Kisah Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk: Masa Kejayaan Turki Utsmani
Minggu, 01 Desember 2024 - 19:07 WIB
loading...
Muhammad al-Fatih wafat dalam usia 51 tahun dan dia dimakamkan di dekat masjid megah yang dibangunnya di Konstantinopel. Ilustrasi: Ist
A
A
A
PUNCAK kejayaan Turki Utsmani ada pada tiga orang sultan, salah satunya adalah Sultan Muhammad II (1451-1484 M) bergelar “Al-Fatih Sang Penakluk”. Pada masanya, Al-Fatih dapat mengalahkan Byzantium dan menaklukkan Konstantinopel yang sudah direncanakan dulu oleh Sultan Bayazid.
Dr. H. Syamruddin Nasution, M.Ag dalam bukunya berjudul "Sejarah Peradaban Islam" (Yayasan Pusaka Riau, 2013) menuturkan kekuasaan Daulah Utsmani yang sedemikian luas di Asia Kecil dan Eropa Timur tidak dapat kokoh sebelum Konstantinopel ditaklukkan.
Oleh sebab itu, menaklukkan Konstantinopel suatu keniscayaan yang tidak dapat di tawar-tawar, karena urusan hidup matinya Daulah Turki Utsmani terletak pada keberhasilan mereka menaklukkan Konstantinopel.
Semangat untuk menaklukkan Konstantinopel dikobarkan terus secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, karena mereka mengingat akan takbir yang diucapkan Nabi Muhammad SAW ketika cahaya memancar dari linggisnya ketika kena batu sewaktu menggali parit dalam perang Khandak.
Baca juga: Meriam Raksasa Andalan Sultan Muhammad Al-Fatih
Hal itu menjadi satu keyakinan yang kuat bagi mereka bahwa Konstantinopel pada suatu ketika kelak pasti akan dapat ditaklukkan.
Maka, berdasarkan keyakinan tersebut, menaklukkan Konstantinopel bukan saja menyangkut urusan negara tetapi juga menyangkut jihat yang kelak akan mendapat bantuan dari Allah SWT, dan mereka pun rela mati untuk perang tersebut.
Usaha menaklukkan Konstantinopel sudah dimulai sejak Muawiyah I berkuasa. Dia mengerahkan angkatan laut di bawah pimpinan putranya Yazid merebut kota itu (668- 669) tetapi usahanya gagal karena pertahanan kota yang kokoh dan mereka dari pihak musuh sudah menggunakan meriam Yunani.
Taktik yang dilakukan Muhammad II dalam menaklukkan Konstantinopel berbeda dengan yang dilakukan Sultan-sultan sebelumnya.
Jauh hari sebelum melakukan penaklukkan, Sultan Muhammad II terlebih dahulu membangun sebuah benteng yang tinggi yang diberi nama Runli Hisar. Benteng ini berada di seberang selat Borporus, dekat konstatinopel.
Kaisar Yunani mengirimkan utusan untuk menyampaikan protes kepada Sultan Muhammad II. Tetapi Sultan Muhammad II mengancam Kaisar dengan hukuman mati, sehingga Kaisar Yunani tidak berhasil menghentikan pembangunan benteng tersebut.
Baca juga: Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih
Fungsi benteng ini adalah sebagai tempat mengumpulkan persediaan perang untuk menyerang Konstantinopel. Pembangunan benteng tersebut memakan waktu selama tiga bulan.
Nilai strategis dari pembangunan benteng itu sangat tinggi sebab dengan di bangunnya benteng tersebut, Konstantinopel tidak mungkin lagi mendapat bantuan, baik peralatan perang, persediaan senjata, maupun bahan logistik lainnya dari Laut Hitam.
Dr. H. Syamruddin Nasution, M.Ag dalam bukunya berjudul "Sejarah Peradaban Islam" (Yayasan Pusaka Riau, 2013) menuturkan kekuasaan Daulah Utsmani yang sedemikian luas di Asia Kecil dan Eropa Timur tidak dapat kokoh sebelum Konstantinopel ditaklukkan.
Oleh sebab itu, menaklukkan Konstantinopel suatu keniscayaan yang tidak dapat di tawar-tawar, karena urusan hidup matinya Daulah Turki Utsmani terletak pada keberhasilan mereka menaklukkan Konstantinopel.
Semangat untuk menaklukkan Konstantinopel dikobarkan terus secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, karena mereka mengingat akan takbir yang diucapkan Nabi Muhammad SAW ketika cahaya memancar dari linggisnya ketika kena batu sewaktu menggali parit dalam perang Khandak.
Baca juga: Meriam Raksasa Andalan Sultan Muhammad Al-Fatih
Hal itu menjadi satu keyakinan yang kuat bagi mereka bahwa Konstantinopel pada suatu ketika kelak pasti akan dapat ditaklukkan.
Maka, berdasarkan keyakinan tersebut, menaklukkan Konstantinopel bukan saja menyangkut urusan negara tetapi juga menyangkut jihat yang kelak akan mendapat bantuan dari Allah SWT, dan mereka pun rela mati untuk perang tersebut.
Usaha menaklukkan Konstantinopel sudah dimulai sejak Muawiyah I berkuasa. Dia mengerahkan angkatan laut di bawah pimpinan putranya Yazid merebut kota itu (668- 669) tetapi usahanya gagal karena pertahanan kota yang kokoh dan mereka dari pihak musuh sudah menggunakan meriam Yunani.
Taktik yang dilakukan Muhammad II dalam menaklukkan Konstantinopel berbeda dengan yang dilakukan Sultan-sultan sebelumnya.
Jauh hari sebelum melakukan penaklukkan, Sultan Muhammad II terlebih dahulu membangun sebuah benteng yang tinggi yang diberi nama Runli Hisar. Benteng ini berada di seberang selat Borporus, dekat konstatinopel.
Kaisar Yunani mengirimkan utusan untuk menyampaikan protes kepada Sultan Muhammad II. Tetapi Sultan Muhammad II mengancam Kaisar dengan hukuman mati, sehingga Kaisar Yunani tidak berhasil menghentikan pembangunan benteng tersebut.
Baca juga: Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih
Fungsi benteng ini adalah sebagai tempat mengumpulkan persediaan perang untuk menyerang Konstantinopel. Pembangunan benteng tersebut memakan waktu selama tiga bulan.
Nilai strategis dari pembangunan benteng itu sangat tinggi sebab dengan di bangunnya benteng tersebut, Konstantinopel tidak mungkin lagi mendapat bantuan, baik peralatan perang, persediaan senjata, maupun bahan logistik lainnya dari Laut Hitam.
Lihat Juga :