Guru Yahudi Ini Anggap di Surga Itu Aneh, Makan Tapi Tidak Buang Air Besar
Selasa, 23 Juni 2020 - 06:20 WIB
Iyas mengatakan hal itu, karena al-Qasim adalah murid dari kedua ulama tersebut, sedangkan Iyas sendiri tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka. Al-Qasim menyadari bahwa Iyas akan memojokkannya, sebab jika pemimpin Irak itu bermusyawarah dengan kedua ulama tersebut tentulah mereka akan memilih dia bukan Iyas.
Baca juga: Ridha Dengan Bala untuk Meraih Cinta Allah Ta'ala
Maka dia segera menoleh kepada Adi dan berkata, “Wahai Amir, janganlah Anda menanyakan perihalku kepada siapapun. Demi Allah yang tiada ilah selain Dia. Iyas lebih mengerti tentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada aku dan lebih mampu untuk menjadi hakim. Bila aku berbohong dalam sumpahku ini, maka tentunya Anda tidak patut memilihku karena itu berarti memberikan jabatan kepada orang yang ada cacatnya. Bila aku jujur, Anda tidak boleh mengutamakan orang yang lebih rendah, sedangkan di sini ada yang lebih utama.”
Baca juga: Dulu Haram Kini Halal: Niat Mencuri Malah Dapat Istri
Iyas menoleh kepada Adi dan berkata, “Wahai Amir, Anda memanggil orang untuk dijadikan hakim. Ibaratnya Anda meletakkan ia di tepi jahannam, lalu orang itu (yakni al-Qasim) hendak menyelamatkan dirinya dengan sumpah palsu, dia bisa meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beristighfar kepada-Nya. Kemudian selamatlah dia dari apa yang ditakutinya.”
Baca juga: 3 Karomah Utsman Bin Affan, Sahabat Berjuluk Dzun Nurain
Maka Adi berkata, “Orang yang berpandangan seperti dirimu inilah yang pantas menjadi hakim.” Lalu diangkatlah Iyas sebagai Hakim di Bashrah.
Berbakat Sejak Kecil
Siapakah gerangan yang dipilih oleh khalifah yang zuhud, Umar bin Abdul Aziz untuk menjadi hakim di Bashrah ini?
Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya dalam Mereka adalah Para Tabiin, mengungkap Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah al-Muzanni, lahir pada tahun 46 H di daerah Yamamah Najed. Kemudian beliau berpindah ke Bashrah beserta seluruh keluarganya. Di sanalah beliau tumbuh berkembang dan belajar. Beliau sering mondar-mandir ke Damaskus saat masih belia, tentunya untuk menimba ilmu dari sisa-sisa sahabat yang mulia dan tokoh-tokoh tabi’in yang agung.
Baca juga: Amalan Yang Bisa Menjadi Dosa Bagi Seorang Istri
Sejak kecil telah tampak bakat dan kecerdasan Putra al-Muzanni yang satu ini. Orang-orang sering membicarakan kehebatan dan beritanya kendati beliau masih kanak-kanak.
Baca juga: Ridha Dengan Bala untuk Meraih Cinta Allah Ta'ala
Maka dia segera menoleh kepada Adi dan berkata, “Wahai Amir, janganlah Anda menanyakan perihalku kepada siapapun. Demi Allah yang tiada ilah selain Dia. Iyas lebih mengerti tentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada aku dan lebih mampu untuk menjadi hakim. Bila aku berbohong dalam sumpahku ini, maka tentunya Anda tidak patut memilihku karena itu berarti memberikan jabatan kepada orang yang ada cacatnya. Bila aku jujur, Anda tidak boleh mengutamakan orang yang lebih rendah, sedangkan di sini ada yang lebih utama.”
Baca juga: Dulu Haram Kini Halal: Niat Mencuri Malah Dapat Istri
Iyas menoleh kepada Adi dan berkata, “Wahai Amir, Anda memanggil orang untuk dijadikan hakim. Ibaratnya Anda meletakkan ia di tepi jahannam, lalu orang itu (yakni al-Qasim) hendak menyelamatkan dirinya dengan sumpah palsu, dia bisa meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beristighfar kepada-Nya. Kemudian selamatlah dia dari apa yang ditakutinya.”
Baca juga: 3 Karomah Utsman Bin Affan, Sahabat Berjuluk Dzun Nurain
Maka Adi berkata, “Orang yang berpandangan seperti dirimu inilah yang pantas menjadi hakim.” Lalu diangkatlah Iyas sebagai Hakim di Bashrah.
Berbakat Sejak Kecil
Siapakah gerangan yang dipilih oleh khalifah yang zuhud, Umar bin Abdul Aziz untuk menjadi hakim di Bashrah ini?
Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya dalam Mereka adalah Para Tabiin, mengungkap Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah al-Muzanni, lahir pada tahun 46 H di daerah Yamamah Najed. Kemudian beliau berpindah ke Bashrah beserta seluruh keluarganya. Di sanalah beliau tumbuh berkembang dan belajar. Beliau sering mondar-mandir ke Damaskus saat masih belia, tentunya untuk menimba ilmu dari sisa-sisa sahabat yang mulia dan tokoh-tokoh tabi’in yang agung.
Baca juga: Amalan Yang Bisa Menjadi Dosa Bagi Seorang Istri
Sejak kecil telah tampak bakat dan kecerdasan Putra al-Muzanni yang satu ini. Orang-orang sering membicarakan kehebatan dan beritanya kendati beliau masih kanak-kanak.
Lihat Juga :