Mengapa Para Sahabat Nabi dan Tabiin Tak Memiliki Karomah?
Selasa, 01 Juni 2021 - 05:00 WIB
loading...
Ilustrasi Sunan Ampel/Ist
A
A
A
Para sahabat Nabi Muhammad SAW merupakan auliya atau wali Allah sekaligus ulama. Manusia-manusia yang begitu dekat dengan Allah seperti halnya Nabi Muhammad SAW . Namun, jika diperhatikan, kisah-kisah karomah atau keistimewaan lebih banyak terdapat pada para wali setelah masa sahabat Nabi. Dengan kata lain, lebih banyak cerita karomahnya para wali ketimbang sahabat.
Baca juga: Karomah Terbesar Seorang Guru Adalah Keistiqomahannya Mengajar
Istilah karomah, berasal dari bahasa Arab, “Karoma-Karim yang berarti mulia. Dalam kamus bahasa Indonesia sendiri, sepertinya tidak dikenal kata karomah. Tapi yang ada hanyalah kata “keramat”, sehingga kata karomah tersebut sering disebut dengan keramat.
Dan istilah keramat inipun, memang suatu peristiwa yang sepertinya sulit diterima oleh akal pikiran manusia pada umumnya. Meski demikian, karomah sering dijumpai dalam berbagai literatur keagamaan, termasuk dalam literatur agama-agama selain Islam.
Ceria tenang karomah dalam Islam jusru ada setelah sahabat Nabi. Tak ada kisah karomah tentang sahabat Nabi. Habib Luthfi bin Yahya dalam Secercah Tinta (2012) menjelaskan bahwa pada zaman Nabi Muhammad, tidak perlu yang namanya karomah itu. Karena keimanan mereka langsung diterima oleh Rasulullah. "Dengan kata lain, tidak membutuhkan penguat lainnya berupa karomah itu," tulisanya.
Mendekati keimanan para sahabat ialah golongan tabi’in yang hidup menjumpai para sahabat. Jaminan keimanan mereka langsung diketahui dari para sahabat Nabi. Walaupun mereka tidak melihat Rasulullah, mereka sudah bercermin kepada para sahabat Nabi.
Mereka menyadari kedudukan para sahabat yang hebat dan luar biasa, apalagi Rasulullah, tidak bisa diukur. Maka untuk meyakini dan beriman, tidak perlu adanya karomah. Tetapi setelah era tabi’in, karomah yang datang dari Allah itu perlu.
Perlu adanya karomah macam karomahnya Syaikh Abdul Qadir Jailani dan wali-wali lainnya. Munculnya karomah di tangan ulama-ulama besar seperti Syaikh Abdul Qadir Jailani untuk mengangkat kepercayaan masyarakat umum supaya lebih tebal terhadap mukjizat Nabi Muhammad.
Baca juga: Hitam Maupun Putih Sama Sesatnya? Ini Beda Dukun dan Sihir Dengan Karomah
Menurut Habib Luthfi, tujuan dari karomah-karomah ulama-ulama dan para wali ialah untuk menunjukkah mukjizat para Nabi terdahulu. Karomah-karomah itu membawa, menolong, dan menguatkan keyakinan orang-orang awam. Keyakinan orang awam dan kepercayaannya terhadap Al-Qur’an serta yang terkandung di dalamnya akan semakin tebal.
Baca juga: Karomah Terbesar Seorang Guru Adalah Keistiqomahannya Mengajar
Istilah karomah, berasal dari bahasa Arab, “Karoma-Karim yang berarti mulia. Dalam kamus bahasa Indonesia sendiri, sepertinya tidak dikenal kata karomah. Tapi yang ada hanyalah kata “keramat”, sehingga kata karomah tersebut sering disebut dengan keramat.
Dan istilah keramat inipun, memang suatu peristiwa yang sepertinya sulit diterima oleh akal pikiran manusia pada umumnya. Meski demikian, karomah sering dijumpai dalam berbagai literatur keagamaan, termasuk dalam literatur agama-agama selain Islam.
Ceria tenang karomah dalam Islam jusru ada setelah sahabat Nabi. Tak ada kisah karomah tentang sahabat Nabi. Habib Luthfi bin Yahya dalam Secercah Tinta (2012) menjelaskan bahwa pada zaman Nabi Muhammad, tidak perlu yang namanya karomah itu. Karena keimanan mereka langsung diterima oleh Rasulullah. "Dengan kata lain, tidak membutuhkan penguat lainnya berupa karomah itu," tulisanya.
Mendekati keimanan para sahabat ialah golongan tabi’in yang hidup menjumpai para sahabat. Jaminan keimanan mereka langsung diketahui dari para sahabat Nabi. Walaupun mereka tidak melihat Rasulullah, mereka sudah bercermin kepada para sahabat Nabi.
Mereka menyadari kedudukan para sahabat yang hebat dan luar biasa, apalagi Rasulullah, tidak bisa diukur. Maka untuk meyakini dan beriman, tidak perlu adanya karomah. Tetapi setelah era tabi’in, karomah yang datang dari Allah itu perlu.
Perlu adanya karomah macam karomahnya Syaikh Abdul Qadir Jailani dan wali-wali lainnya. Munculnya karomah di tangan ulama-ulama besar seperti Syaikh Abdul Qadir Jailani untuk mengangkat kepercayaan masyarakat umum supaya lebih tebal terhadap mukjizat Nabi Muhammad.
Baca juga: Hitam Maupun Putih Sama Sesatnya? Ini Beda Dukun dan Sihir Dengan Karomah
Menurut Habib Luthfi, tujuan dari karomah-karomah ulama-ulama dan para wali ialah untuk menunjukkah mukjizat para Nabi terdahulu. Karomah-karomah itu membawa, menolong, dan menguatkan keyakinan orang-orang awam. Keyakinan orang awam dan kepercayaannya terhadap Al-Qur’an serta yang terkandung di dalamnya akan semakin tebal.
Lihat Juga :