Peristiwa Penting Rabiul Awal: Bulan Lahir dan Wafatnya Rasulullah SAW
Selasa, 27 September 2022 - 16:48 WIB
Selanjutnya, Nabi Muhammad dilantik menjadi nabi dan rasul juga pada bulan Rabiul Awal. Kala itu, beliau berusia 40 tahun. Maka dengan ini bermula dakwah baginda secara resmi di Mekkah al-Mukarramah.
Tatkala beliau sedang menyepi di dalam gua malaikat Jibril membawa sehelai lembaran seraya berkata kepadanya: "Bacalah!" Dengan terkejut beliau menjawab: "Saya tak dapat membaca".
Beliau merasa seolah malaikat itu mencekiknya, kemudian dilepaskan lagi seraya katanya lagi: "Bacalah!" Masih dalam ketakutan akan dicekik lagi beliau menjawab: "Apa yang akan saya baca."
Seterusnya malaikat itu berkata: "Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya ..." (Qur'an 96:1-5)
Lalu beliau mengucapkan bacaan itu. Malaikatpun pergi, setelah kata-kata itu terpateri dalam kalbunya. Peristiwa itu terjadi pada bulan Rabiual awal.
Baca juga: Peristiwa Bulan Safar: Perang Khaibar Akhiri Kekuasaan Yahudi di Jazirah Arab
Wafatnya Nabi Muhammad
Peristiwa ketiga pada bulan Rabiul Awal adalah wafatnya wafatnya Nabi Muhammad SAW yakni pada hari Senin 12 Rabiul Awal 11 Hijriah bersamaan 7 Juni 632 M.
Tatkala sakit beliau sudah makin parah Fatimah, puterinya, datang menemuinya dan mencium ayahnya. "Selamat datang, puteriku," kata Rasulullah SAW.
Lalu didudukkannya Fatimah di sampingnya. Ada kata-kata yang dibisikkannya ketika itu, Fatimah lalu menangis. Kemudian dibisikkannya kata-kata lain Fatimah pun jadi tertawa. Bila hal itu oleh Aisyah ditanyakan, Fatimah menjawab: "Sebenarnya saya tidak akan membuka rahasia Rasulullah SAW."
Akan tetapi setelah Rasulullah wafat, Fatimah mengatakan, bahwa ayahnya membisikkan kepadanya, bahwa ia akan meninggal oleh sakitnya sekali ini. Itu sebabnya Fatimah menangis. Kemudian dibisikkannya lagi, bahwa puterinya itulah dari keluarganya yang pertama kali akan menyusul. Itu sebabnya ia tertawa.
Karena panas demam yang tinggi itu, sebuah bejana berisi air dingin diletakkan di samping beliau. Sekali-sekali beliau meletakkan tangan ke dalam air itu lalu mengusapkannya ke muka.
Tatkala beliau sedang menyepi di dalam gua malaikat Jibril membawa sehelai lembaran seraya berkata kepadanya: "Bacalah!" Dengan terkejut beliau menjawab: "Saya tak dapat membaca".
Beliau merasa seolah malaikat itu mencekiknya, kemudian dilepaskan lagi seraya katanya lagi: "Bacalah!" Masih dalam ketakutan akan dicekik lagi beliau menjawab: "Apa yang akan saya baca."
Seterusnya malaikat itu berkata: "Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya ..." (Qur'an 96:1-5)
Lalu beliau mengucapkan bacaan itu. Malaikatpun pergi, setelah kata-kata itu terpateri dalam kalbunya. Peristiwa itu terjadi pada bulan Rabiual awal.
Baca juga: Peristiwa Bulan Safar: Perang Khaibar Akhiri Kekuasaan Yahudi di Jazirah Arab
Wafatnya Nabi Muhammad
Peristiwa ketiga pada bulan Rabiul Awal adalah wafatnya wafatnya Nabi Muhammad SAW yakni pada hari Senin 12 Rabiul Awal 11 Hijriah bersamaan 7 Juni 632 M.
Tatkala sakit beliau sudah makin parah Fatimah, puterinya, datang menemuinya dan mencium ayahnya. "Selamat datang, puteriku," kata Rasulullah SAW.
Lalu didudukkannya Fatimah di sampingnya. Ada kata-kata yang dibisikkannya ketika itu, Fatimah lalu menangis. Kemudian dibisikkannya kata-kata lain Fatimah pun jadi tertawa. Bila hal itu oleh Aisyah ditanyakan, Fatimah menjawab: "Sebenarnya saya tidak akan membuka rahasia Rasulullah SAW."
Akan tetapi setelah Rasulullah wafat, Fatimah mengatakan, bahwa ayahnya membisikkan kepadanya, bahwa ia akan meninggal oleh sakitnya sekali ini. Itu sebabnya Fatimah menangis. Kemudian dibisikkannya lagi, bahwa puterinya itulah dari keluarganya yang pertama kali akan menyusul. Itu sebabnya ia tertawa.
Karena panas demam yang tinggi itu, sebuah bejana berisi air dingin diletakkan di samping beliau. Sekali-sekali beliau meletakkan tangan ke dalam air itu lalu mengusapkannya ke muka.
Lihat Juga :