Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani: Lailatul Qadar Turun Malam 27 Ramadhan
Jum'at, 15 April 2022 - 16:46 WIB
"Diturunkannya kitab ini pun sebagai pemberi penjelasan perihal jalan keselamatan dari api kebodohan. Sebab, orang-orang dungu tak akan menyambut malam agung itu, kecuali mereka yang memahami hakikat alam gaib," ujarnya sebagaimana dikutip Khairul Imam, Staf Pengajar di Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) An Nur Yogyakarta, dalam tulisannya berjudul "Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dan Lailatul Qadr" sebagaimana dilansir laman Ganaislamika.
Maka dikatakan, wahai Muhammad, sekiranya Allah tidak memberitahumu perihal keagungan malam itu, niscaya tak ada yang mengetahui rahasia-rahasianya, hingga Allah memberitahukannya. Malam yang penuh keagungan dan hikmah. Malam yang berlimpah keberkahan, di mana amal saleh pada malam itu lebih baik dari seribu bulan. Bahkan para sahabat tidak pernah merasakan puncak kegembiraan sebagaimana ketika disebutkan firman-Nya, “malam itu lebih baik dari seribu bulan.”
Baca juga: Keutamaan Lailatul Qadar Bagi Perempuan yang Haid
Para malaikat turun sejak terbenamnya matahari sampai terbitnya. Turunnya para malaikat ini disertai oleh punggawa mereka, yakni Jibril, sebagai jelmaan dari ar-Ruh al-Amin. Ruh yang menjelma rupa manusia dan makhluk teragung. Dialah malaikat paling mulia. Ada yang mengatakan, turunnya Jibril dengan rupa manusia, namun dengan jasad malaikat.
Pada malam itu, mereka turun dengan berbaris-baris dan dipimpin oleh Jibril as. (Lihat QS an-Naba [78]: 36) atas izin Tuhan untuk menyelesaikan berbagai perkara kebaikan dan keberkahan. Mereka turun ke langit dunia hingga fajar menjelang dengan penuh kesejahteraan dan kedamaian, tanpa keburukan dan sihir.
Kalimat mathla dengan lam fathah mengindikasikan tempat terbitnya; jika dengan kasrah menandakan terbitnya. Dan para malaikat menghaturkan salam kedamaian kepada orang-orang mukmin hingga terbitnya fajar. Demikian penjelasan Syaikh Abdul Qadir dalam kitab "al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqqi ‘Azza wa Jalla".
Keutamaan malam itu pun mengundang ketakjuban malaikat Jibril, Sang Pembawa Wahyu. Dalam satu riwayat berkenaan dengan kalimat “malam yang lebih baik dari seribu bulan” yang dikutip Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, suatu ketika Rasulullah SAW berbincang-bincang dan mengisahkan empat sosok Bani Israil yang telah beribadah kepada Allah selama 80 tahun tanpa bermaksiat sama sekali.
Baca juga: Ciri dan Tanda Seseorang Mendapatkan Lailatul Qadar
Kala itu beliau menyebutkan Ayub, Zakaria, Hizqil, dan Yusa’ bin Nun. Dengan kisah itu para sahabat pun merasa heran. Lalu datanglah Jibril as sembari berkata, “Duhai Muhammad, engkau dan para sahabatmu takjub dengan hamba Allah yang telah beribadah selama 80 tahun tanpa melakukan kemaksiatan. Sementara Allah justru menurunkan sesuatu yang lebih baik dari itu semua, sambil membacakan surat al-Qadr sampai akhir. Dan ini lebih utama dari sesuatu yang mengejutkanmu dan para sahabatmu.” Maka, Nabi SAW pun merasa bahagia dengan itu.
Namun demikian, tak ada yang tahu pasti kapan terjadinya malam itu. Hanya mengundang spekulasi yang mungkin sedikit mendekati. Akan tetapi, spekulasi ini tidak lantas tanpa ilmu. Tentunya tetap berlandaskan keilmuan yang ketat dan tidak sembrono.
Baca juga: Do’a Lailatul Qadar Sebagaimana Diajarkan Rasulullah SAW
Maka dikatakan, wahai Muhammad, sekiranya Allah tidak memberitahumu perihal keagungan malam itu, niscaya tak ada yang mengetahui rahasia-rahasianya, hingga Allah memberitahukannya. Malam yang penuh keagungan dan hikmah. Malam yang berlimpah keberkahan, di mana amal saleh pada malam itu lebih baik dari seribu bulan. Bahkan para sahabat tidak pernah merasakan puncak kegembiraan sebagaimana ketika disebutkan firman-Nya, “malam itu lebih baik dari seribu bulan.”
Baca juga: Keutamaan Lailatul Qadar Bagi Perempuan yang Haid
Para malaikat turun sejak terbenamnya matahari sampai terbitnya. Turunnya para malaikat ini disertai oleh punggawa mereka, yakni Jibril, sebagai jelmaan dari ar-Ruh al-Amin. Ruh yang menjelma rupa manusia dan makhluk teragung. Dialah malaikat paling mulia. Ada yang mengatakan, turunnya Jibril dengan rupa manusia, namun dengan jasad malaikat.
Pada malam itu, mereka turun dengan berbaris-baris dan dipimpin oleh Jibril as. (Lihat QS an-Naba [78]: 36) atas izin Tuhan untuk menyelesaikan berbagai perkara kebaikan dan keberkahan. Mereka turun ke langit dunia hingga fajar menjelang dengan penuh kesejahteraan dan kedamaian, tanpa keburukan dan sihir.
Kalimat mathla dengan lam fathah mengindikasikan tempat terbitnya; jika dengan kasrah menandakan terbitnya. Dan para malaikat menghaturkan salam kedamaian kepada orang-orang mukmin hingga terbitnya fajar. Demikian penjelasan Syaikh Abdul Qadir dalam kitab "al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqqi ‘Azza wa Jalla".
Keutamaan malam itu pun mengundang ketakjuban malaikat Jibril, Sang Pembawa Wahyu. Dalam satu riwayat berkenaan dengan kalimat “malam yang lebih baik dari seribu bulan” yang dikutip Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, suatu ketika Rasulullah SAW berbincang-bincang dan mengisahkan empat sosok Bani Israil yang telah beribadah kepada Allah selama 80 tahun tanpa bermaksiat sama sekali.
Baca juga: Ciri dan Tanda Seseorang Mendapatkan Lailatul Qadar
Kala itu beliau menyebutkan Ayub, Zakaria, Hizqil, dan Yusa’ bin Nun. Dengan kisah itu para sahabat pun merasa heran. Lalu datanglah Jibril as sembari berkata, “Duhai Muhammad, engkau dan para sahabatmu takjub dengan hamba Allah yang telah beribadah selama 80 tahun tanpa melakukan kemaksiatan. Sementara Allah justru menurunkan sesuatu yang lebih baik dari itu semua, sambil membacakan surat al-Qadr sampai akhir. Dan ini lebih utama dari sesuatu yang mengejutkanmu dan para sahabatmu.” Maka, Nabi SAW pun merasa bahagia dengan itu.
Namun demikian, tak ada yang tahu pasti kapan terjadinya malam itu. Hanya mengundang spekulasi yang mungkin sedikit mendekati. Akan tetapi, spekulasi ini tidak lantas tanpa ilmu. Tentunya tetap berlandaskan keilmuan yang ketat dan tidak sembrono.
Baca juga: Do’a Lailatul Qadar Sebagaimana Diajarkan Rasulullah SAW
(mhy)
Lihat Juga :