Tragedi Karbala: Detik-Detik Syahidnya Sayyidina Husein bin Ali Cucu Rasulullah SAW
Sabtu, 13 Agustus 2022 - 14:54 WIB
Husein bertanya kepada Umar: "Apakah kau tidak takut kepada Allah?"
Umar menjawab: "Aku takut jika rumahku rusak".
"Aku akan menyediakan rumah bagimu," ujar Husein.
"Mereka akan mengambil hartaku," jawab Umar.
"Aku akan memberikan yang lebih baik dari pada yang mereka berikan kepadamu," janji Husein.
Ibnu A'tsam dalam bukunya berjudul "al-Futuh" menceritakan, mendapat tawaran Husein, Umar bin Sa'ad pun diam dan tidak memberikan jawaban apa-apa.
Husein sambil meninggalkan mereka bersabda: "Aku berharap kau tidak makan gandum Irak kecuali sedikit saja".
Umar bin Sa'ad berkata:" Apabila tidak ada gandum, maka akan ada ju (barley)".
Imam Husein berkata, “Bagaimana dengan dirimu sendiri? Allah akan segera mengambil jiwamu dan engkau tidak akan terampuni di hari kiamat. Apakah engkau mengira akan sampai pada pemerintahan Rey dan Gurgan? Demi Allah! Tidaklah demikian, karena engkau tidak akan pernah sampai pada keinginanmu.”
Baca juga: Doa Sa'ad bin Abi Waqqash Bukan untuk Dirinya Sendiri yang Buta
Kabilah Bani Asad
Di lain kesempatan, dalam upaya memperkuat pasukan, Habib bin Mazhahir meminta izin kepada Husein untuk mendekati kabilah Bani Asad yang hidup di dekat daerah itu dan mengajak mereka untuk bergabung. Beliau mengizinkan.
Habib kemudian mendatangi mereka dan berkata, “Ikutilah perintahku hari ini dan bergegaslah untuk membantu Husein supaya kalian berada dalam kemuliaan dunia dan akhirat.”
Sejumlah 90 orang bangkit dan bergerak menuju Karbala. Akan tetapi, di pertengahan jalan mereka bertemu dengan pasukan Umar bin Sa’ad, dan karena tidak memiliki pertahanan yang kuat, akhirnya mereka terpencar dan kembali ke rumah masing-masing.
Habib mendatangi Imam Husein dan menceritakan peristiwa ini. Beliau hanya berkata, “Laa haula wa laa quwwata illa billah.”
Dalam kondisi kritis ini, Husein berkirim surat dari Karbala kepada saudaranya Muhammad bin Hanafiyah dan Bani Hasyim. “Seakan dunia sama sekali tak pernah ada (dan demikian inilah dunia yang berkesudahan dan tanpa arti), sementara akhirat adalah senantiasa,” tulisnya.
Penggalan dari pidato Imam Husein kepada para sahabatnya, “Wahai para keturunan besar dan agung! Bersabarlah, karena kematian hanyalah sebuah jembatan tempat kalian akan melewati segala kesulitan dan penderitaan dan mengantarkan kalian ke surga yang luas dengan segala nikmatnya yang senantiasa.”
Pada hari Selasa, 7 Muharam 61 Hijriah terdata bahwa pasukan yang mengambil baju, senjata perang, dan gaji dari pemerintah Bani Umayyah dan siap untuk berperang melawan Husein berjumlah lebih dari 30 ribu orang.
Baca juga: Tragedi Karbala: Kisah Pasukan Yazid yang Membelot setelah Mendengar Pidato dan Doa Husein
Sungai Furat
Umar bin Sa’ad kembali mendapatkan sebuah surat dari Ubaidullah bin Ziyad dengan isi sebagai berikut, “Jadikanlah pasukanmu untuk memisahkan antara Husein dan sahabat-sahabatnya dengan sungai Furat, hingga tak ada setetes air pun yang sampai ke mereka, sebagaimana Utsman bin Affan dulu terhalangi dari air.”
Kemudian Umar bin Sa’ad menempatkan 500 pasukan penunggang kuda di sisi sungai Furat. Salah satu dari mereka berteriak, “Husein! Demi Allah, engkau tidak akan meminum air ini walau setetes pun hingga kehausan merenggut nyawamu.”
Imam Husein berkata, “Ilahi! Binasakan ia dengan kehausan dan jauhkan ia dari segala rahmat-Mu!”
Hamid bin Muslim mengatakan, "aku melihat dengan mataku sendiri bahwa kutukan Imam Husain betul-betul terlaksana."
Husein mengutuk pasukan musuh, “Ilahi!Tahanlah hujan-Mu dari mereka, ciptakan kesulitan dan kekeringan (sebagaimana tahun-tahun Yusuf), dan tempatkan budak Tsaqafi (Hajjaj bin Yusuf) untuk mereka supaya mereka merasakan pahitnya tegukan racun, dan ambilkan balas dendamku, para sahabatku, Ahlul Bait dan para pengikutku dari mereka.”
Keesokan harinya, rasa kehausan di kemah-kemah makin lama terasa semakin mencekik. Husein lalu memerintahkan saudaranya, Abbas, bersama beberapa orang untuk bergerak ke sungai Furat di malam hari. Dengan rencana yang matang, mereka berhasil mematahkan dan menerobos barisan musuh dan kembali ke kemah dengan kantong-kantong penuh air.
Pada Kamis, 9 Muharam 61 Hijriah Syimr mendatangi perkemahan Imam Husein. Selain memanggil Abbas dan putra-putra Ummul Banin lainnya, ia mengatakan, “Aku telah mengambil surat jaminan untuk kalian dari Ubaidullah.”
