Kisah Muhammad Al-Hanafiyah, Putra Ali Bin Abu Thalib yang Jago Berkelahi

Kamis, 05 Mei 2022 - 18:24 WIB
Dengan tawadhu’ beliau menjawab, “Sebab, kedua kakakku ibarat kedua mata ayahku, sedangkan kedudukanku adalah ibarat kedua tangannya. Maka ayah menjaga kedua matanya dengan kedua tangannya.”

Baca juga: Dia Tabiin yang Tak Pernah Tidur Malam, Ini Penyebabnya

Ketika terjadi perang Shiffin yang meletus antara kelompok Ali bin Abi Thalib dengan kelompok Muawiyah bin Abi Sofyan, Muhammad Al-Hanafiyah memegang panji-panji ayahnya.

Tatkala perang berkobar, korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Terjadilah suatu peristiwa yang kemudian diriwayatkan sendiri olehnya. Beliau menuturkan kejadiannya:

“Ketika berada di Shiffin kami bertempur melawan sahabat sendiri, Muawiyah. Kami saling bunuh, hingga kami menduga tidak akan ada lagi yang tersisa dari kami ataupun mereka. Aku menjadi sedih dan gelisah karenanya.”

“Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan dari belakangku, ‘Wahai saudara-saudara muslimin…ingat Allah…Allah…wahai saudara muslimin untuk siapa lagikah wanita dan anak-anak kita? Untuk siapa agama dan kehormatan ini? Siapakah nanti yang akan menghadapi Romawi dan golongan orang Dailam?..Wahai saudara-saudara muslimin…Allah…Allah, sisakan orang dari kalian, wahai saudara-saudara muslimin…!’

Seketika itu aku tersadar dan berjanji tidak akan mengangkat dan menghunus senjata lagi melawan seorang muslim pun sejak hari itu…”

Pada gilirannya, Ali syahid di tangan orang-orang yang zhalim dan durhaka dan khilafah pun jatuh ke tangan Muawiyah bin Abi Sufyan. Muhamad Al-Hanafiyah membai’at Muawiyah dengan segenap ketaatan untuk patuh di saat damai maupun perang demi kesatuan, kedamaian dan kejayaan kaum muslimin.

Baca juga: Mengapa Para Sahabat Nabi dan Tabiin Tak Memiliki Karomah?

Muawiyah sendiri bisa merasakan kejujuran, ketulusan dan kesucian bai’at tersebut dan percaya penuh kepada Muhammad Al-Hanafiyah. Bahkan Muawiyah memintanya agar sering-sering menganjunginya. Beberapa kali Muhammad Al-Hanafiyah ke Damaskus untuk menjumpai Muawiyah.

Sebagai contoh, ketika suatu hari kaisar Romawi menulis surat kepada Muawiyah yang antara lain berisi:

“Raja-raja dari kalangan kami memiliki kebiasaan surat menyurat dan saling mengirimkan hal-hal yang menakjubkan yang dimiliki masing-masing. Lalu kami saling berlomba dengan hal-hal yang menakjubkan yang kami miliki. Berkenankah Anda mengizinkan kami melakukan hal yang sama seperti kebiasaan yang berlaku di antara kami?”

Muawiyah menyetujui tawaran itu dan memberikan izin. Setelah itu kaisar Romawi mengirimkan dua orang lelaki yang berpenampilan menakjubkan. Yang satu luar biasa tingginya dan besar perawakannya seakan ia adalah pohon besar menjulang di tengah hutan, atau suatu bangunan yang besar. Yang satu lagi kuatnya luar biasa dan ototnya kuat bagaikan binatang buas. Kedatangan keduanya diserta sepucuk surat berbunyi, “Adakah orang yang menyamai kebesaran dan kekuatan orang ini di di negeri Anda?”
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!