekhilafahan ini sesuai ketentuan Islam, yaitu dengan menerapkan syura yang diterapkan Umar bin Khathab .
Namun ia merasa bahwa dirinya sangatlah jauh derajatnya dari Umar bin Khathab, sehingga ia pun meninggalkan begitu saja kursi kekhalifahannya kepada Umat Islam agar mereka memutuskan sendiri tentang siapa yang akan menggantikan kedudukannya sebagai khalifah.
Ash-Shallabi menjelaskan bahwa khutbah Muawiyah II inilah yang menjadi bukti akan ketidakrelaannya tentang berubahnya sistem pemilihan khalifah melalui cara pewarisan tahta atau dinasti.
Baca juga: Konflik Bani Umayyah dan Bani Hasyim, Berkaca Peristiwa Damaskus Gantikan Madinah
Imam Suyuthi mengatakan bahwa Khalifah Muawiyah II bahkan tidak pernah sempat mengimami sholat di masjid. Adapun orang yang bertugas mengimami umat saat itu adalah Adh-Dhahhak bin Qais. Ia jugalah yang mewakili Muawiyah II dalam berbagai urusan keumatan. Keadaan ini berlanjut hingga Muawiyah II menemui ajalnya.
Imam Thabari menambahkan mengenai sebab kematiannya ada laporan bahwa Muawiyah II diracun. Ada juga yang berkata dia ditikam dari belakang, yang lain mengabarkan bahwa memang sejak awal beliau ini sakit-sakitan. Belakangan Syekh Ibn Arabi mengatakan Muawiyah II ini seorang Wali Quthb pada masanya.
Usia kekuasaannya hanya berlangsung 40 hari. Soal ini sejarawan Muslim berselisih pendapat. Ada yang mengatakan bahwa ia memerintah kurang lebih 20 hari atau 40 hari. Ada juga yang mengatakan tiga bulan. Menurut DR Muhammad Ali Ash-Shallabi yang paling kuat adalah pendapat tiga bulan.
Setelah kematian Muawiyah II, krisis kekuasaan terjadi di dalam tubuh Dinasti Umayyah. Di berbagai wilayah kaum Muslimin, Dinasti Umayyah mengalami kemerosotan legitimasi yang parah.
Sistem Khilafah
Sebenarnya Muawiyah II dalam khutbahnya menginginkan agar ia menyerahkan perkara kekhilafahan ini sesuai ketentuan Islam, yaitu dengan menerapkan syura yang diterapkan Umar bin Khathab .
Namun ia merasa bahwa dirinya sangatlah jauh derajatnya dari Umar bin Khathab, sehingga ia pun meninggalkan begitu saja kursi kekhalifahannya kepada Umat Islam agar mereka memutuskan sendiri tentang siapa yang akan menggantikan kedudukannya sebagai khalifah.
Ash-Shallabi menjelaskan bahwa khutbah Muawiyah II inilah yang menjadi bukti akan ketidakrelaannya tentang berubahnya sistem pemilihan khalifah melalui cara pewarisan tahta atau dinasti.
Lihat Juga :