Umar menjawab: "Aku takut jika rumahku rusak".
"Aku akan menyediakan rumah bagimu," ujar Husein.
"Mereka akan mengambil hartaku," jawab Umar.
"Aku akan memberikan yang lebih baik dari pada yang mereka berikan kepadamu," janji Husein.
Ibnu A'tsam dalam bukunya berjudul "al-Futuh" menceritakan, mendapat tawaran Husein, Umar bin Sa'ad pun diam dan tidak memberikan jawaban apa-apa.
Husein sambil meninggalkan mereka bersabda: "Aku berharap kau tidak makan gandum Irak kecuali sedikit saja".
Umar bin Sa'ad berkata:" Apabila tidak ada gandum, maka akan ada ju (barley)".
Imam Husein berkata, “Bagaimana dengan dirimu sendiri? Allah akan segera mengambil jiwamu dan engkau tidak akan terampuni di hari kiamat. Apakah engkau mengira akan sampai pada pemerintahan Rey dan Gurgan? Demi Allah! Tidaklah demikian, karena engkau tidak akan pernah sampai pada keinginanmu.”
Baca juga: Doa Sa'ad bin Abi Waqqash Bukan untuk Dirinya Sendiri yang Buta
Kabilah Bani Asad
Di lain kesempatan, dalam upaya memperkuat pasukan, Habib bin Mazhahir meminta izin kepada Husein untuk mendekati kabilah Bani Asad yang hidup di dekat daerah itu dan mengajak mereka untuk bergabung. Beliau mengizinkan.
Habib kemudian mendatangi mereka dan berkata, “Ikutilah perintahku hari ini dan bergegaslah untuk membantu Husein supaya kalian berada dalam kemuliaan dunia dan akhirat.”
Sejumlah 90 orang bangkit dan bergerak menuju Karbala. Akan tetapi, di pertengahan jalan mereka bertemu dengan pasukan Umar bin Sa’ad, dan karena tidak memiliki pertahanan yang kuat, akhirnya mereka terpencar dan kembali ke rumah masing-masing.
Habib mendatangi Imam Husein dan menceritakan peristiwa ini. Beliau hanya berkata, “Laa haula wa laa quwwata illa billah.”
Dalam kondisi kritis ini, Husein berkirim surat dari Karbala kepada saudaranya Muhammad bin Hanafiyah dan Bani Hasyim. “Seakan dunia sama sekali tak pernah ada (dan demikian inilah dunia yang berkesudahan dan tanpa arti), sementara akhirat adalah senantiasa,” tulisnya.
Penggalan dari pidato Imam Husein kepada para sahabatnya, “Wahai para keturunan besar dan agung! Bersabarlah, karena kematian hanyalah sebuah jembatan tempat kalian akan melewati segala kesulitan dan penderitaan dan mengantarkan kalian ke surga yang luas dengan segala nikmatnya yang senantiasa.”
Pada hari Selasa, 7 Muharam 61 Hijriah terdata bahwa pasukan yang mengambil baju, senjata perang, dan gaji dari pemerintah Bani Umayyah dan siap untuk berperang melawan Husein berjumlah lebih dari 30 ribu orang.
Baca juga: Tragedi Karbala: Kisah Pasukan Yazid yang Membelot setelah Mendengar Pidato dan Doa Husein
Sungai Furat
Umar bin Sa’ad kembali mendapatkan sebuah surat dari Ubaidullah bin Ziyad dengan isi sebagai berikut, “Jadikanlah pasukanmu untuk memisahkan antara Husein dan sahabat-sahabatnya dengan sungai Furat, hingga tak ada setetes air pun yang sampai ke mereka, sebagaimana Utsman bin Affan dulu terhalangi dari air.”
Kemudian Umar bin Sa’ad menempatkan 500 pasukan penunggang kuda di sisi sungai Furat. Salah satu dari mereka berteriak, “Husein! Demi Allah, engkau tidak akan meminum air ini walau setetes pun hingga kehausan merenggut nyawamu.”
Imam Husein berkata, “Ilahi! Binasakan ia dengan kehausan dan jauhkan ia dari segala rahmat-Mu!”
Hamid bin Muslim mengatakan, "aku melihat dengan mataku sendiri bahwa kutukan Imam Husain betul-betul terlaksana."
Husein mengutuk pasukan musuh, “Ilahi!Tahanlah hujan-Mu dari mereka, ciptakan kesulitan dan kekeringan (sebagaimana tahun-tahun Yusuf), dan tempatkan budak Tsaqafi (Hajjaj bin Yusuf) untuk mereka supaya mereka merasakan pahitnya tegukan racun, dan ambilkan balas dendamku, para sahabatku, Ahlul Bait dan para pengikutku dari mereka.”
Keesokan harinya, rasa kehausan di kemah-kemah makin lama terasa semakin mencekik. Husein lalu memerintahkan saudaranya, Abbas, bersama beberapa orang untuk bergerak ke sungai Furat di malam hari. Dengan rencana yang matang, mereka berhasil mematahkan dan menerobos barisan musuh dan kembali ke kemah dengan kantong-kantong penuh air.
Pada Kamis, 9 Muharam 61 Hijriah Syimr mendatangi perkemahan Imam Husein. Selain memanggil Abbas dan putra-putra Ummul Banin lainnya, ia mengatakan, “Aku telah mengambil surat jaminan untuk kalian dari Ubaidullah.”
Lihat Juga :