Kisah Muhammad Al-Fatih Mengimami Sholat Jumat Saat Penaklukan Konstantinopel
Senin, 01 Agustus 2022 - 22:35 WIB
Ilustrasi sholat Jumat yang dipimpin Sultan Muhammad Al-Fatih saat penaklukan Konstantinopel. Foto/tangkapan layar Film Fetih 1453
Kisah Sultan Muhammad Al-Fatih (1432-1481) menjadi imam sholat Jumat menarik untuk diketahui. Sebelum menaklukkan Konstantinopel, Sultan Al-Fatih dan pasukannya melaksanakan sholat Jumat yang disebut sebagai sholat Jumat terbesar dalam sejarah.
Untuk diketahui, Sultan Muhammad Al-Fatih menyiapkan pasukan sebanyak 250.000 mujahid dan ratusan kapal untuk membebaskan Konstantinopel. Beliau telah mewujudkan bisyarah Rasulullah SAW tentang jatuhnya Konstantinopel ke tangan Islam.
Dalam satu Hadis, Rasulullah SAW pernah bersabda: "Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan." (HR Ahmad)
Dalam merebut Konstantinopel, Sultan Al-Fatih tidaklah mengandalkan pasukannya semata, beliau menggantungkan urusannya kepada Allah. Al-Fatih dan pasukannya tak henti berdoa sembari memohon pertolongan Allah.
Setelah dua bulan dikepung, Konstantinopel akhirnya jatuh di tangan pasukan Islam pada tanggal 29 Mei 1453. Kejatuhan Konstantinopel adalah memori yang tak akan dilupakan oleh kaum Muslim maupun non Muslim.
Yang menarik adalah ketajaman pandangan matahati Al-Fatih dan ketaatannya menjalankan agama. Sebelum melakukan penyerangan, Sultan Al-Fatih tak lupa melaksanakan sholat Jumat bersama pasukannya.
Dalam catatan sejarah, sholat Jumat yang dipimpin Sultan Muhammad Al-Fatih ini merupakan sholat Jumat terbesar yang pernah terjadi pada 1453. Sholat Jumat ini digelar di jalan menuju Konstantinopel dengan jamaah yang membentang sepanjang 4 Kilometer dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di Utara.
Muhammad Al-Fatih Jadi Imam Sholat Jumat
Sholat Jumat yang dipimpin Muhammad Al-Fatih tersebut berjarak sekitar 1,5 Km dari depan benteng Konstantinopel. Dikisahkan, saat hendak melaksanakan sholat Jumat itu, muncul masalah siapa yang layak menjadi imam.
Untuk diketahui, Sultan Muhammad Al-Fatih menyiapkan pasukan sebanyak 250.000 mujahid dan ratusan kapal untuk membebaskan Konstantinopel. Beliau telah mewujudkan bisyarah Rasulullah SAW tentang jatuhnya Konstantinopel ke tangan Islam.
Dalam satu Hadis, Rasulullah SAW pernah bersabda: "Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan." (HR Ahmad)
Dalam merebut Konstantinopel, Sultan Al-Fatih tidaklah mengandalkan pasukannya semata, beliau menggantungkan urusannya kepada Allah. Al-Fatih dan pasukannya tak henti berdoa sembari memohon pertolongan Allah.
Setelah dua bulan dikepung, Konstantinopel akhirnya jatuh di tangan pasukan Islam pada tanggal 29 Mei 1453. Kejatuhan Konstantinopel adalah memori yang tak akan dilupakan oleh kaum Muslim maupun non Muslim.
Yang menarik adalah ketajaman pandangan matahati Al-Fatih dan ketaatannya menjalankan agama. Sebelum melakukan penyerangan, Sultan Al-Fatih tak lupa melaksanakan sholat Jumat bersama pasukannya.
Dalam catatan sejarah, sholat Jumat yang dipimpin Sultan Muhammad Al-Fatih ini merupakan sholat Jumat terbesar yang pernah terjadi pada 1453. Sholat Jumat ini digelar di jalan menuju Konstantinopel dengan jamaah yang membentang sepanjang 4 Kilometer dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di Utara.
Muhammad Al-Fatih Jadi Imam Sholat Jumat
Sholat Jumat yang dipimpin Muhammad Al-Fatih tersebut berjarak sekitar 1,5 Km dari depan benteng Konstantinopel. Dikisahkan, saat hendak melaksanakan sholat Jumat itu, muncul masalah siapa yang layak menjadi imam.
Lihat Juga :